Breaking News:

Masjid Tgk Dianjong, Pusat Manasik Haji Era Kesultanan

MELIHAT Masjid Tengku (Tgk) Dianjong, jauh berbeda dengan mayoritas masjid di Aceh yang bernuansa mughal

Editor: bakri
SERAMBI/MUHAMMAD NASIR
Keindahan Masjid Tgk Dianjong, di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, masih terlihat. 

MELIHAT Masjid Tengku (Tgk) Dianjong, jauh berbeda dengan mayoritas masjid di Aceh yang bernuansa mughal. Masjid ini tidak memiliki kubah, tapi hanya berupa atap yang mengerucut, perpaduan arsitektur Cina dan Melayu.

Meskipun bangunannya tampak sederhana, masjid yang dibangun pada abad ke-17 ini, memiliki sejarah panjang. Mulai era kesultanan, pendudukan Belanda, hingga bencana tsunami.

Masjid Tgk Dianjong terletak di tepi Krueng Aceh, tepatnya di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Di dalam kompleks masjid ini juga terdapat makam dari sang pendiri masjid, serta beberapa para alim ulama lainnya.

Masjid Tgk Dianjong menjadi cikal bakal Aceh mendapat julukan “Serambi Mekkah”. Pasalnya dulu tempat ini menjadi pusat manasik haji bagi jamaah dari seluruh Indonesia.

Berdasarkan catatan beberapa sumber, Masjid ini didirikan oleh Habib Abubakar bin Husein Bilfaqih pada tahun  1769. Oleh masyarakat Aceh, sang pendiri dijuluki Tengku Dianjong. Yang artinya yang disanjung atau dimuliakan. Julukan pemberian masyarakat Aceh ini ditabalkan menjadi nama masjid.

Pengkhidmat Makam, Fahmi, kepada Serambi, Sabtu (9/10/2021) mengatakan, berbicara sejarah masjid, tentu juga harus berbicara sejarah makam Habib Abubakar yang ada di kompleks tersebut. Karena Habib Abubakar merupakan sosok dibalik bangunan itu.

Fahmi menjelaskan, Habib Abubakar merupakan seorang ulama asal Arab, tepatnya dari Hadramaut atau Tarim, Yaman. Ia kemudian menuntut ilmu ke Madinah, selepas khatam ilmu agama, ia pun berkelana ke Aceh. Pada masa itu, tahun 1700-an, Kesultanan Aceh merupakan Kerajaan Islam yang masyhur di kawasan Selat Melaka.

Setiba di Aceh, Habib Abubakar langsung mengambil tempat di tepi Krueng Aceh tersebut, kini Peulanggahan. Awalnya yang didirikan di tempat itu berupa bangunan dayah, tempat mengajarkan ilmu agama islam untuk  santri dari berbagai daerah di nusantara.

Menurut Fahmi, meskipun tidak bisa dipastikan kebenarannya, Raja Trumon merupakan salah satu murid jebolan dari Dayah Tgk Dianjong ini. Selain itu, Tgk Dianjong dan istrinya, Syarifah Fatimah binti Sayyid Abdurrahman Al-Aidid juga menjadikan dayah itu sebagai pusat manasik haji di pintu gerbang Selat Malaka.

“Saat itu, jamaah dari Indonesia singgah di sini untuk melakukan manasik haji, sebelum mereka bertolak ke Arab dengan kapal laut melalui Gampong Jawa,” ujar Fahmi.

Catatan sejarah, jamaah yang melakukan manasik haji juga berasal dari semenanjung Melayu atau kini dikenal dengan Malaysia dan Singapura. Para jamaah menepati pondok-pondok di sekitar masjid, seraya belajar tata cara ibadah haji.

Karena peran Masjid Tgk Dianjong sebagai pusat manasik haji dan persinggahan wajib sebelum ke Mekkah, akhirnya menjadi cikal bakal Aceh dijuluki “Serambi Mekkah”. Habib Abubakar mengkhidmatkan hidupnya di Aceh hingga akhir hayat. Makam dirinya, istrinya, dan beberapa muridnya berada satu komplek dengan masjid.

Sejak tahun 1700-an hingga 2004, Masjid Tgk Dianjong berkontruksi kayu. Bencana tsunami menghancurkan seluruh bangunan, sehingga kini masjid dibangun kembali dengan konstruksi beton, namun tetap mempertahankan wujud dan arsitektur lama.

Fahmi mengatakan, kini Masjid Tgk Dianjong dan makam Habib Abubakar, setiap tahunnya diziarahi oleh ribuan orang dari berbagai provinsi di Indonesia maupun Malaysia. “Biasanya menjelang Ramadhan ada ribuan orang yang berziarah ke masjid dan makam ini, tidak hanya dari Indonesia tapi juga ada dari Malaysia. Tapi sudah dua tahun ini sepi karena pandemi covid-19,” tutupnya.(muhammad nasir)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved