Breaking News:

Jurnalisme Warga

Menikmati “Peunajoh Ureueng Away”

Kemajuan zaman turut memengaruhi makanan/kuliner mulai dari bentuk, rasa, bahkan sampai pada kelompk penikmatnya

Menikmati “Peunajoh Ureueng Away”
IST
CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki),  Dosen FE Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki),  Dosen FE Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Bireuen

Kemajuan zaman turut memengaruhi makanan/kuliner mulai dari bentuk, rasa, bahkan sampai pada kelompk penikmatnya. Pada umumnya kelompok orang tua lebih banyak duduk di warung kopi tradisional, sedangkan anak muda lebih menyukai tempat modern seperti kafé atau restoran. Fasilitas pendukung juga menjadi hal yang penting sebagai daya tarik sebuah warung atau kafe seperti ketersediaan internet, ruang yang bersih, pelayanan yang ramah, bahkan spot untuk berfoto selfie.

Di Bireuen, ada seorang anak muda yang berani melawan perkembangan modern dengan cara kembali ke zaman tempo dulu dan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Ada yang menyebutnya “gila”, karena berbalik arah. Dia adalah Khairul Nazli, biasa dipanggil Khairul, alumnus Fakultas Teknik Universitas Almuslim, Bireuen.

Awalnya Khairul memilki dua toko distro pakaian jadi untuk remaja di Kota Bireuen, tetapi akibat pandemi  Covid-19 kedua toko tersebut ibarat hidup segan mati tak mau, maka keduanya perlahan dia tutup.  Dia harus mencari cara untuk dapat kembali memenuhi kebutuhan hidup bersama ibu dan adiknya tercinta karena ayahnya sudah lama tiada.

Selain dari niat yang tulus tersebut, pria yang tampan ini juga ingin membuka peluang kerja bagi anak-anak muda yang sebagian besar adalah karyawan yang di-PHK dari berbagai perusahaan yang ditutup oleh pemiliknya akibat pandemi. “Anak muda harus memiliki keinginan yang kuat untuk maju, jangan cepat putus asa, dunia masih luas terbentang,” ujarnya.

Berawal dari hobi yang unik mengoleksi barang-barang bekas, terutama dari kendaraan roda dua, muncullah niatnya untuk membuka warung mini  yang diberi nama “Jameuen Kupi”.  Untuk mendapatkan kesan sesuai dengan namanya, maka dekorasi warung ini ditata dengan berbagai barang bekas dari masa penjajahan Belanda dan Jepang, seperti: radio tua, kursi pangkas,  kendaraan roda dua zaman Jepang, berbagai suku cadang, dan pelat kendaraan roda dua dengan nomor-nomor “cantik”.

Barang-barang tersebut dia peroleh dari hasil blusukan ke kampung-kampung yang ada di Kabupaten Bireuen, bahkan ada juga yang dia datangkan dari luar. Karena kebiasaannya mencari barang rongsokan, ia pernah disangka orang gila. Ada juga orang yang ketakutan melihat aksinya.

Lokasi warung biasanya berada di tengah keramaian, tetapi atas idenya dia manfaatkan lahan kosong yang berada di samping rumah orang tuanya di Desa Cot Bada, Kecamatan Peusangan, Bireuen.  “Hemat biaya dan selalu dapat bersama dengan ibu tercinta,” ujarnya mengemukakan alasan mengapa membangun warung di tempat itu.

Dalam menjalankan usahanya, owner Jameuen Kupi ini juga turut dibantu oleh ibunya yang terkadang menjadi juru masak untuk menu yang disajikan.

Selain itu, berkat dari kesungguhan karyawannya dalam bekerja, terutama pelayanan prima yang diberikan kepada para tamu, turut membuat usahannya dikenal tidak hanya oleh kalangan anak muda, tetapi juga orang tua yang ingin bernostalgia mengenang masa lalu sambil meneguk kopi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved