Dua Fotografer Lingkungan Pamerkan Potret Hutan Aceh
Dua fotografer lingkungan di Banda Aceh, Junaidi Hanafiah dan Zulfan Monika akan menggelar pameran secara daring bertajuk ‘Hilang Tak Terganti’
BANDA ACEH - Dua fotografer lingkungan di Banda Aceh, Junaidi Hanafiah dan Zulfan Monika akan menggelar pameran secara daring bertajuk ‘Hilang Tak Terganti’ melalui kanal YouTube Fendra Tryshanie, Minggu (21/3/2021), pukul 19.30 WIB.
Sekitar 100 lembar foto akan ditampilkan pada pameran yang memamerkan potret hutan Aceh yang direkam oleh keduanya dalam satu dekade terakhir. Foto yang dipamerkan tersebut masing-masing direkam oleh Junaidi Hanafiah sejak 2008 dan Zulfan Monika sejak 2007.
Keduanya bukan hanya mengabadikan kekayaan dan keberagaman isi hutan Aceh, melainkan juga kerusakan hutan yang makin meningkat dalam beberapa tahun ini. Perburuan satwa dilindungi yang terjadi saban tahun di Aceh juga tidak luput disorot oleh keduanya.
Selama keluar masuk hutan dalam sedekade ini, Junaidi Hanafiah menuturkan sering terkendala dengan akses yang sulit dan tantangan berat. Misalnya, ketika ia memasuki kawasan hutan yang baru saja dirambah secara liar atau pertambangan ilegal dalam kawasan hutan lindung.
"Memasuki kawasan-kawasan seperti itu sangat sulit, selain medan yang berat, juga berbahaya kalau seandainya keberadaan saya sebagai fotografer diketahui perambah atau penambang liar," ujar Junaidi, satu diantara jurnalis yang fokus meliput isu lingkungan di Aceh, Rabu (17/3/2021).
Dalam sepuluh tahun ini, tambah Junaidi, banyak perubahan terjadi di hutan Aceh. Misalnya, luas tutupan hutan berkurang dan beberapa jenis satwa kini mulai sulit ditemukan. "Seperti jenis-jenis burung dan satwa yang sangat terancam punah, salah satunya burung murai batu sudah sangat sulit ditemukan di hutan," tuturnya.
Melalui pameran itu, Junaidi ingin memperlihatkan wajah hutan Aceh yang sudah sekarat sehingga membutuhkan kepedulian semua pihak dengan menjadikan perkara lingkungan sebagai isu penting. "Kejahatan lingkungan juga harus menjadi kejahatan yang luar biasa, sama dengan korupsi dan narkoba," sebutnya.
Sementara Zulfan Monika merekam tumbuhan dan satwa yang beragam dalam hutan Aceh. Menurutnya, suatu saat keindahan rimba Aceh tersebut akan hilang seiring maraknya kejahatan lingkungan. Ia pun mengaku sering bertemu dengan pemburu ketika sering memotret di dalam hutan.
"Dalam hutan, kami seperti berlomba dengan pemburu. Kadang-kadang pada saat menunggu satwa muncul, justru yang datang adalah pemburu. Bahkan, sampai terjadi keributan," ujar Fotografer nature ini.
Keberadaan pemburu ini, menurut Zulfan membuat sejumlah satwa dilindungi makin sulit ditemukan dalam rimba. Ia mencontohkan burung rangkong gading yang dulu sering terlihat ketika melintas di jalan yang sisi kiri dan kanannya hutan. Namun, kini suara khas burung itu saja menjadi hal yang sulit ditemukan, bahkan dalam hutan.
"Melalui pameran ini kami mencoba menggugah semua pihak untuk menyelamatkan hutan Aceh yang tersisa ini. Kalau ini hilang, bukan hanya Aceh akan kehilangan kekayaan hutannya, melainkan kita juga akan menuai bencana," kata Zulfan.
Zulfan menaruh harapan besar pada Pemerintah Aceh agar mempunyai keinginan merawat hutan Aceh melalui kebijakan. Sementara anak muda Aceh yang bergiat pada bidang multimedia diharapkan ikut merekam kekayaan hutan Aceh. "Harapannya kita punya data lengkap tentang isi hutan Aceh, karena yang hilang di hutan Aceh tidak akan terganti," sebutnya.(una)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dua-fotografer-lingkungan-adakan-pameran-bertajuk-hilang-tak-terganti.jpg)