Breaking News:

Internasional

Uni Eropa Jatuhkan Sanksi ke Komandan Milisi, Kepala Polisi dan Kepala Pengawal Revolusi Iran

Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap delapan komandan milisi Iran dan kepala polisi, termasuk kepala Pengawal Revolusi elit.

Kantor Pers Iran/Handout/Anadolu Agency
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (4 dari kanan), Presiden Iran Hassan Rouhani (5 dari kanan), pemimpin baru Pasukan Quds Jenderal Esmail Qaani (2 dari kanan), komandan Korps Pengawal Revolusi Islam Hossein Salami (4 dari kiri), Ketua Parlemen Iran Ali Larijani (5 dari kiri) menghadiri upacara pemakaman Qasem Soleimani, di Teheran, Iran pada 6 Januari 2020. Mayor Jenderal Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds Pengawal Revolusi Iran, tewas dalam serangan udara drone AS di Irak, Jumat (3/1/2020) dinihari. 

SERAMBINEWS.COM BRUSSELS - Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap delapan komandan milisi Iran dan kepala polisi, termasuk kepala Pengawal Revolusi elit.

Atas tindakan keras mematikan pada November 2019, kata blok Eropa itu dalam Jurnal Resmi pada Senin (12/4/2021).

Larangan perjalanan dan pembekuan aset adalah sanksi Uni Eropa pertama terhadap Iran atas pelanggaran hak asasi manusia sejak 2013 dan persiapannya pertama kali dilaporkan oleh Reuters bulan lalu.

Dilanir AFP, blok itu, yang juga menghantam tiga penjara Iran dengan pembekuan aset, memasukkan Hossein Salami ke daftar hitam.

Baca juga: Prancis Tuduh Turki Sengaja Menghina Ketua Komisi Uni Eropa

Seorang kepala Pengawal Revolusi, pasukan keamanan paling kuat dan bersenjata lengkap di negara itu.

“Hossein Salami mengambil bagian dalam sesi yang menghasilkan perintah untuk menggunakan kekuatan mematikan untuk menekan protes November 2019," kata UE.

Oleh karena itu, Hossein Salami memikul tanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang serius di Iran.

Sekitar 1.500 orang tewas selama kurang dari dua minggu kerusuhan yang dimulai pada 15 November 2019.

Menurut jumlah korban yang diberikan kepada Reuters oleh tiga pejabat kementerian dalam negeri Iran pada saat itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan jumlahnya setidaknya 304.

Baca juga: Utusan Uni Eropa Nilai Arab Saudi Sangat Penting, Akhiri Berbagai Konflik Dunia

Iran menyebut jumlah korban yang diberikan oleh sumber "berita palsu."

Pada 9 Maret 2021, pelapor khusus PBB tentang situasi hak asasi manusia di Iran, Javaid Rehman, mempresentasikan laporan.

Dia mengatakan Teheran menggunakan kekuatan mematikan selama protes dan menegurnya karena gagal melakukan penyelidikan yang tepat atau gagal meminta pertanggungjawaban siapa pun.

Baca juga: Masalah Pasokan Listrik Guncang Fasilitas Nuklir Natanz Iran

Individu lain yang menjadi sasaran sanksi UE, yang mulai berlaku pada hari Senin, termasuk anggota milisi garis keras Basij Iran, yang berada di bawah komando Pengawal Revolusi, dan kepalanya Gholamreza Soleimani.

Iran telah berulang kali menolak tuduhan Barat atas pelanggaran hak asasi manusia.(*)

Editor: M Nur Pakar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved