Breaking News:

Iskandar Ali, Pedagang Aceh Pasar Minggu: Ke Jakarta Cari Hidup Lebih Baik, Terapkan Manajemen Qalbu

Api menjalar begitu cepat. Langsung melahap seisi kedai milik Iskandar Ali, salah seorang pedagang asal Aceh yang berjualan di PD Pasar Jaya....

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Iskandar Ali, pedagang asal Aceh yang berjualan Pasar Minggu Jakarta. 

Laporan Fikar W Eda |  Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Api menjalar begitu cepat. Langsung melahap seisi kedai milik Iskandar Ali, salah seorang pedagang asal Aceh yang berjualan di PD Pasar Jaya, Pasar Minggu, Jakarta. Pada Senin (12/3/2021) malam lalu, pasar milik Pemda DKI Jakarta itu mengalami musibah kebakaran menghanguskan dua lantai, yakni Lantai Dasar dan Lantai 1.

Iskandar Ali yang berjualan sembilan bahan pokok atau sembako, tidak sempat menyelamatkan barang dagangannya, karena api melahap sangat cepat.  Ia mengatakan, anaknya yang  menjaga kedai, sudah menutup kedai dan berangkat ke masjid untuk shalat maghrib, dilanjut shalat Isya dan tarawih. Sebab pada malam itu adalah malam satu Ramadhan 1422 Hijriah.

“Lebih kurang kerugian saya Rp 200 juta, sebab semua stok barang habis,” kisah Iskandar Ali kepada Serambinews.com, Rabu (14/4/2021).

Asal api tidak jauh dari kedai miliknya. Tapi ia tidak tahu sebab-sebab kebakaran.

“Kejadiannya setelah azan maghrib. Begitu tiba-tiba dan sangat cepat,” kata Iskandar Ali dalam bahasa Aceh.

Di dua lantai itu, terdapat 50 pedagang asal Aceh yang berjualan sembako, makanan, rempah dan sebagainya. Iskandar sendiri berdagang di sana sejak 1990.

Awalnya ia bekerja dengan orang lain, tapi empat tahun kemudian, pada 1994, ia membuka usaha dagang sendiri. Usaha dan kerja kerasnya terus membuahkan hasil. Pada 1999 ia berhasil membeli kedai yang sekarang ia tempati, seharga Rp 75 juta.

Pasar Minggu merupakan salah satu pasar terbesar di Jakarta. Secara keseluruhan di Pasar Minggu terdapat 300 pedagang asal Aceh, menempati berbagai blok di bangunan PD Pasar Jaya.

“Khusus di lokasi kebakaran, di Lantai 1 dan Lantai Dasar orang kita Aceh ada 50 orang, termasuk saya,” kata Iskandar Ali yang juga pengurus Taman Iskandar Muda (TIM) Cabang Pasar Minggu. TIM adalah organisasi  perkumpulan masyarakat  Aceh di Jabodetabek.

Iskandar hijrah ke Jakarta pada 1990. Di kampung menganggur dan sulit mendapat kerja. Ia  ingin mengubah nasib. Ia meninggalkan kampung halamannya, Gampong Kling Manyang, Kemukiman Aneuk Batee, Aceh Besar, berbekal tekad mencari penghidupan lebih baik dan layak di Ibukota Negara Republik Indonesia.

Tiba di Jakarta, Iskandar langsung bergabung dengan komunitas pedagang asal Aceh yang ada di Pasar Minggu. Mula-mula ia bekerja pada orang . Tapi lama  kelamaan, ia membangun usaha sendiri sehingga bisa mandiri. Ia bisa membeli kedai sendiri.

Iskandar Ali yang kini berusia 52 tahun, mengabarkan kesusksesannya kepada sanak famili dan kerabat di kampung. Ia pun kemudian  membawa anak-anak muda lain dari Aceh untuk  berjuang hidup di ibu kota, seperti yang ia lakoni sebelumnya.

“Sejak 1994, saya datang kan saudara dan kawan-kawan yang sedang menganggur di kampung. Alhamdulillah mereka juga berkembang ketika di Jakarta dan begitu seterusnya, saling membantu dan membangun,” ujar Iskandar Ali.

Ia mengistilahkan usaha mendatang kan saudara dan kawan-kawan dari kampung ke Ibu kota seperti praktik “multi level marketing” atau MLM. “Saling sambung menyambung, begitulah kita saling membantu,” ujar Iskandar Ali.

Usaha saling membantu ini didasari saling kepercayaan. “Manajemen kita adalah manajemen qalbu. Kita saling percaya satu sama lain. Bantuan yang diberikan termasuk juga modal usaha,” ujarnya.

Ia sendiri sudah sulit menghitung berapa banyak saudara dan kerabat yang didatangkan berdagang ke Jakarta. “Mungkin ratusan, dan sudah berpencar di banyak tempat, bukan lagi terbatas di Pasar Minggu,” ujar Iskandar.

Iskandar yang dikaruniai tujuh anak, dengan istri perempuan dari Aceh, juga salah seorang tokoh masyarakat Aceh di Pasar Minggu. Ia aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan menjadi Pengurus TIM, sebagai Ketua Bidang umum.

Iskandar mengatakan, memang belum ada satu badan atau lembaga yang memayungi pedagang-pedagang asal Aceh tersebut. “Belum ada  yang namanya koperasi atau lembaga tertentu. Sebab selama ini kita saling percaya saja dan saling, itu kuncinya. Tapi ke depan barangkali bisa juga ada lembaganya,” katanya.(*)

Baca juga: Sehari Sebelum Meugang, Sapi Seharga Rp 18 Juta Milik Warga Aceh Timur Hilang

Baca juga: Sinopsis Ikatan Cinta Malam Ini: Papa Surya Curigai Elsa, Desak Jujur sampai Panggil Riki

Baca juga: UMKM Indonesia Harus Naik Kelas, Airlangga Dorong Perbankan Naikkan Target Kredit hingga 35 Persen

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved