Breaking News:

Persoalan Minyak Sawit

Ikuti Langkah Indonesia, Malaysia Ajukan Gugatan ke WTO Terkait CPO

Malaysia dan Indonesia adalah produsen minyak sawit atau crude palm oil (CPO) terbesar di dunia yang memasok sekitar 85 persen kebutuhan di pasar.

Editor: Taufik Hidayat
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Petani mengangkut TBS kelapa sawit yang baru dipanen di areal perkebunan rakyat kawasan Jalan 30, Kecamatan Babahrot, Abdya, Sabtu (18/7/2020). Harga TBS tingkat petani kini mulai meningkat menjadi Rp 1.500 hingga Rp 1.600 per kilogram. 

SERAMBINEWS.COM, KUALA LUMPUR - Malaysia saat ini sudah mendaftarkan gugatan ke Organisasi World Trade Organization (WTO) terkait sikap Uni Eropa yang membatasi impor minyak sawit (CPO) dari negara tersebut, seperti juga yang dialami Indonesia.

Sementara, Indonesia sudah mengajukan gugatan lebih dulu dari Malaysia, sebagaimana mencuat dalam kunjungan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin ke Indonesia, awal Februari 2021 lalu.

"Kunjungan Perdana Menteri Malaysia ke Indonesia pada Februari lalu memang menegaskan rencana Malaysia, namun sudah terlambat karena Indonesia sudah lebih dulu mengajukan, bisanya sebagai pihak ketiga," kata Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki).

Gugatan Malaysia terhadap Uni Eropa mulai bergulir di WTO sejak 17 Maret lalu, dan pihak WTO pun menggelar sesi konsultasi dengan Uni Eropa terkait gugatan yang diajukan Malaysia.

Forum konsultasi tersebut dipimpin oleh menteri perkebunan, industri, dan komoditi Malaysia, Mohd Khairuddin, dan dihadiri oleh perwakilan Indonesia dan Kolumbia sebagai negara peninjau, tulis Bernama.

Malaysia mengajukan gugatan terhadap Uni Eropa ke WTO ini pada 15 Januari 2021.

Baca juga: Tabrakan Dua Kapal di Perairan Indramayu, 2 Jenazah Sudah Ditemukan, 15 Korban Masih Hilang

Baca juga: Misteri Bibit Siklon yang Sebabkan Banjir di Adorana Flores Timur Tewaskan 67 Orang

Baca juga: Kritik Nikahan Atta Halilintar Aurel Dipublikasi Akun Sekretariat Negara, Ernest: Apa Urusannya

Baca juga: Hadiah Rp 75 Juta Bagi yang Temukan Istri Pria Ini, Sudah 19 Hari Belum Pulang Ke Rumah

Sedangkan Indonesia mengajukan gugatan sejenis hampir setahun sebelumnya, yakni awal Desember 2019.

Dalam gugatan Indonesia terhadap Uni Eropa, Malaysia akan bertindak sebagai pihak ketiga yang akan memperkuat gugatan Indonesia.

"Perjalanan gugatan ini masih lama, diperkirakan tahun depan baru ada putusan," kata Fadhil.

Malaysia dan Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) terbesar di dunia yang memasok sekitar 85 persen kebutuhan di pasar.

Uni Eropa melakukan pembatasan biofuel berbasis minyak sawit dengan alasan perkebunan kelapa sawit menyebabkan deforestasi atau pembabatan hutan.

Menurut Malaysia dan Indonesia, kebijakan tersebut tidak adil dan meminta konsultasi dengan blok perdagangan tersebut melalui mekanisme WTO.(AnadoluAgency)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved