Breaking News:

Opini

Menyikapi Tuberkulosis di Tengah Pandemi

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu jenis penyakit menular secara langsung yang saat ini masih menjadi PR bagi kita bersama

Menyikapi Tuberkulosis di Tengah Pandemi
FOR SERAMBINEWS.COM
dr. Tita Menawati, M.Kes, Sp.A, Spesialis Anak, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran USK

Oleh dr. Tita Menawati, M.Kes, Sp.A, Spesialis Anak, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran USK

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu jenis penyakit menular secara langsung yang saat ini masih menjadi PR bagi kita bersama. Penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis ini memegang peringkat ke sepuluh penyebab kematian di dunia. Pada tahun 2020 WHO melaporkan bahwa Indonesia berada pada peringkat kedua setelah India dengan insidensi TB terbanyak di dunia.

Di Aceh sendiri, pada tahun 2018 ditemukan jumlah kasus TB sebanyak 8.471 kasus, meningkat 1129 kasus dari tahun sebelumnya, dengan jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di Kabupaten Aceh Utara (15%) dan terendah di Kabupaten Bener Meriah (0,3%).

Selain itu angka notifikasi semua kasus TB atau Case Notification Rate (CNR) di Aceh berada pada peringkat 26 dari 34 provinsi, yaitu 156 kasus tiap 100.000 penduduk. Istilah CNR itu sendiri adalah jumlah semua kasus tuberkulosis yang diobati dan dilaporkan di antara 100.000 penduduk yang ada di suatu wilayah tertentu. Adapun penanganan TB pada masa pandemi Covid 19 seperti saat ini masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah kita. Betapa tidak, dengan adanya pandemi tentu saja akan berpengaruh pada target eliminasi TB di Indonesia yang sedianya direncanakan tuntas pada tahun 2030.

Pengaruh pemberantasan penyakit menular tuberkulosis pada masa saat ini terbentur bukan hanya pada masalah sumber daya, anggaran dan fasilitas yang lebih ditekankan pada penanganan Covid 19 semata, namun pasien baru penderita TB, pasien yang sudah terdiagnosis TB dan sedang menjalani pengobatan TB juga turut terdampak.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kasus Covid yang belum juga tuntas walaupun sudah lebih setahun mendera negara kita menimbulkan  keraguan masyarakat untuk pergi ke fasilitas layanan kesehatan oleh karena ketakutan berlebihan terhadap virus Covid-19. Padahal, pasien TB diharuskan untuk melakukan kontrol ke dokter sekurangnya satu bulan sekali.

Sebetulnya pasien TB atau pasien dengan gejala TB tidak perlu takut melakukan pengobatan ke fasilitas layanan kesehatan, karena sejak pertengahan tahun lalu pemerintah kita telah menerapkan protokol layanan TB di masa pandemi Covid-19. Nah, protokol ini mendorong terciptanya layanan pengobatan TB yang aman bagi masyarakat di masa pandemi. Berdasarkan protokol ini, terdapat beragam upaya yang diatur untuk mencegah penularan TB dan Covid-19 di fasilitas-fasilitas layanan kesehatan.

Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa masa pandemi Covid-19 yang tidak kunjung berakhir hingga kini akan berimbas pada penurunan insidensi Tuberkulosis. Penurunan kasus TB yang sejatinya menggembirakan ini justru merupakan hal yang kontradiktif, karena bukanlah merupakan penurunan kasus secara riil, melainkan disebabkan tidak terdeteksinya kasus TB baru di masyarakat. Salah satu faktor yang mendorong terjadinya penurunan tersebut adalah keengganan pasien-pasien dengan gejala TB untuk datang ke fasilitas layanan kesehatan dan memeriksakan kondisi mereka lebih lanjut.

Sejatinya tantangan yang dihadapi petugas kesehatan dalam menjangkau kasus TB dari sebelum pandemi adalah terkait kejujuran pasien. Terkadang pasien enggan berkata jujur terkait kondisi sebenarnya karena mereka khawatir dengan stigma di masyarakat yang

terbentuk, termasuk kekhawatiran vonis penyakit TB bisa berdampak pada nasib pekerjaannya, karena pasien dengan TB biasanya harus menjalani istirahat terutama dalam dua bulan pertama masa pengobatannya dan perusahaan yang menjalankan bisnis pada bidang layanan publik banyak yang kurang berkenan memperkerjakan pegawai dengan penyakit TB karena bahaya penularannya terhadap rekan sekerja maupun konsumen. Sayangnya situasipandemic memperburuk  situasi ini, karena jangankan untuk mencari pekerjaan baru, mereka juga kesulitan dalam mempertahankan ladang pendapatannya karena ekses dari penurunan taraf ekonomi global.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved