Breaking News:

Opini

Surat Cinta Untuk Pengantin

Menjelang bulan suci Ramadhan seperti saat ini, intensitas akad nikah dan walimah cenderung meningkat, sebagaimana terlihat dari postingan-postingan

Surat Cinta Untuk Pengantin
IST
Dr. H. AGUSTIN HANAFI, Lc, Ketua Prodi s2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT-Aceh

OLEH Dr. H. AGUSTIN HANAFI, Lc, Ketua Prodi s2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT-Aceh

Menjelang bulan suci Ramadhan seperti saat ini, intensitas akad nikah dan walimah cenderung meningkat, sebagaimana terlihat dari postingan-postingan yang mampir di beranda media sosial, baik FB maupun IG. Senyum merekah, pipi merona dan mata berbinar terpancar saat mengenakan gaun pengantin sambil memegang tangan pujaan hati usai mengikrarkan ijab-kabul, atau saat duduk mesra berdampingan bak ratu dan raja di pelaminan.

Mungkin sengaja memilih waktu sebelum Ramadhan, agar ketika bulan suci nanti sudah ada yang membantu menyiapkan kebutuhan untuk beribadah, dan menemani sahur dan berbuka, sehingga dalam menunaikan ibadah merasa lebih nyaman dan tenang.

Menikah merupakan fitrah manusia, dengan menyatu bersama pasangannya tentu akan membuat hidup menjadi lebih tenang dan nyaman karena telah memiliki status halal sehingga dapat bersenang-senang dengan orang yang dicintainya. Namun yang perlu kita sadari bahwa kesucian pernikahan itu harus betul-betul dijaga, maka jangan hanya terlintas dalam benak yang indah-indah saja, semisal tak lagi merasa sepi sebab sudah ada teman tidur, soal pakaian beres karena sudah ada yang merapihkan, ada istri yang menyiapkan makan, mengantar istri berbelanja sambil berboncengan seolah-olah dunia milik berdua.

Namun selain itu, pasangan pengantin harus bersiap dengan kondisi yang tak terduga, semisal sifat asli pasangan yang ternyata tempramen dan kebiasaan yang berbeda dapat mengundang konflik.

Penyesuaian diri

Tahap penting dalam pernikahan adalah penyesuaian diri dan penerimaan terhadap pasangan. Masing-masing pihak sedang belajar mengenali pasangan dan berdamai dengan perbedaan yang ada. Belajar mengetahui apa yang disenangi dan tidak dari pasangannya, mengenali cara pasangan menyampaikan keinginan atau penolakan, kesukaan dan yang tidak disukai, termasuk mengenal emosi pasangan, apakah mudah sedih dan sebagainya, apa yang paling berharga baginya, bagaimana ketekunan dan kesungguhannya dalam beribadah, atau sebaliknya tidak peduli, merasa terbebani dan seterusnya.

Apakah dia takut pada tokek atau cacing, ular atau suara tertentu misalnya. Semua ini butuh waktu dan cara untuk mengetahui dan memahaminya, yang bisa berlangsung cepat dan bisa juga lambat.

Untuk itu yang perlu disadari oleh pengantin baru adalah, bahwa pola hidup berubah, yang sebelumnya sendiri kini telah ada orang lain di sisi, yang memiliki karakter dan latar belakang pendidikan dan keluarga yang berbeda.

Bisa saja pendiam, atau cerewet, tidur mendengkur atau mengigau. Bahkan ada yang masih kurang engeh kalau sudah punya pasangan hidup, sehingga masih saja suka keluyuran, kongkow, memancing, olah raga, dan sebagainya bersama kawan, tanpa membawa pasangannya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved