Breaking News:

Opini

Aceh Sebagai Modal dan Model Indonesia

ACEH merupakan daerah istimewa dari salah satu propinsi di Indonesia diberi kewenangan otonomi khusus yang diatur dengan undang-undang

Aceh Sebagai Modal dan Model Indonesia
IST
Rektor Unimal Profesor Apridar

Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si
Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan UNIMAL Aceh

ACEH merupakan daerah istimewa dari salah satu propinsi di Indonesia diberi kewenangan otonomi khusus yang diatur dengan undang-undang. Propinsi yang terletak di ujung pulau Sumatera yang juga tercatat sebagai daerah mulai perhitungan kilometer nol dari total luas 5.193.250 km2 Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, propinsi tersebut dikuatkan kembali sebagai Daerah Istimewa.

Sejak Kesultanan Malikussaleh abad ke-13 hingga abad ke-17 Sultan Iskandar Muda merupakan masa-masa puncak kejayaan Kesultanan di Aceh. Pengaruh agama dan budaya Islam begitu besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh, sehingga mendapat julukan sebagai "Seuramo Mekkah" (Serambi Mekkah). Ketaatan yang merujuk terhadap Alquran dan Sunnah membawa daerah tersebut berkah, maju dan berkembang pesat sehingga kedatangan banyak kedatangan penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia belajar agama khususnya ke Aceh.

Berdasarkan data Badan Statistik Indonesia tahun 2019, luas daerah Propinsi Aceh 5.795.600 ha (57.956 km2) yang terdiri 331 pulau merupakan 3,02 persen dari luas Indonesia. Jumlah penduduk dari propinsi ujung pulau Sumatera ini sekitar 5.459.891 jiwa, letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar India yang dipisahkan oleh Laut Andaman. Aceh merupakan tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia serta ke Asia Tenggara merupakan kesultanan atau negara terkaya, terkuat dan termakmur di Selat Malaka.

Sejarah mencatat Aceh diwarnai kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia. Wilayah yang sangat konservatif yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai Islam tersebut penduduknya hidup sesuai syariah Islam. Dengan keberkahan Aceh memiliki sumberdaya alam yang melimpah terutama minyak bumi dan gas alam. Dari berbagai analisis memperkirakan cadangan gas alam Aceh adalah yang terbesar di dunia.

Di sampaing itu juga terkenal dengan hutanya yang lebat sepanjang jajaran Bukit Barisan dari Kutacane di Aceh Tenggara sampai Ulu Masen di Aceh Jaya yaitu terdapat taman nasional bernama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sehingga menjadi paru-paru dunia. Ketika penjajah dari Belanda sudah dapat menduduki semua daerah di Indonesia kecuali Aceh.

Untuk melegalkan Indonesia sebagai daerah jajahannya yang dijadikan sebagai bagian dari Negara Belanda, Aceh tampil sebagai penyanggah utama untuk mengeleminir ketentuan tersebut. Dimana Aceh yang luas daerahnya lebih basar dari negara Belanda yang tidak mampu diduduki secara penuh, sehingga pupuslah harapan penjajah tersebut untuk mengambil daerah jajahanya sebagai bahagian dari negara mereka, karena tidak mampu menunjukkan bahwa semua daerah telah tunduk kepada Belanda sebagai salah satu prasarat yang harus dimiliki.

Perilaku heroik yang diperlihatkan masyarakat Aceh ketika itu, merupakan bagian dari ajaran agama yang mewajibkan membela agama, nusa dan bangsa hingga tetes darah terakhir yaitu syahid. Kematian akibat membela agama, nusa dan bangsa tidak pernah ditakuti sedikitpun oleh umat muslim. Hanya kaum munafik yang mengaku muslim dikarenakan ada kepentingan nafsu pribadi yang takut mati dalam laga peperangan. Terbentuknya Korps Marsose yang begitu kejam oleh penjajah yang berkolaborasi dengan kaum munafik yang tergiur terhadap materi serta jabatan yang dijanjikan, tidak membuat masyarakat Aceh kendor dalam mempertahankan bangsa dan negara.

Sikap kesatria sejalan dengan tuntunan agama yang telah mendarah daging merupakan contoh perilaku yang diturunkan kepada para pejuang kesuma bangsa. Menghembus nafas terahir dalam keada syahit, merupakan keinginan dari para pejuang Aceh. Sehingga perilaku yang sangat mulia tersebut, merupakan sikap mental yang harus ditertanam dalam sanubari para pejuang agar termotivasi untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Berbagai prestasi yang telah di diukir Aceh, merupakan modal yang membuat Indonesia dapat tampil sebagai negara yang berperadaban serta diakui oleh berbagai belahan dunia. Torehan mulia dari pendahulu tersebut, seharusnya dapat dilanjutkan oleh masyarakat Aceh sekarang ini yang dalam jiwanya mengalir darah para suhada yang mampu berbuat sikap terbaik untuk agama, nusa dan bangsa. Bangsa yang bijak adalah bangsa yang menghargai sejarah, dimana ukiran prestasi harus selalu dikenang sebagai tonggak dalam melangkah kedepan dengan optimis.

Sejarah pendahulu bukan hanya untuk dibangga-banggakan sebagai prestasi untuk menyombongkan diri terhadap garis keturunan, namun kejadian tersebut seharusnya digunakan sebagi pemicu semangat untuk berbuat yang lebih baik dari prestasi terdahulu. Bila tidak mampu berbuat, maka generasi tersebut berada dalam golongan orang-orang yang merugi. Apalagi prestasi yang terjadi sekarang lebih jelek dari sebelumnya, maka keadaan tersebut masuk dalam katagori golongan cilaka. Masyarakat Aceh dahulunya sangat iklas mewakafkan harta bendanya untuk masjid, lembaga pendidikan serta fasilitas umum yang bermanfaat.

Sehingga banyak sekali pembangunan yang mampu dilakukan dalam mencerdaskan anak bangsa. Perilaku positif yang sudah menjadi model pembangunan dalam masyarakat sekarang ini sudah mulai jarang dan menurun. Bahkan ada oknum yang mengaku sebagai pewaris yang mencoba membatalkan kembali berbagai wakaf untuk kemaslahatan yang telah dilakukan oleh orang tuanya, hal tersebut membuat keberkahan dalam kehidupan masyarakat sekarang ini terasa semakin sirna. Banyak konsep pembangunan diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang sangat baik dan berkembang, merupakan hasil dari ijtihad para ilmuan atau ulama Aceh.

Keberadaan "Aceh Development Board (ADB)" sebagai lembaga perencanaan pembangunan yang didirikan Prof. A. Madjid Ibrahim pertama sekali yaitu periode 1968 s.d 1975 sekaligus beliau sebagai ketua kala itu merupakan lembaga yang sangat visioner. Konsep brilian tersebut kemudan digunakan sebagai model atau contoh terhadap lahirnya Badan Perencanaan Nasional Republik Indonesia (Bappenas RI). Dalam mengisi pembangunan prilaku jujur serta kerja keras yang telah ditunjukkan para pendahulu seharusnya dapat diteruskan oleh generasi milenial Aceh sekarang. Tekat untuk melahirkan berbagai inovasi dan prestasi dibidang yang digeluti harus mampu diwujudkan.

Prilaku malas dan sudah membudaya dengan menghabiskan banyak waktu nongkrong di warungwarung untuk bergunjing terhadap hal yang tidak diperlukan perlu segera dihilangkan. Sikap saling menghargai dan jauh dari "kueh" (iri hati) merupakan prilaku bijak yang perlu dihidupkan kembali dalam tatanan kehidupan masyarakat Aceh, agar hidup damai sejahtera "baldatun toyyibatun warobbun ghafur" di Nanggro Aceh Darussalam dapat kita raih kembali. Berbagai kebajikan serta inovasi yang telah dilakonkan hendaknya dijadikan sebagai modal dan model dalam membangun peradaban bangsa dan negara yang kita cintai ini. (apridar@ unimal.ac.id)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved