Breaking News:

Salam

Perlu Komitmen Kuat untuk Berantas Narkoba

Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Wahyu Widada Mphil, meminta dukungan dan kerja sama dari masyarakat agar tidak segan-segan memberi informasi

Editor: bakri
SERAMBI/ SUBUR DANI
Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada, bersama Wakapolda, Brigjen Pol Raden Purwadi, dan pejabat lainnya memperlihatkan barang bukti sabu dan ganja kering yang berhasil disita dari para tersangka dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Rabu (7/4/2021). 

Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Wahyu Widada Mphil, meminta dukungan dan kerja sama dari masyarakat agar tidak segan-segan memberi informasi kepada aparat penegak hukum jika mengetahui adanya peredaran narkoba. Kapolda sangat mengapresiasi informasi dari masyarakat sehingga polisi baru-baru ini bisa menangkap belasan pengedar narkoba.

Menurut jenderal polisi berbintang dua itu, keberhasilan mengungkap peredaran narkoba baru-baru ini, berarti juga dapat menyelamatkan generasi emas Aceh sebanyk 250.000 jiwa dari pengaruh sabu, dan 388.000 jiwa dari pengaruh ganja. "Jadi, total generasi emas Aceh yang berhasil kita selamatkan dengan pengungkapan kasus sabu dan ganja ini sebanyak 638.000 jiwa."

Tim Direktorat Reserse Narkoba Polda Aceh bersama personel gabungan lainnya berhasil menangkap 13 pengedar narkoba sekaligus menggagalkan penyelundupan 50 kilogram (Kg) sabu-sabu oleh jaringan internasional. Selain itu, polisi juga menyita 194 Kg ganja kering dari sindikat yang selama ini menyasar sejumlah provinsi di Indonesia.

Kita sependapat dengan Irjen Wahyu Widada bahwa setiap kali ada penangkapan pengedar bersama narkobanya, maka ada generasi muda yang terselamatkan dari kerusakan moral. Tentu, kita tak bisa menghitung kuantitas dampak secara cermat, tapi kita tahu bahwa dampak penyalahgunaan narkoba itu sangat berbahaya.

Salah satu dampak yang paling kita takutkan adalah lahirnya generasi kriminal. Sebab, anak-anak muda  yang sudah terjerat ke dalam lingkaran setan ini akan terus-menerus dipaksa untuk memenuhi keinginan mereka terhadap narkoba. Akibatnya, mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan barang haram itu, termasuk dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, seperti mencuri, merampok, menipu, dan bahkan tak jarang membunuh dengan keji. Semua itu karena narkoba sudah merusak otak dan jiwanya.

Sebuah hasil studi tahun 2018 terhadap 200 siswa menyebutkan, bahwa 62 % pemakai narkoba memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan orangtuanya. Sedangkan 26 % hubungan mereka cenderung kurang harmonis. Ini mengisyaratkan bahwa kondisi hubungan dalam keluarga jadi salah satu faktor ketahanan atas ancaman narkoba di sekitar kita.

Para peneliti mengatakan, ada fakta yang sulit dipercaya , bahwa hampir semua pengguna narkoba mengetahui bahayanya, namun hanya sedikit yang bersedia dan berhasil menghentikan kebiasaannya. Bahkan deraan penyakit parah pun tidak cukup ampuh untuk membuat pacandu menghentikan kebiasaannya

Sabu-sabu dan ganja di satu sisi merupakan suatu  yang dibenci dan dicoba hindari. Akan tetapi, oleh sebagian orang narkoba dianggap sebagai salah satu alat pergaulan. Sudah sangat sering penegak hukum di negeri ini menggerebek pesta narkoba yang terkadang disertai pesta seks di hotel-hotel dan tempat lainnya.

Dan, yang menggelar pesta sabu dan seks itu bukan hanya anak muda, tapi juga orang-orang tergolong lanjut usia sudah sering tertangkap di lantai pesta sabu. Narkotika juga tidak mengenal jabatan dan profesi. Narkoba juga sudah menjerat banyak oknum peneggak hukum baik sebagai pemakai maupun menjadi anggota sindikat pengedar. Ada juga oknum pejabat birokrasi, anggota dewan, wartawan, dokter, dosen, guru, dan lain pernah ditangkap dalam kasus sabu-sabu, ganja, ekstasi, dan sebagainya.

Karena itulah, kita tak cukup menyatakan prihatin atas kondisi yang sudah begitu parah. Selain berusaha menghindari dari jeratan narkoba, mastinya kita semua juga ikut berpartisipasi memberantasnya sebagaimana diminta Kapolda Aceh tadi. Kita harus berani melaporkan ke aparat bila menemukan indikasi adanya peredaran, pemakaian, bahkan produksi narkoba di sekitar kita. Artinya memang harus ada komitmen bersama untuk mengenyahkan narkoba dari kehidupan kita.

Selain itu, ketahanan spiritual juga bisa jadi kunci terlindungnya diri dari jerat narkoba. Faktor ini penting untuk menjaga kesadaran diri untuk selalu dekat dan terhubung dengan Allah Swt. Salah satunya dengan berkomitmen menjaga diri dari perbuatan yang haram dan melaksanakan kewajiban.  

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved