Breaking News:

Salam

Isu Pergantian Menteri Menggelinding Lagi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengajak Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin untuk membicarakan mengenai rencana reshuffle kabinet

Capture YouTube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengajak Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin untuk membicarakan mengenai rencana reshuffle kabinet. Wacana pergantian menteri ini sangat terkait dengan keputusan DPR yang menyetujui penggabungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), serta pembentukan Kementerian Investasi. “Tapi saya tidak bisa bicara lebih jauh karena kalau sudah ada saatnya akan ada pembicaraan spesifik," kata Jubir Wapres, Masduki Baidlowi, kepada pers dua hari lalu.

Dalam konteks penggabungan Kemenristek dan Kemendikbud, Wapres Ma'ruf Amin akan menyampaikan sejumlah arahan terkait kepegawaian. Sebab Wapres memang bertanggung jawab terkait masalah kepegawaian. Wapres Ma'ruf Amin akan bicara dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sedangkan soal Kementerian Investasi, Wakil Presiden berpendapat lembaga itu diperlukan terkait peningkatan investasi ke depan.

Isu atau wacana pergantian menteri adalah isu politik yang biasanya mengalahkan isu-isu lain lainnya. Peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, isu perombakan kabinet berimbas pada pertarungan opini. "Berbagai hal yang mengarah pada kinerja sejumlah menteri menjadi 'isu panas' yang tampak kuat berhubungan dengan wacana perombakan kabinet," kata Karyono Wibowo.

Namun demikian, siapapun harus ingat bahwa reshuffle kabinet adalah hak prerogatif Presiden yang harus dihormati semua pihak. Publik harus memberi kesempatan kepada Presiden untuk membuat keputusan yang terbaik. Dan, perombakan kabinet jangan dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Reshuffle kabinet harus dipahami sebagai spirit untuk memperbaiki kinerja pemerintahan.

Untuk menilai kinerja menteri, Presiden Jokowi pastilah memiliki alat ukur yang sudah dibuat sejak awal. Bila ada menteri yang menyimpang dari rel dan target, itulah alasan Presiden sehingga ia tidak ragu untuk mengganti menterinya.  Bisa juga aspek kontroversi menjadi salah satu pertimbangan Presiden. Maka, menteri‑menteri yang kerap menimbulkan polemik dan bertentangan dengan aspirasi rakyat pasti akan khawatir karena bisa saja diganti.

Presiden Jokowi sudah berkali-kali menegaskan bahwa perombakan bisa dilakukan kapan saja. "Bisa saja (reshuffle).  Bisa saja minggu depan, bisa saja bulan depan, bisa saja tahun depan," kata Presiden.

Yang paling menarik, Jokowi pernah mengatakan bahwa dia tidak memiliki beban apapun jika memang harus mengganti jajaran kabinetnya. Kepala Negara mengaku telah memiliki dasar sendiri dalam memperhtiungkan kinerja para menterinya. "Untuk kebaikan negara, semua akan saya lakukan," tegasnya.

Ya, selaku pemegang hak prerogatif,  Jokowi memang harus berani mengambil sikap sendiri yang bebas dari kepentingan partai politik. Sebab, Jokowi sempat menanggung beban berat usai kepercayaan masyarakat luntur akibat dua menteri tersandung korupsi dan penanganan Corona yang dinilai banyak kalangan belum maksimal.

Jadi, reshuffle kali ini juga mesti jadi momentum buat Pak Jokowi meningkatkan lagi kinerja menteri kabinetnya di tengah pandemi yang sudah sangat melemahkan perekonomian kita.

Banyak suara publik yang mendorong Jokowi untuk menunjuk menteri dari kalangan profesional yang dinilai bisa lebih cepat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Sama dengan keinginan Presiden, masyarakat pun saat ini membutuhkan menteri yang konsisten menjalankan program kerja dengan senantiasa introspeksi terhadap dampak yang terjadi.

Ya, mungkin di situlah titik kritis Jokowi apakah akan menjadikan kabinet sebagai lokomotif untuk mengimplementasikan visi‑misinya atau hanya sekadar sebagai kue bancakan untuk partai‑partai pengusungnya. Di era sekarang, mestinya  Jokowi-Ma’aruf sudah harus sangat konsen memenangkan hati rakyat daripada tunduk pada tekanan elite‑elite partai pendukungnya. Nah?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved