Breaking News:

Wawancara Khusus

Ekspor Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Jepang, Heri Ahmadi, mengungkapkan, impor Indonesia dari Jepang sekitar 10 miliar dolar AS

FOR SERAMBINEWS.COM
HERI AHMADI, Dubes Indonesia untuk Jepang 

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Jepang, Heri Ahmadi,  mengungkapkan, impor Indonesia dari Jepang sekitar 10 miliar dolar AS, sedangkan nilai ekspor Indonesia ke Jepang 12,88 miliar dolar AS. Artinya, surplus hampir 3 miliar dolar AS. Ia yakin ke depan akan membaik.

"Di Januari 2021, kita sudah surplus 530 juta dolar AS. Ekspor year on year (YoY) kita ternyata sudah tumbuh 13,8 persen. Itu ekspor kita mencapai 1,39 miliar dolar AS. Meningkat dibanding tahun sebelumnya 13,8 persen. Namun, impor Indonesia dari Jepang itu masih lemah, masih buruk. Karena turun sekitar 20,9 persen saat ini sekitar 867 juta dolar AS, dibanding Januari 2020," ungkap Heri Ahmadi saat berbincang khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Feby Mahendra Putra, Senin (22/3/2021).

Kenaikan dan penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Yang naik drastis itu sum rubbers, semacam produk-produk karet. Di Januari, year on year naik sekitar 21,54 persen. Produk yang naik lagi alat cetak elektronik, karena adanya kebutuhan work from home. Komponen-komponen elektronik naik sekitar 63,4 persen. Berikut lanjutan petikan wawancara bagian dua (habis) dengan Dubes Indonesia untuk Jepang, Heri Ahmadi.

Kenaikan ekspor kita ke Jepang itu wujud barangnya apa?

Komponen-komponen elektronik. Banyak terdistribusi kiriman komponen elektronik, maka justru permintaan dari Jepang ke Indonesia justru meningkat. Karena dari Cina menurun pasokannya. Kebutuhan dunia pun meningkat. Kalau mau meng-capture demand terbesar Jepang, demand terbesar adalah batu bara untuk kebutuhan energi.

Kedua produk mesin serta peralatan listrik dan mekanik. Tiga komponen itu yang sekarang jadi impor paling besar Jepang dari seluruh dunia. Kalau kita mau menangkap itu, sebetulnya jadi peluang paling besar. Ekspor inilah yang akan menjadi andalan pertumbuhan ekonomi kita. Kita mengetahui, pada masa krisis kita membuat banyak utang. Utang tidak masalah sejauh kita bisa membayar. Kita bisa membayar hanya kalau ekspor kita baik. Kebetulan bulan lalu saya sempat diskusi panjang dengan Pak Luthfi (Muhammad Luthfi, Menteri Perdagangan), membicarakan strategi perdagangan luar negeri pasca pandemi Covid-19.

Tanpa kita lakukan ekspor, sebetulnya utang kita tidak boleh lebih dari 3 persen GDP. Utang tahunan kita mencapai 6 persen dari GDP. Tapi, kalau tidak begitu ekonomi kita juga mandek. Tntangan ke depan, saya yakin Pak Luthfi paham urusan ini. Di luar Cina, Jepang, dan Korea, kelompok lima besar termasuk Amerika. Nomor satu, perdagangan kita dengan RRT.

Kondisi perekonomian suatu negara sangar tergantung pada upaya mereka memutuskan rantai penularan Covid-19. Bisa diceritakan apa yang dilakukan Jepang?

Jepang sama dengan kita semuanya. Tapi, Jepang memang punya sistem kesehatan yang lebih bagus dari kita. Sehingga, tingkat penularan virus di Jepang dengan Indonesia itu hanya separuhnya. Di Indonesia itu sudah hampir 3,8 atau hampir 4/100 ribu penduduk yang terinfeksi virus. Di Jepang itu hanya sekitar 2/100 ribu. Tapi tingkat perawatan di rumah sakit di Jepang jauh lebih rendah, apalagi tingkat kematian akibat Covid-19. Di sini jauh lebih rendah karena sistem kesehatannya jauh lebih baik.

Masyarakat Jepang sangat disiplin. Di awal-awal Covid-19 tidak ada sanksi, tapi setelah terjadi gelombang pandemi Covid-19 ketiga, akhirnya Jepang menerapkan sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved