Breaking News:

Jurnalisme Warga

Nurdin A Birton, Miliuner Jujur yang Low Profile

Birton di belakang namanya bukan marga, juga bukan nama keluarga, melainkan akronim dari Bireuen-Pulo Kiton, tanah kelahirannya

Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M. Si., Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia dan Guru Besar Ilmu Ekonomi Unimal Aceh, melaporkan dari Bireuen 

OLEH Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M. Si., Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia dan Guru Besar Ilmu Ekonomi Unimal Aceh, melaporkan dari Bireuen

Di Bireuen, Aceh, ada seorang pria hebat, hidupnya makmur, punya beberapa usaha dan banyak karyawan, serta sangat dipercaya oleh pihak bank. Meski bukan dosen atau guru, ia insan akademis yang mewakafkan dirinya sebagai entrepreneur secara totalitas tanpa meninggalkan edukasi sebagai roh dari usaha yang digeluti agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Dia sarjana ekonomi akuntansi lulusan Universitas Syiah Kuala (USK) dan selalu berusaha menjalankan bisnis secara profesional dengan penuh optimistik dan tertib pembukuannya. Dialah Nurdin A Birton. Birton di belakang namanya bukan marga, juga bukan nama keluarga, melainkan akronim dari Bireuen-Pulo Kiton, tanah kelahirannya.

Setamat kuliah di Banda Aceh, di Bireuenlah Nurdin bermukim dan mencari nafkah. Kota Juang ini terlalu baik baginya. Sosok yang sederhana, jujur, dan ringan tangan dalam membantu berbagai kalangan ini membuat ia disenangi semua kalangan. Selaku entrepreneur sejati ia tak pernah canggung dalam merintis berbagai usaha bisnis dengan sepenuh hati.

Entrepreneur seperti Nurdin sering berpikir di luar kotak kebiasaan orang lain dan optimisme tanpa ragu dalam merealisasikan ide-idenya. Keterbatasan pengetahuan, aset, dan modal tidak menjadi hambatan baginya dalam membangun bisnis. Ia selalu punya cara yang halal untuk dapat menjalankanya.

Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad saw, sang pebisnis ulung yang sukses, bahwa mental mandiri dan pantang menyerah sejak anak-anak itulah awal mula kesuksesan. Muhammad muda telah hidup berdikari sebagai penggembala kambing untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Usia 12 tahun beliau sudah berwirausaha bersama pamannya, Abu Thalib, dan ikut dalam rombongan dagang ke Suriah (Syam).

Di usia 17 tahun Muhammad sudah mahir berdagang bukan hanya ke Syam, bahkan menjadi pemimpin kafilah dagang ke Yordania, Busra, Bahrain, Irak, Hijaz, dan Yaman. Begitu pula halnya dengan Nurdin yang merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Banda Aceh tahun 1980-an. Sosok gigih dan idealis ini menjadikan peran yang dimainkan Muhammad saw sebagai panutan baginya dalam menjalankan usaha bisnisnya secara totalitas.

Kerja keras dan jujur merupakan kunci utama baginya dalam membangun usaha secara berkelanjutan.  Jaringan serta koneksi yang ia miliki tidak membuatnya tergiur menjadi pegawai negeri sipil atau berbagai jabatan prestisius lainnya yang ditawarkan kepadanya. Tawaran menjadi PNS dari kolega dan berbagai pihak selalu ia tolak. Nurdin lebih memilih untuk berkebun di  Pucok Alue, sekitar 15 km ke arah Bukit Barisan dari Bireuen. Kebun yang dibiayai dari pinjaman keluarga itu awalnya merugi karena saat panen harga cabai justru turun drastis.

Jatuh bangun dalam membuka usaha sering beliau rasakan, tetapi tak membuatnya patah semangat. Ia bangkit kembali sebagai inisiator kewirausahaan dan kerugian yang beliau alami sering ia analogikan sebagai biaya atau “SPP dalam menjalankan pendidikan kewirausahaan”. Untung rugi merupakan proses alami yang membuatnya lebih kuat dan percaya diri dalam menjalankan usaha untuk lebih gigih lagi.  

Pernah suatu waktu di Bireuen bank menyita sebuah SPBU karena pemiliknya mengalami kredit macet. Ironisnya, nilai asetnya lebih kecil dibanding pembiayaan yang telah dikucurkan bank. Hal itu mendorong pihak bank mencari pengusaha jujur yang mau “take over” usaha SPBU tersebut dengan harapan dapat menyeselesaikan kredit macet yang dialami pemiliknya. 

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved