Breaking News:

Opini

Bukan Sekadar Bercerita

ACEH adalah negeri seribu hikayat. Banyak kisah di Aceh dijadikan sebagai sebuah hikayat, lalu menjelma menjadi pedoman kehidupan

Bukan Sekadar Bercerita
IST
Herman RN, Dosen Universitas Syiah Kuala Berkhidmah pada kerja-kerja sosial dan kebudayaan

Masalah yang muncul sekarang bahwa kebiasaan menidurkan anak dengan syair atau petuah sudah mulai dilupakan orang Aceh. Banyak kaum ibu milenial, lebih memilih menidurkan anak dengan musik yang sudah terinstal pada mesin ayunan. Jika tidak ada musik pada ayunan, si ibu cukup menghidupkan channel youtube pada handpone-nya.

Tentu saja hal ini sebuah penurunan moral dan etika. Sang ibu sudah tidak menghargai lagi kisah-kisah yang sudah hidup turun temurun di Aceh. Karena mau instan, banyak karya orang yang diperdengarkan pada anaknya. Padahal, belum tentu karya orang itu layak dan sesuai bagi anak-anak Aceh.

Hal yang sedikit menggemberikan sekarang tatkala munculnya lomba mendongeng atau kompetisi bercerita. Lomba mendongeng ini digagas beberapa instansi. Hanya saja, terkadang kurang terawat sehingga kurang berlangsung secara kontinyu.

Sebuah apresiasi bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) yang setiap tahun menyelenggarakan lomba mendongeng secara disiplin. Lomba yang digelar berjenjang, mulai tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional ini menjadi cikal bakal kembalinya tradisi bercerita dalam masyarakat Aceh. Oleh karenanya, guru atau pelatih di sekolah-sekolah perlu mempersiapkan beragam cerita rakyat untuk dibawakan si anak dalam lomba tersebut. Jangan sampai, setiap tahun kabupaten tertentu hanya menyediakan cerita itu-itu saja bagi si anak.

DPKA pun perlu kiranya mengadakan lomba menulis cerita rakyat, di samping lomba mendongeng. Tujuan lomba menulis cerita rakyat tentu saja untuk mendokumentasikan cerita rakyat yang tersebar, terutama yang belum ditulis. Cerita-cerita itu tersimpan di pelosok, tersembunyi di benak para nenek, terselip dalam imajinasi para kakek. Semua perlu didokumentasikan kembali dalam bentuk tulisan

sehingga ada bahan untuk dibaca atau dibawakan dalam lomba mendongeng yang diselenggarakan setiap tahun.

Pada akhirnya, lomba menulis dan membawa cerita rakyat akan menjadi landasan membangkitkan kembali seribu hikayat di Aceh yang selama ini mulai dilupakan. Barangkali, peran bunda baca yang digagas oleh DPKA dapat memfasilitasi dan memediasi munculnya kembali cerita rakyat sebagai bahan bacaaan anak-anak Aceh. Jangan sampai bahwa Aceh sebagai negeri seribu hikayat hanya sekadar sebuah cerita. Jadikanlah julukan seribu hikayat sebagai sebuah kenyataan yang

senantiasa menjadi pedoman pendidikan karakter anak-anak Aceh di masa akan datang sehingga akan lahir para pemimpin di Aceh yang diteladani umat, bukan dicaci-maki umat. Semoga!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved