Breaking News:

Berita Banda Aceh

Psikolog: Perasaan Kecewa Jadi Pemicu Seorang Ibu Tega Menganiaya Anak Kandung

“Itu sudah mewakili dari sisi psikologis si ibu atau bisa juga dari rasa kecewa dia kepada mantan suaminya. Akhirnya ia lampiaskan kepada anaknya...

Penulis: Mawaddatul Husna
Editor: Nurul Hayati
Psikolog: Perasaan Kecewa Jadi Pemicu Seorang Ibu Tega Menganiaya Anak Kandung
IST
Nur Jannah Al Sharafi

“Itu sudah mewakili dari sisi psikologis si ibu atau bisa juga dari rasa kecewa dia kepada mantan suaminya. Akhirnya ia lampiaskan kepada anaknya, jadi kondisi ini bisa terjadi kepada siapa saja. Kita tidak bisa men-judge  ibu itu mempunyai kelainan, kita harus hati-hati, sangat hati-hati dan jeli dalam memeriksa kondisi si ibu,” ujarnya.

Laporan Mawaddatul Husna | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Direktur Psikodista Konsultan, Dra Nur Janah Alsharafi Psikolog MM CHt menyampaikan, seorang ibu yang tega menganiaya anak kandungnya, hal itu dapat dipicu karena ada suatu kebencian, kekecewaan terhadap sebuah hubungan yang dibangun dengan pasangannya.

“Kita tidak tahu sudah berapa tahun ia bercerai dengan suaminya. Ia memasuki perkawinan itu dengan harapan ia bahagia. Tapi ternyata tidak, itu yang ia dapatkan akhirnya perceraian dan ia mendapatkan hak asuk anaknya. Di dalam dirinya itu ada hal-hal yang tidak bisa ia munculkan karena keadaan, ia harus merawat anak-anaknya dengan kondisi yang serba terbatas,” sebut Nur Jannah yang dikonfirmasi Serambinews.com, terkait kasus seorang ibu bernama Nurhayati (31), warga Desa Bantayan, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur yang tega menganiaya anak kandungnya dengan menyiram air panas ke punggung anak tersebut hingga melepuh.

Ia menyebutkan, ada berbagai faktor sehingga seorang ibu tega menganiaya anaknya.

Termasuk rasa dendam dan kecewa yang sudah ia pendam. 

Pencetusnya bisa dipicu oleh hal-hal kecil serta sepele, seperti yang dilakukan oleh korban yang telat memanaskan air untuk membuat susu adiknya.

“Itu sudah mewakili dari sisi psikologis si ibu atau bisa juga dari rasa kecewa dia kepada mantan suaminya. Akhirnya ia lampiaskan kepada anaknya, jadi kondisi ini bisa terjadi kepada siapa saja. Kita tidak bisa men-judge  ibu itu mempunyai kelainan, kita harus hati-hati, sangat hati-hati dan jeli dalam memeriksa kondisi si ibu,” ujarnya.

Baca juga: Seekor Penyu Belimbing Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Pasie Luah

Dalam hal ini, Nur Janah mengatakan si ibu sebagai pelaku dan anak sebagai korban perlu mendapatkan pendampingan secara psikologis.

Demikian juga untuk kondisi bayinya yang masih diberikan Air Susu Ibu (ASI).

“Pemberian ASI ketika ibu dalam kondisi bahagia atau tertekan tentu berbeda keadaannya. Kualitas pelukannya ketika ibu happy atau sedih juga berbeda. Maka perlu pendampingan untuk ibu maupun si anak, agar tidak terpengaruh psikologisnya,” kata Nur Janah yang juga Dosen Konseling Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. (*)

Baca juga: Investasi PLTA di Aceh Barat tak Berjalan, Bupati Hentikan Kerjasama dengan PT Aceh Hydropower

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved