Breaking News:

Aceh Dikenal Penghasil Rempah Kualitas Terbaik

Masa kejayaaan di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda dari 1607 sampai 1636, Aceh dikenal memiliki pengaruh besar

SERAMBI FM/ARDIAN
Ketua Manassa Aceh, Hermansyah MTh MHum (kiri) dan Kepala BPCB Aceh-Sumut, Drs Numatias, menjadi nara sumber talkshow di Radio Serambi FM 90.20 Mhz, bersama Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh, mengangkat Tema ‘Menelusuri Rempah Aceh dalam Manuskrip dan Cagar Budaya’ dipandu host Rangga Ariga, Sabtu (10/04/2021). 

BANDA ACEH - Masa kejayaaan di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda dari 1607 sampai 1636, Aceh dikenal memiliki pengaruh besar. Bahkan reputasinya begitu kuat di mata dunia waktu itu, terutama dari segi perdagangan hasil bumi Aceh yang memiliki kualitas terbaik dengan sumber yang sangat melimpah dan banyak.

Malah waktu itu rempah-rempah Aceh menjadi alat diplomasi serta promosi ke eropa serta sejumlah negara di berbagai benua lainnya. Bukti-bukti tersebut masih dapat dilihat di dalam sejumlah manuskrip (naskah kuno) yang tersisa dan menunjukkan bahwa masa Kesultanan Aceh Sultan Iskandar Muda yang paling besar dan berkuasa pada saat itu.

Hal itu disampaikan Ketua Masyarakat Pernaskahan Masyarakat (Manassa) Aceh, Hermansyah MTh MHum yang menjadi nara sumber pada talkshow ‘Menelusuri Rempah Aceh dalam Manuskrip dan Cagar Budaya’ di Serambi FM, Sabtu (10/4/2021).

Talkshow kerja sama Radio Serambi FM 90.2 MHz dengan Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh yang turut  menghadirkan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh-Sumut, Drs Numatias itu, dipandu oleh Rangga Ariga.

Menurut Hermansyah, bila berbicara tentang rempah, Aceh memiliki kaitan erat dan tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Lalu, pada masa kesultanan hasil bumi Aceh memang dikenal memiliki kualitas terbaik dengan sumber yang melimpah dan banyak.

"Hal ini lihat dari manuskrip, dimana Sultan Iskandar Muda pernah mengirimkan surat ke raja Inggris dan Sultan Alaudin Mukamil juga pernah mengirim surat ke Turki sekaligus membawa serta dengan rempah-rempah dan hasil bumi Aceh lainnya untuk dipromosikan. Bahkan di dalam naskah Hikayat Aceh,  disebutkan ada salah satu Sultan Turki yang sakit mengutus utusannya agar mencari obatnya di Aceh," ujar Hermansyah.

Namun, kini Aceh secara geografis dengan saat itu sangat berbeda, karena waktu itu sebagian besar kerajaan-kerajaan yang juga terdapat di pulau Sumatera dan wilayah lainnya saling bekerja sama dan menguatkan untuk mempromosikan hasil bumi.

"Hal itu semua tercatat di dalam manuskrip mulai abad ke-15 sampai abad ke-21 era kolonial. Itu semua ada catatannya, baik dagang, diplomasi, dan rempah-rempah. Ternyata di dalam manuskrin rempah-rempah juga dipakai untuk pengobatan," sebut Hermansyah.

Sementara Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh-Sumut, Drs Numatias menjelaskan dari sisi cagar budaya dalam proses sejarah ada dua kerajaan yang cukup besar, yakni Samudera Pasai  (Aceh Utara abang ke-13) dan Aceh Darussalam (Banda Aceh abad ke-15). 

"Kalau dilihat sisi cagar budaya, banyak warisan budaya berupa benda, struktur dan bangunan, situs serta kawasan-kawasan yang memiliki nilai penting untuk ilmu pengetahuan. Bahkan kami juga menemukan artefak atau benda arkeologi peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan rempah-rempah," pungkas  Numatias.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved