Breaking News:

Opini

Melawan Teroris dengan Menulis

Berselang empat hari tanah air kembali mengalami aksi teror. Setelah aksi bom bunuh diri di Katedral Makassar, kemudian berlangsung di Mabes Polri

IST
Zulfata, Ketua Umum Forum Pemuda Lintas Beragama-Aceh 

Jika mencermati para korban yang tersungkur dalam pemahaman radikalisme yang kemudian naik level sehingga disebut teroris. Dapat dipahami bahwa mereka (radikalis dan teroris) berangkat dari keterbatasan informasi dan kesadaran terkait posisi agama dan kemanusiaan, sehingga dengan keterbatasan tersebut para calon pengantin bom bunuh diri merasa bangga dan bernyali untuk melakukan aksi teror, padahal perlakuan teror tersebut adalah sikap yang biadab.

Dari pola mencuci otak yang dilakukan para teroris dalam mengembangkan sel-sel terorisme salah-satunya dapat dicegah melalui tulisan. Dengan menulis, selain akan mempengaruhi pembaca agar dapat berfikir secara rasional dan visioner, kemudian dapat pula membantah tulisan atau ceramah yang bernuansa radikal atau mengarah pada keinginan kaum teroris.

Menulis sebagai salah-satu startegi melawan teroris dapat diartikan sebagai upaya membangun konsep berfikir publik agar mampu memabasmi jaringan teroris sambil memperkuat karakter penulis di bidang deradikalisasi. Terlebih lagi untuk kondisi Indonesia belum diketahui sampai kapan akan benar-benar keluar dari zona pengembangan sel-sel teroris. Atas situasi dan kondisi seperti inilah sejatinya menulis patut dijadikan sebagai stretegi semua pihak dalam mempertkuat misi deradikalisasi secara nasional maupun global.

Benar bahwa dampak dari publikasi tulisan yang bernuansa deradikalisasi tidak akan menghentikan gerakan para teroris yang terlanjur buta mata hatinya, namun demkian paling tidak dengan publikasi tulisan terkait deradikalisasi atau antiteroris dapat mempersempit ruang gerak para teroris.

Konkretnya akan mencegah masyarakat untuk terjerumus ke dalam skema perencanaan terorisme. Jika kaum yang anti teroris tidak memanfaatkan upaya menulis sebagai misi pencegahan atau melawan teroris, maka narasi-narasi kaum teroris akan terus menguat tanpa ada narasi pencerahan yang menggiringinya. Pertarungan narasi dua kutup seperti inilah yang penulis sebut sebagai pertarungan narasi penguatan deradikalisasi.

Menjadikan stretegi menulis sebagai wahana melawan teroris juga secara tidak langsung akan meningkatkan literasi publik yang bukan saja soal anti teroris, namun juga memperkuat karakter masyarakat dalam memberi kekuatan bangsa berbasis literasi. Hal ini sungguh strategis seiring minat menulis di republik ini masih rendah berbarengan dengan minat literasi dalam pemaknaan umum.

Dalam konteks ini sejatinya setiap pikiran yang progresif dalam melawan teroris harus dituangkan dalam bentuk tulisan dan dipublikasikan di setiap instansi pemerintahan. Langkah ini paling tidak dapat dijadikan sebagai upaya pencegahan dini bagi pihak internal pemerintahan agar tidak bekerjasama dengan teroris. Fakta telah membuktikan bahwa bukan saja kalangan eksternal pemerintah yang dikaderkan sebagai teroris, tetapi juga para internal pemerintah seperti Aparatur Negeri Sipil (ASN) juga ada yang terseret dalam pemahaman radikalisme dan terorisme.

Realitas aksi teroris masa kini senantiasa membuka paradigma publik atau kaum intelektual bahwa menulis patut terus digairahkan sebagai strategi perlawanan. Meski perlawanannya bersifat laten, namun hasilnya memiliki dampak yang efektif dan berjangka panjang.

Boleh jadi perlawanan melalui menulis ini sifatnya pencegahan maupun pencerahan agar Indonesia benar- benar jauh dari yang namanya aksi teroris.

Akhirnya, sebagai warga negara yang sepakat bahwa terorisme adalah kejahatan luar biasa dan menjadi musuh agama, sudah saatnya dapat melibatkan diri dalam upaya melawan terorisme berbasis literasi, minimal jika belum mampu menulis secara utuh terkait pencegahan dan penolakan terorisme, paling tidak dapat terlibat aktif dalam membaca tulisan-tulisan terkait anti radikalisme dan terorisme.

Sederhanya, ketika publik di negeri tidak mampu melawan teroris, maka sudah sewajarnya untuk mampu manjaga dirinya agar tak terjerumus ke dalam sel atau aksi terorisme.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved