Breaking News:

Jembatan Rantau Terancam Ambruk, Banyak Material Hilang

Kerusakan titi kuning atau jembatan Rantau di Aceh Tamiang semakin parah menyusul patahnya sheet pile, dan hilangnya

Editor: bakri
Serambi Indonesia
Anggota DPRA, Asrizal Asnawi memperhatikan sheet pile di kolong Titi Kuning yang sudah patah dan dijebol arus sungai, Senin (12/4/2021). 

KUALASIMPANG – Kerusakan titi kuning atau jembatan Rantau di Aceh Tamiang semakin parah menyusul patahnya sheet pile, dan hilangnya sebagian material lantai jembatan. Warga berharap ada penanganan serius agar jembatan yang sudah berusia 51 tahun tersebut tidak ambruk.

Kerusakan ini terlihat jelas pada bagian sheet pile yang patah pada bagian atas. Sheet pile ini berada persis di bawah jembatan, sehingga gerusan air dikhawatirkan melemahkan pilar pondasi jembatan. Sheet pile adalah sebuah struktur yang didesain dan dibangun untuk menahan tekanan lateral (horizontal) tanah.

“Setiap banjir selalu terjadi longsoran baru, lebar sungai terus bertambah, termasuk sheet pile yang patah sudah dilewati air,” lapor Kepala Mukim Rantau, Miswan Zainal kepada Serambi, Senin (12/4/2021).

Miswan mengungkapkan, awalnya lebar sungai hanya seluas tiga kolom jembatan. Namun, abrasi yang selalu terjadi pada musim hujan membuat lebar sungai terus bertambah hingga kini menyebabkan tujuh kolom jembatan.

Menurutnya, potensi lebar sungai ini semakin bertambah sangat terbuka, mengingat tebing sungai sudah terlihat tidak kokoh. “Lihat saja sendiri, dinding sungai sudah retak, kalau ada banjir lagi, retakan ini pasti terbawa arus sungai,” ujarnya.

Kondisi tidak kalah memprihatinkan, disebutnya, terjadi pada lantai sungai yang terancam ambruk. Pasalnya, besi silang sebagai penyanggah lantai sudah hilang semuanya. “Dulu semuanya ada besi silang di bawah ini, sekarang lihat saja, sama sekali tidak ada. Hilang semuanya,” ujarnya.

Miswan berharap Pemerintah Aceh mencurahkan perhatiannya untuk mengatasi persoalan ini sebelum titi yang diresmikan tahun 1971 itu roboh. Dia mengingatkan, kalau titi ini merupakan jembatan utama yang menghubungkan tiga kecamatan, Bendahara, Rantau dan ibu kota Karangbaru.

“Dulu ketika Pertamina mengalami blow out (semburan liar), titi ini menjadi jalan utama, termasuk yang dari Kota Kualasimpang lewat sini,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jembatan ini dibangun Pertamina dan diresmikan oleh Direktur Utama PN Pertamina, Letjen H Dr Ibnu Soetowo pada 17 April 1970. Peresmian ini disebutnya sangat meriah karena dihadiri artis kenamaan saat itu, Titik Sandora. “Makanya orang zaman (dulu) bilang ini jembatan Titik Sandora,” katanya.

Anggota DPRA, Asrizal Asnawi mengaku, sudah mengusulkan Bappeda Aceh untuk memprioritaskan perbaikan titi kuning menggunakan APBA 2022. Usulan ini dilakukan usai beberapa kali melihat langsung kondisi titi yang sangat memprihatinkan.

“Jangan menunggu ada korban. Dengan kondisi begini, titi ini akan hancur bila kembali dihantam banjir,” kata Asrizal yang kembali meninjau titi tersebut, Senin (12/4/2021).

Asrizal mengungkapkan, dirinya sempat kecewa dengan sikap Bappeda Aceh yang masih mempersoalkan kewenangan titi itu. “Menurut Bappeda Aceh, titi ini belum pernah diserahkan ke provinsi, jadi belum terdaftar sebagai aset Pemerintah Aceh,” ungkapnya.

Asrizal menilai jawaban ini seakan ingin buang badan untuk melimpahkan beban perbaikan ke pemerintah daerah. “Hari gini seharusnya tidak ada lagi jawaban seperti itu. Kita harus utamakan kepentingan masyarakat, nanti kalau sudah ada korban jangan lagi saling menyalahkan,” jelasnya.(mad)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved