Breaking News:

Pasutri Selundupkan Rokok ke Tamiang

Pasangan suami istri (pasutri) asal Jambi yang diduga terlibat penyelundupan rokok ilegal ke Aceh Tamiang diringkus polisi

Foto Bea Cukai Langsa
Petugas Bea Cukai dan Polres Aceh Tamiang usai mengamankan pelaku san rokok ilegal, di Mapolres Aceh Tamiang. 

KUALASIMPANG – Pasangan suami istri (pasutri) asal Jambi yang diduga terlibat penyelundupan rokok ilegal ke Aceh Tamiang diringkus polisi saat melakukan aksinya, Minggu (11/4/2021). Puluhan dus berisi rokok tanpa pita cukai disita sebagai sebagai barang bukti.

Upaya penyelundupan ini dilakukan H (40) bersama istrinya D atau Y (30) serta R (25). Ketiganya merupakan warga Jambi yang berperan sebagai kurir membawakan puluhan dus rokok Luffman menggunakan truk BH 8276 SJ.

Kasat Reskrim Polres Tamiang, AKP Agus Riwayanto memastikan kalau rokok yang diangkut tersangka merupakan produk ilegal karena tidak dilengkapi pita cukai. Hal ini diketahui setelah petugas menggiring truk tersebut ke Mapolres Tamiang dan membuka satu dus muatan truk itu.

“Kami sudah membongkar satu dus untuk sampel, hasilnya ditemukan rokok dalam jumlah banyak yang tidak dilengkapi pita cukai,” kata Agus.

Agus menjelaskan, penangkapan ini mereka lakukan bersama tim Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kanwil Aceh. Dijelaskannya tim BC telah mengikuti truk itu dari wilayah Sumatera Utara. “Dalam koordinasi, kami mengadang truk di perbatasan dan selanjutnya truk tersebut kai giring ke Mapolres Tamiang,” jelasnya.

Agus menambahkan, dalam kasus ini pihaknya hanya membantu proses penangkapan, sedangkan penyidikan akan dilakukan di Ditjen Bea dan Cukai Kanwil Aceh. “Sesuai kewenangannya, kasus ini akan kami limpahkan ke Bea dan Cukai,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kasi Penindakan II DJBC Kanwil Aceh, Umar Syarif yang ikut dalam operasi penangkapan mengungkapkan, pihaknya sudah membuntuti truk tersebut sejak dari wilayah Sumatera Utara. Pergerakan truk ini diakuinya sudah lama diawasi, menyusul maraknya laporan warga mengenai peredaran rokok tanpa pita cukai. “Kami kemudian berkoordinasi dengan Polres Aceh Tamiang untuk menunggu truk tersebut di perbatasan,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, peredaran rokok tanpa dilengkapi pita cukai diperjualbelikan secara bebas di Tamiang. Rokok yang diduga ilegal ini dengan mudah ditemukan di sejumlah warung dan dikonsumsi secara terang-terangan di tempat umum.

Umumnya rokok ini dijual dengan harga lebih murah dibanding rokok yang dilengkapi pita cukai, sehingga langsung memiliki konsumen tetap. “Cuma Rp 10 ribu sebungkus, kalau yang ada pitanya sudah 20 sampai 30 ribu,” kata seorang warga, Minggu (28/3/2021).

Warga tersebut tidak memungkiri miringnya harga hingga lebih 50 persen diduga kuat disebabkan tidak adanya pita cukai.“Kalau ada pitanya, pasti udah sama dengan yang lain harganya, mahal,” ujar warga tersebut.

Diupah Rp 8 Juta

Tersangka H (40) yang berperan sebagai sopir satu dalam kasus ini sama sekali mengaku tidak tahu barang yang diangkutnya produk ilegal.

H mengatakan, dirinya hanya disuruh oleh temannya selaku pemilik truk untuk mengantarkan barang ke Aceh Tamiang. “Gak tahu isinya apa, saya pikir cuma kulit jok mobil,” kata H.

Dia mengaku tertarik menjalankan misi ini karena tergiru upah Rp 8 juta. Namun uang ini bukan sepenuhnya untuk dia, melainkan dibagi tiga. “Bagi tiga, saya, dia (tersangka R) –sebagai sopir dua—sama yang punya truk,” ujarnya.

H memastikan istrinya, D atau Y tidak terlibat dalam kasus ini. Dia mengungkapkan, keberadaan istrinya di dalam truk karena kondisinya sedang sakit. “Dia sakit pak, makanya saya bawa,” ujarnya.(mad)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved