Breaking News:

Tanah Lamkleng Terus Amblas, Kedalaman Longsoran Capai 7 Meter

Permukaan tanah yang amblas di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, terus bertambah, kedalamannya kini sudah mencapai 7 meter

Editor: bakri
For Serambinnews.com
Akibat diguyur hujan deras dalam dua malam terakhir, permukaan tanah bergerak di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, terus menurun. Pagi ini, Sabtu (3/4/2021) titik terdalam tanah amblas sudah mencapai 7 meter, lebar 250, dan panjangnya sekitar 200 meter. Menjelang puasa Ramadhan, masih ada 1 KK di desa itu yang mengungsi. 

JANTHO - Permukaan tanah yang amblas di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, terus bertambah. Kedalamannya kini sudah mencapai 7 meter, panjang 200 meter, dan lebarnya 250 meter (termasuk longsor di kawasan lereng sungai).

Bertambahnya kedalaman, lebar, dan panjang tanah yang longsor tersebut akibat hujan deras dalam dua hari terakhir mengguyur kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh. "Pagi tadi saya ukur kedalaman titik longsor, berkisar antara 6-7 meter," kata Munzir (35), tokoh pemuda setempat , Sabtu (3/4/2021).

Dikatakan, warga Gampong Lamkleng kini berada dalam kondisi dilematis. Bila hujan turun, maka permukaan tanah terus bergerak dan longsor, meski penurunanannya tak sedahsyat pada medio Desember 2020 hingga akhir Januari lalu.

Di sisi lain, bila hujan tidak turun tiga hingga enam hari, maka sawah-sawah penduduk Lamkleng kekeringan. Maklum, sawah di desa ini masih sistem tadah hujan. Sebaliknya, di masa penghujan ini sawah tergenang dan petani sedang memasuki masa panen. "Agar padi yang mulai menguning tak rusak akibat terendam lama oleh air, maka kami pagi hingga sore panen padi," lapor Munzir.

Tenaga Administrasi Komputer pada SMP Negeri 1 Kuta Cot Glie ini juga menambahkan, jumlah pengungsi di desa itu kini jauh berkurang. Hanya tinggal satu keluarga lagi. Mereka masih tinggal di bawah tenda, karena rumah permanennya tak mungkin lagi ditempati.

Dapur dan toiletnya sebagian sudah menggantung karena tanah di bawahnya terus amblas. Demikian pula septic tank, pondok, dan rumpun pohon pisang di belakang rumah tersebut. Dalam peristiwa terbaru tiga hari lalu, sebatang pohon besar, yakni pohon ceubrek di permukiman warga juga tumbang. Sebelumnya pohon asam jawa dan pohon hagu yang tumbang.

Di lokasi pohon yang bertumbangan itu terdapat belasan makam tua dan makam baru. Beberapa di antaranya kini tenggelam, tapi kerangka di dalamnya belum terlihat dari luar. Ceruk atau bidang gelincir yang selama ini turun, kini tambah turun, itulah yang titik terdalamnya menpacai 7 meter. Panjangnya bertambah sedikit, dari sebelumnya sekitar 150 meter kita sudah menjadi 200 meter.

Penambahan rekahan yang signifikan justru terjadi di sebelah selatan desa itu, tepatnya arah ke sungai. Di lokasi itu bukan saja rekahannya bertambah banyak dan lebar, dari bawahnya juga keluar air tanah.

Saat hujan deras mengguyur, kata Munzir, di ceruk yang amblas bertahap sejak 10 Januari lalu itu kini terperangkap air hujan sehingga membentuk seperti kolam dangkal. Airnya mengalir deras ke arah sungai bila hujan lebat dan kering saat kemarau.

Dalam suasana kemarau para pengungsi umumnya meninggalkan tenda dan kembali ke rumah. "Tapi bila malam turun hujan lebat, warga kembali ke tenda untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan," kata Munzir.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved