Breaking News:

Salam

Tambang Emas Makan Korban Lagi, Kapan Tertibnya?

Sebuah tambang emas tradisional di Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, ambruk dan menimbun delapan orang penambang

For Serambinews.com
Sebanyak 8 orang penambang emas di lokasi tambang PT PSU Gampong Simpang Dua, Kemukiman Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, tertimbun longsor. Dua diantaranya dikabarkan meninggal dunia. Insiden  tersebut terjadi Minggu 14 Maret 2021, sekira pukul 02.00 WIB. 

Sebuah tambang emas tradisional di Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, ambruk dan menimbun delapan orang penambang di dalamnya. Enam selamat dan dua lainnya meninggal dunia dalam peristiwa yang terjadi  Minggu (14/3/2021) dini hari.

Aktivitas penggalian mencari emas di kawasan itu biasanya dimulai sekitar pukul 18.00 sore hingga pukul 06.00 WIB pagi. Para penambang kebanyakan berasal dari luar daerah. Kecelakaan  nyaris serupa juga pernah pernah terjadi beberapa waktu lalu di kawasan tersebut.

Polisi dan tim dari  Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh datang ke lokasi untuk melihat dan menyelidiki lokasi peristiwa yang merenggut dua nyawa serta melukai beberapa penambang lainnya.

Sejak 20-an tahun terakhir, di Aceh memang muncul banyak penambangan emas yang awalnya dilakukan secara tradisional oleh masyarakat lokal. Namun,  belakangan penambangan yang sebagiannya liar itu sudah dilakukan menggunakan alat-alat berat seperti beko, loader, dan lain-lain. Para penambang pun didatangkan dari luar Aceh yang umumnya sudah berpengalaman dan tentu saja berani. Ini mengindikasikan pula bahwa sudah ada cukong-cukong di belakang pekerja tambang itu. Keberadaan cukong pun menjadi faktor penghambat penertiban penambangan emas secara liar di Aceh.

Di Aceh, lokasi penambangan emas oleh masyarakat antara lain di kawasan Gunong Ujeuen (Kabupaten Aceh Jaya), Nagan Raya, kawasan Geumpang (Kabupaten Pidie), Manggamat (Kabupaten Aceh Selatan), dan lainnya. Dalam proses penambangan yang tentu saja tidak memenuhi standar keselamatan kerja sudah sering terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa para pekerja tambang. Mereka umumnya tertimbun di lubang-lubang yang mereka gali sendiri. Dalam sepuluh tahun terakhir, ada puluhan orang yang meninggal. Selain karena kecelakaan, banyak juga pekerja yang meninggal karena terserang penyakit khas di lokasi penambangan, antara lain malaria dan demam berdarah.

Berkali-kali sudah pemerintah daerah berusaha menertibkan penambangan emas yang berisiko itu. Tapi,  hasilnya tidak jelas. Satu penelitian menjelaskan, UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, mewajibkan setiap masyarakat yang melakukan kegiatan pertambangan untuk memiliki izin pertambangan rakyat (IPR) yang diterbitkan pemerintah daerah. Akan tetapi, sulitnya mekanisme penerbitan IPR menyebabkan masyarakat enggan mengajukan IPR, akibatnya praktek penambangan emas ilegal semakin marak terjadi di Indonesia.

Dan, penambangan-penambangan itu menimbulkan keresahan masyarakat. Sebab, dampak yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut dapat dirasakan secara fisik. Antara lain terjadi kerusakan ekosistem lingkungan hidup, pencemaran air sungai dan tanah, kecelakaan tambang hingga penyebaran penyakit akibat penggunaan bahan kimia berbahaya dalam proses penambangan emas oleh masyarakat itu. Sedangkan dampak nonfisik antara lain hilangnya pendapatan pemerintah dari sektor pertambangan, iklim investasi yang tidak kondusif hingga timbulnya konflik sosial.

Kita melihat, selain dihadapkan pada problematika mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat penambang, maraknya praktek penambangan emas ilegal, bisa jadi juga disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan. Ditambah lagi, masih lekatnya budaya hukum adat yang mengakui penguasaan atas tanah adat/ulayat.

Mencermati kompleksitas permasalahan terkait aktivitas penambangan emas ilegal yang marak, maka penanggulangannya jangan mengandalkan upaya penegakan hukum semata. Akan tetapi, dalam proses penertiban penambangan liar, pemerintah perlu memperhatikan aspek-aspek kepentingan masyarakat, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip praktek penambangan yang baik dan benar (good mining practice).

Prinsipnya, lingkungan tak boleh tercemar oleh zat-zat kimi berbhaya yang dipakai dalam proses penambangan emas secara liar. Penggalian juga tak boleh sampai merusak struktur tanah yang kemudian bisa menimbulkan bencana-bencana lainnya, seperti tanah longsor.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved