Breaking News:

Opini

Menakar Maksiat di Negeri Syariat

Muncul satu pertanyaan yang barangkali tak akan pernah selesai terjawab, yaitu akankah negeri ini bebas dari maksiat

Menakar Maksiat di Negeri Syariat
Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Cot Masjid Banda Aceh

 Pengawasan

Syahdan, tidak ada satu sumber pun yang mampu menerangkan kapan gejala itu mulai timbul. Tetapi sesuatu yang pasti fenomena buruk ini sekarang sudah pantas diprihatinkan. Aceh selama ini sudah teracuni oleh praktek-praktek maksiat, lebih dari apa yang penulis sebut di awal tulisan. Malah banyak kafe dan salon-salon kecantikan di Aceh telah berubah fungsi menjadi tempat maksiat.

Tetapi mengapa pihak-pihak yang bergelimang dengan "bisnis neraka" itu seolah-olah buta dan tuli terhadap aturan syariat yang berlaku, apalagi dengan tuntutan masyarakat? Pada dataran ini, menurut penulis, banyak indikator yang membuat hal itu terus makin menjadi-

jadi. Di antaranya adalah minimnya pengawasan atau tindakan hukum yang dilakukan kepada pelakunya, sehingga teori ekonomi "suplay and demand", dari masa ke masa terus berlangsung. Model tangkap lepas, diyakini tidak akan menimbulkan efek jera.

Karenanya, tugas Wilayatul Hisbah (WH) perlu dioptinalkan, apalagi selama ini pula kita dihadapkan pada kenyataaan bahwa praktek-praktek maksiat itu di back-up oleh oknum-oknum tertentu. Keberadaan WH sebagai lembaga pengawasan dan pengendalian mesti benar-benar berfungsi, agar hal-hal yang bisa merusak itu tidak meruyak.

Kepedulian bersama

Meski terasa berat, namun harus diakui bahwa syariat Islam di Aceh seolah-olah hanya tinggal jasad semata, ibarat manusia mati karena tidak lagi memiliki ruh. Kalau boleh dikatakan umat Islam di Aceh cuma Islam di kartu-kartu pengenal saja, sementara ajaran Islam tidak pernah diterapkan dalam kehidupan nyata.

Kalaupun menerapkan Islam hanya dalam empat perkara saja, yaitu di saat lahir, sunat, ketika nikah dan waktu kematian datang, di luar empat perkara tersebut umat Islam tidak terikat dengan aturan Islam.

Berbeda dengan Aceh tempo dulu yang luhur dengan nilai-nilai Islam. Merujuk buku-buku sejarah Aceh masa silam, kemajuan dan kejayaan Aceh waktu itu adalah karena Islam dijadikan sebagai pegangan arah dan tujuan hidup masyarakat. Tapi kini Islam sebagai pegangan itu telah luput dan berganti dengan nilai-nilai kemaksiatan, kezaliman, dan kemunafikan. Apalagi dalam dunia globalisasi dan pengaruhnya telah membawa efek yang besar kepada masyarakat lebih-lebih lagi kepada generasi Aceh sekarang.

Generasi muda Islam Aceh sebagai penerus telah lama dininabobokan oleh ayunan kebudayaan barat yang merusak. Memang hal itu tidak bisa dihindari karena kemajuan tekhnologi dan merupakan kehendak alam (nature of law). Kalau bisa diibaratkan umat Islam di Aceh bagaikan sebuah rumah di tepi laut yang kerab dengan air pasang surutnya. Kadang-kadang rumah kita akan dihantam oleh ombak pasang yang menenggelamkan seisi rumah.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved