Breaking News:

Opini

Menakar Maksiat di Negeri Syariat

Muncul satu pertanyaan yang barangkali tak akan pernah selesai terjawab, yaitu akankah negeri ini bebas dari maksiat

Menakar Maksiat di Negeri Syariat
Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Cot Masjid Banda Aceh

Oleh Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Cot Masjid Banda Aceh

Muncul satu pertanyaan yang barangkali tak akan pernah selesai terjawab, yaitu akankah negeri ini bebas dari maksiat? Sebab ada yang menyebutkan, kemaksiatan tak pernah pandang bulu dan usia. Kemaksiatan sama tuanya dengan umur manusia, malah kemaksiatan itu tumbuh dan berkembang sebagaimana tumbuh berkembangnya peradaban manusia.

Ketika rakyat mengecam dan para aktivis menghujat, semua orang menjadi terperangah ternyata Aceh yang sering ditabalkan sebagai negeri syariat telah dikotori oleh berbagai maksiat. Rasanya orang Aceh memang tak perlu munafik (hipokrit) untuk mengakui kenyataan pahit ini. Sebab kemunafikan di satu pihak dan kebanggaan pada nama besar negeri ini di pihak lain, telah membuat begitu banyak orang selama ini memilih sikap apatis (masa bodoh) ketimbang peduli.

Ironi memang, dalam beberapa pekan belakangan kita disuguhkan berita terkait praktek maksiat yang terjadi di Aceh yang sebagian telah dieksekusi, sebut saja misalnya, kasus Liwat (homoseksual), Ikhtilath, perzinaan begitu juga dengan praktek judi online yang sangat merseahkan saat ini, karena telah melaMpaui batas kota hingga menembus pelosok desa Aceh tidak maksum, dan juga bukan sebuah kesucian agung yang abadi.

Aceh ibarat manusia, makhluk biasa, khilaf sekaligus sering lupa diri. Sepatutnya sebagai orang Aceh kita harus malu, Aceh yang notabenenya sebagai daerah yang kerap dengan nilai-nilai Islamnya, justru praktek-praktek maksiat ada di sekitar kita. Kita terkadang masih terus bersiteguh bahwa Aceh sekarang sebagaimana Aceh dahulu yang moralis, warna moralitas sosial Aceh setuju atau tidak telah berubah dan sekarang ini rakyat Aceh bertendensi hipokrit.

Agaknya sejarah yang dihayati secara emosional telah menjebak kita untuk menyembunyikan bangkai di balik sajadah. Kita tidak peduli terhadap keabsahan ibadah itu lagi. Kita sepenuhnya peduli pada upaya untuk menutupi bau bangkai supaya tak tercium ke luar.

Lagi pula sangat berbahaya bila sejarah generasi terdahulu itu dipaksakan untuk terus menerus menutupi aib generasi sekarang. Sebab sejarah Aceh lalu itu akan menjadi ibarat kain sarung tua yang pendek, sehingga ditarik ke atas dan ke bawah dan pada akhirnya sobek.

Apa yang menjadi takaran dari praktek maksiat ini? Kalau dibanding dengan Jakarta, Medan, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia? Apa yang terjadi di Aceh belum ada apa-apanya, tapi karena Aceh berstatus istimewa sebagai propinsi yang bersyariat Islam, sehingga membuat sorotan terhadap berlangsungnya kemaksiatan di sini tak pernah berhenti dan lebih deras dibanding dengan daerah-daerah lain.

Boleh dikata, persoalan maksiat di Aceh bagaikan masalah laten yang tak kunjung selesai. Padahal, kutukan dan janji-janji pembumihangusannya datang dari waktu ke waktu, mulai dari Pimpinan Daerah, para ulama, kalangan dewan, ormas dll, seakan mereka tak pernah tidur untuk menyuarakan: "Bumi Aceh harus bersih dari maksiat yang bisa merusak moral masyarakat". Tapi kutukan atau janji-janji pemusnahan itu nampaknya baru sebatas retorika, atau paling tidak masih merupakan terapi kejut.

Sebab kenyataannya bahwa kemaksiatan itu akan hilang, apabila operasi dilancarkan dan adanya demonstrasi. Jika perhatian sudah mengendur dan mulut-mulut sudah berhenti bersuara, ketika itulah sahabat-sahabat "iblis" kembali muncul, macam cendawan yang kembali tumbuh pada musim hujan, begitulah seterusnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved