Breaking News:

Muallimin Atjeh Bersama Eks Panglima GAM Gelar Kongres

KOMITE Muallimin Atjeh Sumatera Merdehka (KMASM) pada Senin (5/4/2021) mengadakan kongres perdana di Kantor GAM/KPA Wilayah Samudera Pase

DOK PANITIA
Muallimin Atjeh bersama eks Panglima GAM melakukan foto bersama usai mengikuti kongres perdana di Aceh Utara, Senin (5/4/2021). 

KOMITE Muallimin Atjeh Sumatera Merdehka (KMASM) pada Senin (5/4/2021) mengadakan kongres perdana di Kantor GAM/KPA Wilayah Samudera Pase, di Gampong Mancang, Kecamatan Samudera. Kongres hanya diikuti jebolan Tripoli, Libya dan para panglima wilayah dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Rapat Ban Sigom Donya yang dipimpin Ketua KMASM Tgk H Zulkarnaini Bin Hamzah berlangsung secara tertutup. Bahkan para peserta yang mencapai 300-an orang juga tidak dibenarkan membawa masuk handphone ke dalam ruang rapat. Hal itu untuk memastikan isi rapat tidak bocor keluar.

Selain para panglima wilayah, eks GAM lainnya juga ikut hadir ke Kantor GAM/KPA Wilayah Samudera Pase, tetapi mereka tidak bisa mengikuti jalannya rapat yang berlangsung selama sehari penuh itu. Rapat tersebut menghasilkan empat rekomendasi yang akan disampaikan kepada para pihak dalam waktu dekat ini.

Isi rekomendasi tersebut: pertama, untuk mempersatukan anggota KMASM ban sigom Atjeh dan luar negeri dan kedua, memperkuat silaturrahmi dengan jemaah GAM dalam semua tingkatan, mulai dari tingkat masyarakat eks GAM/sipil eks GAM sampai kepada tingkat elite eks GAM.

Kemudian yang ketiga, menjaga, mengawal dan memelihara, keputusan ulama-ulama Aceh yang berdasarkan kepada Ahlulsunnah Wal Jamaah. Ke empat, menjaga dan memperkuat jamaah GAM untuk bersatu padu di dalam bekerja mencapai tujuan perjuangan GAM.

Selain itu, kongres diadakan juga untuk menjaga marwah eks pemimpin GAM Wali Nanggroe, serta mengupayakan segala cara dan terus berupaya demi tercapainya tujuan perjuangan. “Tujuan perjuangan tentu sebagai titipan (amanat) almarhum Wali Nanggroe Tgk Chik Dr Muhammad Hasan Tiro PhD LLD,” ujar Ketua KPA Samudera Pase Tgk H Zulkarnaini Hamzah.

Selain itu, Ketua KMASM menambahkan, diadakannya kongres tersebut juga untuk membahas persoalan realisasi MoU Helsinki. “Hari ini kami mengadakan musyawarah kembali untuk membahas persoalan-persoalan tentang MoU Helsinki yang belum selesai antara Pemerintah RI dengan GAM,” ujar pria yang akrab disapa Tgk Ni ini.

Menurut dia, di usia 16 tahun perdamaian, belum semua butir-butir perjanjian damai MoU Helsinki terealisasi. Karena itu ia mengimbau para pihak, yaitu GAM, mediaator dan RI untuk sepenuh hati melaksanakan perjanjian damai. “Secara kasat mata dan secara hati kita lihat, butir-butir MoU tersebut jalan di tempat,” ujar Tgk Ni.

“Kami para pejuang GAM ini merasa bertanggung jawab dengan rakyat Aceh, syuhada Aceh dan dengan inong bale, aneuk syuhada, yang mereka selalu menunggu kapan Mou tersebut direalisasi,” imbuhnya.

Atas kondisi itulah, Mualimin Aceh sebagai orang tua dalam perjuangan GAM mengambil jalan tengah dengan mengadakan kongres, mencari solusi yang damai untuk terwujudnya perjanjian damai. “Setelah kongres ini kami akan menyampaikan hasilnya kepada pemimpin kami dan kepada para pihak,” tambah Tgk Ni.

Sehari sebelumnya, Sabtu (4/4/2021) eks Panglima Wilayah GAM dan jebolan Tripoli mengikuti zikir dan doa bersama di Makam Sultan Malikussaleh yang berada di Gampong Beuringin, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. 

Sementara itu, Anggota DPD RI asal Aceh, Fahrurrazi MIP juga menyampaikan hasil kongres itu. Ia mengatakan, para eks GAM Tripoli, para pimpinan KPA di seluruh wilayah di Aceh berkomitmen menjaga perdamaian. Namun Pemerintah Pusat harus benar-benar menyelesaikan poin-poin MoU Helsinki RI-GAM yang belum selesai. “Kita tetap berpegang teguh pada MoU Helsinki, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, kata dia, dengan adanya gejolak di lapangan, ketidakpuasan daripada masyarakat, maka Mualimin Aceh berkumpul untuk menyatukan sikap agar tidak terprovokasi dengan pihak-pihak yang ingin menghancurkan perdamaian Aceh, dan ingin membawa Aceh ke jurang konflik.

“Saya menjadi saksi, melihat dan Insya Allah, perdamaian di Aceh akan semakin kuat. Perdamaian ini akan semakin kuat jika Pemerintah Pusat benar-benar merealisasikan butir-butir MoU Helsinki,” ujar Fachrurazi.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved