Breaking News:

Jurnalisme Warga

Ketika Guru Harus Menilai

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) resmi menghapus Ujian Nasional (UN) tahun 2021

Ketika Guru Harus Menilai
IST
NELLIANI, M.Pd., Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Darussalam, Kabupaten Aceh Besar

OLEH NELLIANI, M.Pd., Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Darussalam, Kabupaten Aceh Besar

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) resmi menghapus Ujian Nasional (UN) tahun 2021. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 1 Tahun 2021 tentang Peniadaan Ujian Nasional dan Ujian Kesetaraan.

Berdasarkan SE tersebut, UN dan Ujian Kesetaraan tahun 2021 bukan lagi menjadi syarat kelulusan atau seleksi masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Kini, kelulusan peserta didik sepenuhnya ditentukan oleh guru dan sekolah melalui penilaian selama proses pembelajaran.

Menurut aturan tersebut, ada beberapa kriteria peserta didik dapat dinyatakan lulus dari program/satuan pendidikan. Pertama, menyelesaikan program pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yang dibuktikan dengan rapor setiap semester. Kedua, memperoleh nilai sikap/perilaku minimal bernilai baik, dan terakhir mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Adapun bentuk-bentuk ujian, antara lain, portofolio berupa evaluasi atas nilai rapor, nilai sikap atau prestasi sebelumnya, penugasan, tes, maupun bentuk penilaian lain yang ditentukan oleh satuan pendidikan.

Seiring dengan dihapusnya UN dan kelulusan peserta didik menjadi hak otonom sekolah dan guru membuat tantangan guru semakin besar. Guru dituntut tidak hanya mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga harus memiliki kemampuan serta keterampilan melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Hasil penilaian tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang valid, objektif, dan adil tentang kemajuan belajar siswa.

Selain itu, dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting, seperti penentuan naik tidaknya ke jenjang kelas yang lebih tinggi atau kelulusan peserta didik.

Dalam sistem pendidikan nasional, penilaian hasil belajar siswa menggunakan klasifikasi yang dikemukakan oleh pakar psikologi pendidikan Benjamin S Bloom.

Menurut Bloom, seorang peserta didik dapat dinilai hasil belajarnya berdasarkan tiga ranah penilaian, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah kognitif adalah aspek tingkah laku yang menekankan pada kemampuan intelektual, penguasaan pengetahuan, dan keterampilan berpikir seperti memahami, mengaplikasikan gagasan, menganalisis, dan sebagainya.

Ranah afektif berisi perilaku yang menekankan pada aspek sikap dan nilai. Sedangkan  ranah psikomotorik adalah aspek tingkah laku yang berfokus pada keterampilan motorik atau kemampuan bertindak setelah peserta didik menerima pengalaman belajar tertentu.

Penilaian ketiga domain tersebut dapat dilakukan saat proses kegiatan belajar-mengajar. Mengenai teknik dan metode yang digunakan setiap guru memiliki cara yang berbeda sesuai kompetensi yang dinilai. Misalnya, untuk menilai kemampuan pengetahuan (kognitif) dapat dilakukan dengan penugasan, ulangan, ujian tengah semester maupun ujian akhir semester.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved