Breaking News:

Salam

Kita Apresiasi Program Sekolah Empat Semester  

Kali ini tiba-tiba kita mendapat berita menyenangkan tentang sembilan siswa SMA Negeri 1 Lhokseumawe mampu menamatkan sekolah

For Serambinews.com
Kepala SMA Negeri 1 Lhokseumawe, Nurasmah SPd MPd memantau sembilan siswanya yang dipastikan lulus dalam waktu dua tahun, saat membaca di perpustakaan sekolah setempat 

Lama tak terdengar kabar gembira tentang prestasi dalam bidang pendidikan di Aceh. Namun, kali ini tiba-tiba kita mendapat berita menyenangkan tentang sembilan siswa SMA Negeri 1 Lhokseumawe mampu menamatkan sekolah tersebut dalam waktu dua tahun. Hebatnya lagi, mereka juga lulus pada sejumlah universitas negeri di Indonesia melalui jalur undangan atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2021. Prestasi yang diraih siswa SMA Negeri 1 Lhokseumawe, itu merupakan yang pertama di Aceh sejak sekolah itu menerapkan pola pembelajaran sistem kredit semester (SKS) pada tahun 2017 lalu.

Hingga kini,di Aceh baru dua SMA yang menerapkan pola pembelajaran SKS. Yakni, SMA Negeri 1 Lhokseumawe dan SMA Negeri 1 Bireuen. Dengan pola pembelajaran itu, siswa yang memiliki kemampuan lebih di bidang akademik berpeluang menamatkan SMA hanya dalam waktu dua tahun.

Kepala SMA Negeri 1 Lhokseumawe, Nurasmah SPd MPd, menjelaskan, sekolah yang dipimpinnya mulai menerapkan pembelajaran dengan pola SKS pada tahun 2017 lalu. Namun, dua tahun pertama tidak ada siswa yang bisa diproyeksi untuk lulus dalam waktu dua tahun. "Seorang siswa bisa diproyeksi tamat dua tahun berdasarkan hasil proses belajar dalam tiga bulan pertama. Indikator utamanya adalah siswa tersebut memiliki nilai amat baik untuk sepuluh mata pelajaran wajib," ujar Nurasmah.

Pada angkatan 2019,  pihaknya bisa memproyeksi sembilan siswa untuk lulus dalam jangka waktu dua tahun. Mereka terdiri atas enam siswa jurusan IPA dan tiga siswa jurusan IPS. “Siswa yang masuk proyeksi tamat dua tahun itu juga harus mengikuti proses pembelajaran secara mandiri,” katanya.

Pada tahun pertama, kesembilan siswa itu bisa menyelesaikan materi pembelajaran satu semester dalam tempo empat bulan. Artinya, di tahun pertama, mereka bisa menyelesaikan materi pembelajaran setara tiga semester. Pada tahun kedua, siswa‑siswa “super” itu hanya menyelesaikan materi pembelajaran setara satu semester dalam waktu tiga bulan. "Namun, saat masuk semester lima, mereka langsung ditarik ke kelas tiga. Jadi, masa belajar mereka hanya dua tahun untuk menamatkan pendidikan di SMA," jelasnya.

Kita sangat mengapresiasi inisiatif melaksanakan pembelajaran dengan layanan khusus demi memberi kesempatan maju lebih cepat kepada anak-anak yang berprestasi super. Dan, kita berharap model ini perlu dilaksanakan di seluruh Aceh agar anak-anak yang harusnya maju lebih cepat tak perlu mengikuti proses pendidikan reguler.

Kita tahu dalam sepuluh tahun belakangan di Aceh sudah banyak sekolah-sekolah unggul yang mengklasifikasi siswanya dalam kelas unggul, kelas inti, dan lain-lain. Namun, kita tidak melihat adanya siswa yang diberi kesempatan untuk lulus lebih cepat. Dan, dengan adanya contoh dari Lhokseumawe itu, mestinya, sekolah-sekolah unggul seperti di Banda Aceh sudah harus menerapkan sistem pembalajaran secara khusus dengan proyeksi tamat lebih cepat.

Sebetulnya, sekitar 10 tahun lalu, di Aceh sudah diperkenalkan kelas akselerasi. Yakni, kelas khusus yang program belajar mengajarnya dibuat khusus sehingga bisa membuat anak‑anak berbakat mencapai prestasi maksimal sesuai dengan potensinya. Anak berbakat yang dimaksud adalah anak dengan intelegensia tinggi, serta kreativitas dan motivasi yang tinggi pula. Kelas akselarasi ini memberi kesempatan kepada anak-anak menyelesaikan pendidikan lebih cepat dibanding masa belajar reguler. Akan tetapi, program kelas akselerasi itu seperti terabaikan. Kita tidak tahu apa kendalanya. Padahal, program itu bisa menjadi salah satu upaya menuju “Aceh Hebat!”

Maka, dengan adanya “kejutan” oleh sembilan siswa SMA Negeri I Lhokseumawe, hendaknya menjadi pemicu bagi sekolah-sekolah lain di Aceh untuk melaksanakan pembelajaran dengan SKS 4 Semesteratau melaksanakan kelas akselerasi bukan hanya di SMA, tapi juga sejak SD, SMP, hingga SMA. Jika itu terl aksana, Insya Allah akan ada anak-anak Aceh yang kelak meraih gelar saraja (S1) pada usia 16 atau 17 tahun. Ini buklan mustahil, di banyak negara sudah ada remaja-remaja belasan tahun  yang meraih gelar master (S2) bahkan mungkin doktor (S3). Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved