Breaking News:

Opini

Kisah Kereta Api Paling Lambat di Dunia

Sewaktu saya kecil lagu “Naik Kereta Api” merupakan lagu favorit anak-anak masa itu. Kedengaran hanya biasa, tetapi sesungguhnya

hand over dokumen pribadi
CHAIRUL  BARIAH, Wakil Rektor II Uniki,  Dosen FE Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Lhokseumawe 

CHAIRUL  BARIAH, Wakil Rektor II Uniki,  Dosen FE Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Lhokseumawe

Sewaktu saya kecil lagu “Naik Kereta Api” merupakan lagu favorit anak-anak masa itu. Kedengaran hanya biasa, tetapi sesungguhnya mengajak kita untuk memperkenalkan dan mencintai salah satu moda transportasi umum yang banyak disukai oleh masyarakat, terutama di Pulau Jawa, Sumatra, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Menurut sejarah dari beberapa referensi, kereta api di Indonesia dibangun oleh Belanda pada masa tanam paksa antara tahun 1830-1850. Tujuannya adalah untuk mengangkut hasil pertanian yang akan dipasarkan ke luar negeri dari pedalaman menuju pelabuhan di kota serta mengangkut serdadu Belanda menuju wilayah jajahan yang akan dikuasai.

Untuk pertama kali Kereta Api Indonesia diresmikan tanggal 28 September 1945 pada saat pengambilalihan stasiun dan kantor kereta api dari penjajah Jepang yang sebelumnya mereka kuasai.

Sedangkan kereta api di Aceh tempo dulu dikenal dengan nama “Atjeh Tram”. Rel kereta api pertama dibangun di Aceh dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Kutaraja (Banda Aceh) pada tanggal 26 Juni 1874 atas perintah Gubernur Militer Belanda. Selanjutnya, mulai diperluas ke beberapa daerah, termasuk jalur menuju Lhokseumawe melalui Stasiun Kereta Api Bireuen, tak jauh dari di depan Pendopo Bupati Bireuen sekarang.

Kereta Api Bireuen itu kini tinggal kenangan. Untuk mencari tahu informasinya saya pernah bertanya kepada Ustaz Harun Ismail, salah seorang warga Matangglumpang Dua, sebelum beliau meninggal tahun 2000. Dia bercerita bahwa dulu untuk mengangkut hasil bumi banyak pedagang yang menggunakan moda transportasi ini, di samping itu juga untuk mengangkut serdadu Jepang.

Monumen Perang Krueng Panjo adalah salah satu bukti sejarah perlawanan para mujahid Aceh terhadap tentara Jepang. Saat itu para serdadu Jepang menggunakan kereta api  menuju Bireuen, lalu diserang setiba di Krueng Panjoe dan Pante Gajah, Kecamatan Peusangan.

Saya tertarik menyusuri sejarah kereta api di Bireuen. Ide rencana pertama untuk menghidupkan kembali pembangunan jalur kereta api di Aceh datang dari Ibu Megawati, Presiden Kelima RI dan dilaksanakan oleh presiden berikutnya.

Alhamdulillah, masyarakat Aceh sudah dapat menikmati naik kereta api dengan nama Cut Meutia, khususnya masyarakat Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.  Hari libur kemarin saya mengajak keluarga untuk menikmati perjalanan singkat naik kereta Api. Stasiun yang aktif saat ini adalah dari arah Bireuen menuju Lhokseumae: Krueng Mane–Bungkaih–Krueng Geukeuh dengan jarak tempuh 15 km.

Sedangkan Stasiun Gandapura masih kosong, belum ada perlengkapan. Sejauh amatan saya, untuk fasilitas gedungnya sudah memadai. Saat kami kunjungi, gedung itu dijaga oleh petugas keamanan yang berasal dari warga Cot Seurani, daerah lokasi stasiun itu berada. Gedung yang bagus ini terkesan mubazir bila tak digunakan, bahkan sudah ditumbuhi rumput. Padahal, dana yang dikeluarkan pemerintah untuk membangun stasiun ini tidaklah sedikit.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved