Breaking News:

Opini

Bukan Sekadar Bercerita

ACEH adalah negeri seribu hikayat. Banyak kisah di Aceh dijadikan sebagai sebuah hikayat, lalu menjelma menjadi pedoman kehidupan

Bukan Sekadar Bercerita
IST
Herman RN, Dosen Universitas Syiah Kuala Berkhidmah pada kerja-kerja sosial dan kebudayaan

Mencermati doa-doa dalam syair tersebut, kiranya wajar para pemimpin Aceh pada zaman dahulu senantiasa menjadi panutan, teladan, bahkan sumber ketakziman.

Berbeda dengan pemimpin zaman sekarang yang menjadi objek umpatan, cacian, bahkan fitnahan.

Kemahiran membawa kisah atau cerita sudah dilakoni oleh setiap ibu di Aceh sejak dulu. Demkian pula sang ayah, seorang ayah di Aceh pada zaman dahulu adalah seorang penutur kisah yang andal. Ketika pergi melaut, seorang ayah yang berprofesi nelayan kerap mendendangkan kisah-kisah dan harapan-harapan agar dapat membawa pulang rezeki (ikan) yang banyak. Kebiasaan ini disebut muba-e. Seorang ayah yang sedang istirahat di jambo blang (gubuk sawah), sudah terbiasa merateb sembari melepas penat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa orang Aceh adalah penutur cerita yang luar biasa hebatnya. Jika setiap ibu di Aceh mahir membawa cerita dalam bentuk syair, setiap ayah di Aceh terampil membawa kisah dalam bentuk hikayat.

Statemen ini tentu tidak berlebihan, mengingat hampir setiap kampung di Aceh menyimpan segudang hikayat. Asal mula kampung dituturkan dalam sebuah kisah.

Karakter seorang anak pun disampaikan melalui sebuah kisah. Kisah-kisah tersebut ada yang diyakini pernah terjadi, ada juga yang memang berupa dongeng, tidak dapat dibuktikan kejadiannya.

Begitulah orang Aceh zaman dahulu. Segala kejadian dijadikan kisah. Semua peristiwa disulap jadi cerita. Tujuannya bukan sekadar bercerita, melainkan punya nilai, mulai nilai penguatan karakter hingga nilai-nilai religus yang dapat menjadi pondasi berpikir, bertindak, dan berkehidupan yang layak.

                                                                                                                                                                  Pendidikan Karakter

Sudah menjadi kebiasaan orang Aceh, mendidik anak sejak dalam kandungan hingga ke liang lahat. Pendidikan bagi orang Aceh adalah napas kehidupan. Maka itu, sejak ruh mulai ditiupkan (dalam kandungan), pendidikan sudah mulai diberikan.

Pendidikan karakter sejak dalam kandungan hingga masa ayunan dilakukan melalui syair doda idi atau dikenal dengan peuayon aneuk. Setelah anak mulai masuk sekolah, kisah-kisah edukatif mulai disampaikan oleh para nenek. Sambil menidurkan cucunya, entah di pangkuan atau tidur sebantal bersama, sang nenek menyampaikan

berbagai kisah kepada cucunya. Dalam setiap kisah, senantiasa ada pendidikan karakter dan nilai religius. Lagi-lagi hal ini semata agar pendidikan karakter dan agama tidak pernah putus dalam napas kehidupan orang Aceh.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved