Breaking News:

Opini

Melawan Teroris dengan Menulis

Berselang empat hari tanah air kembali mengalami aksi teror. Setelah aksi bom bunuh diri di Katedral Makassar, kemudian berlangsung di Mabes Polri

Editor: bakri
IST
Zulfata, Ketua Umum Forum Pemuda Lintas Beragama-Aceh 

Oleh Zulfata, Ketua Umum Forum Pemuda Lintas Beragama-Aceh

Berselang empat hari tanah air kembali mengalami aksi teror. Setelah aksi bom bunuh diri di Katedral Makassar, kemudian berlangsung di Mabes Polri. Dari fakta ini terlihat adanya kebiasaan para pelaku teroris saat menyerang sasarannya cenderung hari-hari aksinya tidak jauh berselang.

Apakah aksi teror yang pola temporalnya seperti ini sudah masuk dalam skema penyerangan bagi teroris atau tidak masih menjadi misteri di ruang publik. Namun demikian pola kebisaan aksi teror di Indonesia cenderung ditempuh dengan waktu yang berdekatan.

Jika memahami aksi penangkapan terduga teroris masa pandemi oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror, 6 Januari 2021 menangkap 20 terduga teroris di Makassar, dan 23 Januari 2021 menanggap lima terduga teroris di Aceh (Kompas/30/03/2021). Artinya, selama pandemi tampaknya menjadi peluang besar bagi penyebaran sel-sel terorisme di tanah air.

Kelompok teroris yang dominan aktif menyusun rencana aksinya masih belum diketahui pasti, apakah kelompok teroris Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Mujadihidn Indonesia Timur (MIT), Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), atau yang lainnya masih belum diketahui pasti.

Yang ingin diuraikan dalam tulisan ini sejatinya bukanlah upaya melawan teroris seperti yang dilakukan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror, atau strategi perlawanan yang disusun oleh Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), tetapi kajian ini mencoba membuka pandangan publik bahwa melawan teroris adalah tugas semua pihak, tak terlepas peran publik di dalamnya.

Sudah menjadi fakta bahwa keterlibatan publik yang aktif dalam memberikan informasi turut mendorong efisiensi pemberantasan terorisme di tanah air. Oleh karena itu saat publik hendak melawan teroris atau ingin memutuskan sel-sel terorisme salah-satunya dapat dilakukan dengan cara menulis yang sifatnya literasi deradikalisasi, atau memberi kesadaran kolektif bahwa aksi teroris adalah perilaku biadab dan dilarang oleh semua agama.

Saat upaya melwawan teroris dengan menulis, bukan saja generasi masa kini yang berpeluang tercerahkan, tetapi juga generasi masa depan. Karena dengan menulis dapat dipublikasikan melalui berbagai bentuk media, baik cetak maupun elektronik. Menggairahkan menulis sebagai salah-satu bentuk perlawanan publik terhadap teroris sama artinya upaya konsolidasi nasional untuk terus berjalan.

Tanpa adanya solidaritas nasional, di negeri seperti Indonesia ini sulit memberantas teroris sampai ke akar-akarnya. Sebab sel-sel terorisme akan terus berpeluang tumbuh seiring rendahnya keadaban berdemokrasi.

Diakui atau tidak, strategi teroris dalam menjaring massa atau mengkaderkan para "pengantin" bom bunuh diri dimulai dengan mambangun cara pikir untuk membenci pemerintah yang dianggap kafir dan dianggap jihad untuk melawannya. Kemudian sebagai sasaran yang dianggap jihad cenderung menyerang dua subjek sasaran, yang pertama tempat ibadah nonmuslim (gereja), dan yang kedua adalah pihak kepolisian.

Jika mencermati para korban yang tersungkur dalam pemahaman radikalisme yang kemudian naik level sehingga disebut teroris. Dapat dipahami bahwa mereka (radikalis dan teroris) berangkat dari keterbatasan informasi dan kesadaran terkait posisi agama dan kemanusiaan, sehingga dengan keterbatasan tersebut para calon pengantin bom bunuh diri merasa bangga dan bernyali untuk melakukan aksi teror, padahal perlakuan teror tersebut adalah sikap yang biadab.

Dari pola mencuci otak yang dilakukan para teroris dalam mengembangkan sel-sel terorisme salah-satunya dapat dicegah melalui tulisan. Dengan menulis, selain akan mempengaruhi pembaca agar dapat berfikir secara rasional dan visioner, kemudian dapat pula membantah tulisan atau ceramah yang bernuansa radikal atau mengarah pada keinginan kaum teroris.

Menulis sebagai salah-satu startegi melawan teroris dapat diartikan sebagai upaya membangun konsep berfikir publik agar mampu memabasmi jaringan teroris sambil memperkuat karakter penulis di bidang deradikalisasi. Terlebih lagi untuk kondisi Indonesia belum diketahui sampai kapan akan benar-benar keluar dari zona pengembangan sel-sel teroris. Atas situasi dan kondisi seperti inilah sejatinya menulis patut dijadikan sebagai stretegi semua pihak dalam mempertkuat misi deradikalisasi secara nasional maupun global.

Benar bahwa dampak dari publikasi tulisan yang bernuansa deradikalisasi tidak akan menghentikan gerakan para teroris yang terlanjur buta mata hatinya, namun demkian paling tidak dengan publikasi tulisan terkait deradikalisasi atau antiteroris dapat mempersempit ruang gerak para teroris.

Konkretnya akan mencegah masyarakat untuk terjerumus ke dalam skema perencanaan terorisme. Jika kaum yang anti teroris tidak memanfaatkan upaya menulis sebagai misi pencegahan atau melawan teroris, maka narasi-narasi kaum teroris akan terus menguat tanpa ada narasi pencerahan yang menggiringinya. Pertarungan narasi dua kutup seperti inilah yang penulis sebut sebagai pertarungan narasi penguatan deradikalisasi.

Menjadikan stretegi menulis sebagai wahana melawan teroris juga secara tidak langsung akan meningkatkan literasi publik yang bukan saja soal anti teroris, namun juga memperkuat karakter masyarakat dalam memberi kekuatan bangsa berbasis literasi. Hal ini sungguh strategis seiring minat menulis di republik ini masih rendah berbarengan dengan minat literasi dalam pemaknaan umum.

Dalam konteks ini sejatinya setiap pikiran yang progresif dalam melawan teroris harus dituangkan dalam bentuk tulisan dan dipublikasikan di setiap instansi pemerintahan. Langkah ini paling tidak dapat dijadikan sebagai upaya pencegahan dini bagi pihak internal pemerintahan agar tidak bekerjasama dengan teroris. Fakta telah membuktikan bahwa bukan saja kalangan eksternal pemerintah yang dikaderkan sebagai teroris, tetapi juga para internal pemerintah seperti Aparatur Negeri Sipil (ASN) juga ada yang terseret dalam pemahaman radikalisme dan terorisme.

Realitas aksi teroris masa kini senantiasa membuka paradigma publik atau kaum intelektual bahwa menulis patut terus digairahkan sebagai strategi perlawanan. Meski perlawanannya bersifat laten, namun hasilnya memiliki dampak yang efektif dan berjangka panjang.

Boleh jadi perlawanan melalui menulis ini sifatnya pencegahan maupun pencerahan agar Indonesia benar- benar jauh dari yang namanya aksi teroris.

Akhirnya, sebagai warga negara yang sepakat bahwa terorisme adalah kejahatan luar biasa dan menjadi musuh agama, sudah saatnya dapat melibatkan diri dalam upaya melawan terorisme berbasis literasi, minimal jika belum mampu menulis secara utuh terkait pencegahan dan penolakan terorisme, paling tidak dapat terlibat aktif dalam membaca tulisan-tulisan terkait anti radikalisme dan terorisme.

Sederhanya, ketika publik di negeri tidak mampu melawan teroris, maka sudah sewajarnya untuk mampu manjaga dirinya agar tak terjerumus ke dalam sel atau aksi terorisme.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved