Breaking News:

Opini

Santri Dayah Memang Semakin Meningkat

Dayah memang bukan lembaga pendidikan yang suci dan terlepas dari kesalahan. Sebab dayah jelas adalah institusi manusia, bukan malaikat

Santri Dayah Memang Semakin Meningkat
IST
Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Ketua 1 Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

(Tanggapan untuk Dr. Rita Khathir, M.Sc)

Oleh Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Ketua 1 Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Dayah memang bukan lembaga pendidikan yang suci dan terlepas dari kesalahan. Sebab dayah jelas adalah institusi manusia, bukan malaikat. Maka segala perhatian dan kritikan konstruktif semua pihak selalu dihargai agar dayah dapat terus berbenah menjadi benteng pertahanan masyarakat Aceh dari segala pengaruh luar yang buruk. Namun, segala kritikan untuk dayah harus berbasiskan data yang akurat. Apalagi jika kritikan itu dilakukan oleh insan kampus yang notabenenya pasti tahu pertanggungjawaban intelektual-akademik atas setiap kalimat yang dikeluarkan.

Pernyataan Dr. Rita Khathir di Serambi Indonesia, edisi 7 Maret 2021 tentang dayah terkesan mendiskreditkan. Dalam artikelnya berjudul "Kenapa Wabah Korupsi Lestari?", ketika membahas dayah Rita Khathir (RK) mengaku memperoleh informasi tentang "kasus penggelembungan nama santri dengan tujuan mendapat dana operasional dayah". Saya ingin menanggapi pernyataan ini berdasarkan pengatahuan saya serta berdasarkan informasi yang saya lacak ke sejumlah stakeholder terkait.

Pertama, bahwa hingga sejauh ini tidak ada yang namanya dana bantuan operasional dayah. Dayah-dayah di Aceh tidak pernah menerima dana untuk operasional kecuali empat dayah perbatasan dan Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) yang pemilik dan pengelolanya adalah pemerintah Aceh. Kedua, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa jumlah peminat pendidikan dayah di Aceh setiap tahun justru semakin meningkat.

Jadi bagaimana mungkin RK menyebut dayah-dayah di Aceh telah melakukan penggelembungan jumlah santri untuk tujuan memperoleh dana operasional? Kan aneh? Dan bertambah aneh lagi ketika RK justru menyebut bahwa penggelembungan jumlah santri dipraktekkan oleh hampir seluruh lembaga dayah di Aceh. Data dari mana yang diperoleh RK bahwa hampir seluruh dayah di Aceh melakukan penggelembungan jumlah santri?

Mungkin saja RK menerima data yang salah sehingga timbul pemikiran negatif seperti itu. Sebab, jika tidak ada akurat maka pernyataan itu dinilai sangat merugikan pihak dayah. Padahal dayah telah berperan dalam jangka waktu yang lama sebagai subsistem kehidupan masyarakat Aceh. Dayah telah menjadi institusi pendidikan yang mampu dijangkau oleh kelas masyarakat paling miskin sekalipun. Apalagi RK juga ikut menyeret ulama besar di Aceh ketika ia mengatakan bahwa "Strategi ini (penggelembungan jumlah santri) dipraktekkan oleh hampir seluruh lembaga dayah di Aceh, sekalipun dipimpin oleh ulama besar".

Pernyataan RK ini menegaskan bahwa dayah-dayah yang dipimpin ulama besar di Aceh saja sudah demikian rusak oleh korupsi. Saya ingin menyebut sejumlah nama-nama ulama besar produk dayah di Aceh saat ini supaya kita langsung ke inti. Tercatat sejumlah nama ulama besar di Aceh yang memimpin dayah yaitu seperti Abu Mudi di Samalanga, Abu Kuta Krueng di Kuta Krueng, Abu Ulee Titi di Aceh Besar, Abu Paya Pasi di Aceh Timur, Tu Sop di Jeunieb, Ayah Cot di  Aceh Utara, Waled Marhaban di Aceh Selatan, dan lainnya.

Di sini saya kira kita tidak perlu berbicara tentang jumlah santri dayah di Aceh menurut data dari stakholder dayah sebab memang tuduhannya adalah penggelembungan data jumlah santri. Tapi ketahuilah, bahwa dayah-dayah yang dipimpin ulama-ulama besar Aceh yang saya sebutkan di atas itu jumlah santrinya demikian membludak dari tahun ke tahun.

Cobalah sesekali saudari RK datang ke dayah-dayah dan lihatlah jumlah santri di sana yang justru semakin membludak menunjukkan masyarakat kita semakin percaya kepada pendidikan di dayah. Jika bersedia, lihat dan temukanlah juga hal-hal baik di sana.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved