Breaking News:

Jurnalisme Warga

Adli dan Jufri, Putra Aceh yang Sukses di Palembang

PEPATAH Aceh berbunyi: Langkah, raseuki, peuteumon, mawot sepertinya berlaku bagi Adli dan Jufrizal

Adli dan Jufri, Putra Aceh yang Sukses di Palembang
FOR SERAMBINEWS.COM
HASAN BASRI M. NUR, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Palembang, Sumatera Selatan 

OLEH HASAN BASRI M. NUR, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Palembang, Sumatera Selatan 

PEPATAH Aceh berbunyi: Langkah, raseuki, peuteumon, mawot  sepertinya berlaku bagi Adli dan Jufrizal. Kedua anak muda kelahiran 1990-an ini tak pernah menyangka bakal meniti karier sebagai dosen tetap di dua universitas ternama di Bumi Sriwijaya.

Pasalnya, mereka berdua berasal dari satu kampus dan program studi (prodi) yang sama saat di Banda Aceh, yaitu Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) FDK UIN Ar-Raniry.

Adli bin Muhammad Yunus (27) dilahirkan di pedalaman Aceh Besar, tepatnya di Desa Selangai Indrapuri. Jufrizal bin M Daud (29) lahir di Desa Dayah U Paneuk, Meureudu, Pidie Jaya.

Seusai menamatkan sekolah (MA) di kampung masing-masing, kedua anak manusia yang tak saling kenal ini memilih melanjutkan kuliah di Prodi KPI UIN Ar-Raniry yang kebetulan saya ikut mengajar di sana. Saat masih di bangku S1 UIN Ar-Raniry, keduanya tergolong menonjol. Keduanya sosok optimis, ulet (gigeh), dan kerap melihat ada peluang di antara impitan hidup.

Setelah menamatkan S1 di Banda Aceh, Jufrizal melanjutkan S2 ke Nanchang University China. Dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Cina atas rekomendasi Dr A Rani Usman (Dekan FDK saat itu). Dia mengambil Prodi Jurnalistik di sana. Sedangkan Adli melanjutkan kuliah S2 di UGM Yogyakarta, mengambil prodi Komunikasi Pembangunan. Dia mendapat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Gagal di Aceh

Usai menyelesaikan S2, baik Jufri maupun Adli memutuskan pulang ke Aceh. Keduanya berjuang untuk mendapatkan kursi dosen tetap di almamaternya, tapi belum beruntung sehingga mereka berusaha mencari peruntungan di tempat lain. Jufrizal melamar dan ikut tes formasi dosen PNS di sebuah kampus ternama di pesisir barat Aceh. Di sana tersedia formasi lima kursi dosen PNS. Setelah serangkaian seleksi, namanya pun bertengger di nomor urut 5.

“Nyoe kana raseuki kali nyoe, ka luloh. Mudah-mudahan bek jitamong angen,” Jufri membatin. Namun, siapa sangka, namanya tiba-tiba tereliminasi ke nomor urut 6 dengan alasan yang primordial. Dia gagal lulus. “Ka meuangen, goh raseuki lon. Pasti ada hikmahnya,” batin Jufrizal berusaha menghibur dirinya.

Pepatah Aceh berbunyi: Meuyoe hana raseuki atra bak bibi rhot u lua seakan berlaku bagi Jufrizal. Sejak saat itu, dia meyakini bahwa rezekinya bukanlah di Aceh.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved