Breaking News:

Jurnalisme Warga

Rihlah Ilmiah Mencari Berkah

Di bulan ini biasanya akan dilakukan prosesi pembukaan kitab yang lebih dikenal dengan ibdak kitab

Editor: bakri
Rihlah Ilmiah Mencari Berkah
FOR SERAMBINEWS.COM
DENI MULYADI, S.HI., M.A., Dosen Dayah Mahasiswa STIS Ummul Ayman Pidie Jaya dan Pengurus DPP ISAD Aceh, melaporkan dari Aceh Selatan

OLEH DENI MULYADI, S.HI., M.A., Dosen Dayah Mahasiswa STIS Ummul Ayman Pidie Jaya dan Pengurus DPP ISAD Aceh, melaporkan dari Aceh Selatan

Muharam merupakan bulan yang sangat bermakna bagi kalangan dayah di Aceh. Di bulan ini biasanya akan dilakukan prosesi pembukaan kitab yang lebih dikenal dengan ibdak kitab. Tradisi ini biasanya dilakukan di tempat yang penuh berkah bersama orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk agama Allah.

Kegiatan ini juga dilakukan  Dayah Babul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI) Tanjong  Bungong Ulee Gle, Pidie Jaya. Dayah ini dipimpin Tgk H Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad, ulama Pidie Jaya yang juga ahli ilmu falak (astronomi). Beliau dikenal dengan sebutan Abu Tanjong.

Rencana ibdak kitab kali ini akan dilakukan Abu di Makam Abuya Muda Waly. Rihlah ilmiah, mungkin nama ini cocok kita berikan kepada perjalanan yang sering dipraktikkan dayah-dayah di Aceh yang nilai dan implementasinya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi inilah yang membedakannya dengan tradisi yang terdapat pada pendidikan umum lainnya.

Rihlah ilmiah  memiliki arti perjalanan ilmu pengetahuan, yakni melakukan perjalanan dari suatu daerah ke daerah lain dengan tujuan mencari berkah, ilmu, memperdalam pengetahuan, bahkan menuliskannya.

Perjalanan dimulai Sabtu bertepatan malam 10 Muharam, berkumpul di depan Masjid Istiqamah Ulee Gle. Jumlah kami sekitar 30 orang, naik lima mobil. Rombongan dipimpin Tgk Marzuki yang sekarang menjabat Kepala Baitul Mal Pidie Jaya.

Pemkab Pidie Jaya juga ikut andil memberikan kendaraan gratis berupa satu bus Hiace dan uang makan dalam perjalanan. Seolah mereka pun tak mau jika tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk turut mendapatkan pahala dalam kegiatan mulia ini.

Berangkat dari Ulee Gle sekitar pukul 22.00 WIB. Karena perjalanan dilakukan malam hari, tak ada kegiatan ternikmat lain yang bisa kami lakukan selain tidur dan terlelap dalam mimpi masing-masing hingga menunggu sampai ke tempat tujuan.

Seusai shalat Subuh di Masjid Meulaboh dan sedikit sarapan pagi alakadarnya kami lanjutkan perjalanan ke Aceh Selatan. Tepat pukul 14.00 WIB kami tiba di Bakongan tanpa kurang satu apa pun. Rencana awal kami untuk pertama kali singgah di Dayah Darussalam Labuhan Haji tak tersampaikan. Dikarenakan, kondisi yang tak memungkinkan untuk menziarahi makam, sehubungan dengan kekisruhan yang terjadi di Dayah Darussalam Al-Waliyah, tempat yang akan kami kunjungi dan adanya imbauan dari MPU setempat untuk menunda aktivitas di sekitar dayah tersebut sementara waktu.

Akhirnya, kami mengunjungi Dayah Nek Abu (murid senior Abuya Muda Waly yang telah berpulang) di Dayah Ashabul Yamin, salah satu dayah di Aceh yang pernah mendapat predikat sebagai dayah terbersih dan sehat di Aceh tahun 2014 melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh.

Sesampai di dayah, kami disambut oleh Abati Baidhawi (pimpinan saat ini) bersama Waled Marhaban, pimpinan Dayah Raudhatul Muna. Setelah silaturahmi, kami melanjutkan ke tujuan utama, yaitu untuk melakukan ibdak kitab. Saya benar-benar menyaksikan sifat ketawadukan yang dimiliki ketiga ulama Aceh tersebut. Masing-masing mereka saling menolak dan mempersilahkan satu sama lain untuk memulai ibdak kitab. Ini menandakan ketiga ulama ini menganggap dirinya lebih sedikit ilmunya dibandingkan orang lain.

Namun akhirnya, ibdak kitab dimulai oleh Abu Tanjong, mengingat beliau yang tertua di antara yang lain. Dalam keadaan syahdu pun semua menyimak uraian dari ibdak kitab, sedikit tidaknya Abu menguraikan tentang permasalahan rujuk.

Memuliakan tamu

Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di tanah yang dijuluki Kota Naga tersebut. Pada tahun 2012 saya pernah menetap di Aceh Selatan, tepatnya di Gampong Ujong Mangki, Kecamatan Bakongan saat masih berstatus mahasiswa dan sedang melaksanakan tugas kuliah pengabdian masyarakat (KPM). Ada banyak cerita menarik nan menyentuh hati tak terlupakan sampai sekarang. Mengingat begitu ramah dan murah hatinya masyarakat dalam memuliakan tamunya. Saya dan beberapa kawan saat itu menempati rumah Pak Keuchik dan sebagian lagi menempati rumah Pak Mukim Umar. Untuk perlengkapan kami sehari-hari di sana, kami membeli beberapa bahan pokok untuk memasak, beras di antaranya.

Namun, reaksi Pak Mukim saat mengetahui hal itu benar-benar di luar dugaan. Beliau marah dan matanya berkaca-kaca sambil mengatakan, “Jika sudah menjadi tamu di kampung kami, tidak ada istilah tamu mencari makanan sendiri di tempat kami.” Kami pun merasa sangat bersalah saat itu, karena memang ternyata sebagian besar masyarakat akan selalu memuliakan siapa saja yang datang. Bak kata pepatah “tamu adalah raja”, dan masyarakat Aceh Selatan benar-benar menjadikan tamunya sebagai raja. Patut diacungkan jempol.

Aceh dikenal sebagai salah satu daerah yang sangat mencintai dan patuh kepada ulama mereka. Hal ini juga saya dapatkan saat itu, ketika KPM tersebut Nek Abu masih hidup dan menjadi ulama yang sangat disegani oleh masyarakatnya. Suatu malam, Nek Abu bermimpi bahwa Aceh Selatan akan ditimpa satu bala, dan dengan segera beliau menyampaikannya kepada masyarakat Aceh Selatan, khususnya Kecamatan Bakongan dan Kecamatan Kota Bahagia. Beliau memerintahkan kepada masyarakat untuk meminta perlindungan kepada Allah serta membaca surah Yasin untuk menjauhkan masyarakat Aceh Selatan dari marabahaya.

Tanpa ragu sedikit pun, masyarakat Aceh Selatan melaksanakan perintah tersebut sepenuh hati. Pembacaan Yasin dilakukan masyarakat secara unik. Mereka membaca Yasin dari rumah ke rumah sampai beberapa malam dan di setiap rumah para tamu akan disajikan mi instan yang telah dimasak oleh pemilik rumah. Jika dalam semalam baca Yasin di enam rumah, maka enam kali pula kita menyantap mi instan yang sama. Tradisi ini sungguh unik dan jarang bisa ditemukan di daerah lain. Tradisi yang bisa mempererat silaturahmi dengan sesama.

Kembali lagi ke cerita rihlah ilmiah tadi, setelah berkunjung ke Dayah Nek Abu, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan pertama yaitu Dayah Darussalam Al-Waliyah. Menziarahi makan Abuya Mudawaly Serta melakukan Ibda’ Kitab kedua di tempat tersebut. Kali ini, kami disambut oleh Al Mukarramah Abuya Mawardi Wali. Karena kami sampai sudah menjelang magrib dan disertai dengan keadaan hujan lebat, maka kesempatan kami untuk berada  di sini amatlah singkat. Dengan sesegera mungkin Abu Tanjong melakukan ibdak kitab di lokasi makam Al Mukarram Abuya Muda Waly. Di sinilah perjalanan kami berakhir, karena setelahnya kami langsung meninggalkan Aceh Selatan dan kembali menuju Pidie Jaya. Tradisi seperti ini sepatutnya tetap dipertahankan di Aceh. Selain mempererat hubungan silaturahmi, lebih dekat dengan hamba-hamba Allah yang taat serta bermanfaat untuk memperdalam ilmu pengetahuan dengan tujuan mengharap rida Ilahi Rabbi.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved