Breaking News:

Sejarah Berdiri Masjid Haji Keuchik Leumiek, Impian Haji Harun Selama 20 Tahun

MASJID megah yang terletak di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Luengbata, Banda Aceh atau lebih dikenal dengan Masjid Haji Keuchik Leumiek

Editor: bakri
SERAMBI/BUDI FATRIA
Masjid Haji Keuchik Leumiek, di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. 

MASJID megah yang terletak di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Luengbata, Banda Aceh atau lebih dikenal dengan Masjid Haji Keuchik Leumiek (HKL) memiliki sejarah panjang, meski proses pembangunannya tergolong cepat, hanya menghabiskan waktu sekitar 29 bulan.

Masjid yang juga dijuluki sebagai Masjid Emas Aceh ini merupakan satu diantara situs yang banyak dikunjungi warga, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, siapa sangka jika masjid yang bernuansa Timur Tengah dan bergaya Spanyol ini merupakan impian Alm Haji Harun selama 20 tahun.

Kepada Serambi, M Zawir Ghivari, cucu Alm Haji Harun, serta pengurus Masjid HKL Ustaz Jumaris dan M Kamaruzzaman HKL (putra Alm Haji Harun), Minggu (11/4/2021), menceritakan awal mula dan alasan dari Alm Haji Harun membangun masjid sampai kegiatan dilaksanakan di masjid setiap hari.

Sebagaimana yang diterangkan Zawir, kakeknya, Haji Harun, sudah lama berkeinginan membangun sebuah masjid. Meski keinginan itu sudah lama terpendam, namun impian itu akhirnya terwujud pada tahun 2019. Pada saat itu sang kakek tanpa sengaja terpikir membuat masjid pada lahan kosong peninggalan Ayahanda Haji Harun, yakni Haji Keuchik Leumik.

“Keinginan membangun masjid itu sudah dipendam selama 20 tahun, namun urung dilakukan karena terkendala lahan. Baru pada suatu sore, kakek terinspirasi pada lahan kosong ketika duduk menunggu azan Magrib di Balai Pengajian Haji Keuchik Leumiek,” ungkap Zawir.

Membangun sebuah masjid di Gampong Lamseupeung adalah keinginan Haji Harun. pria kelahiran 19 September 1942. Meski lahir dari keluarga bangsawan,  tidak membuat Haji Harus lupa akan akhirat, sehingga niatnya membangun masjid terus tertanam di dalam hatinya selama 20 tahun.

Setelah melihat lahan kosong yang berada dekat balai pengajian, malamnya Haji Harun langsung menyampaikan keinginannya untuk membangun masjid kepada sang istri (Salbiah). Istri Haji Harun pun merespon baik dan memberikan dukungan penuh.

Tak hanya berkonsultasi dengan sang istri, Haji Harun juga menyampaikan keinginannya itu kepada putranya, M Kamaruzzaman. Meski sempat berdiskusi panjang, namun M Kamaruzzaman sangat mendukung keinginan sang ayah membangun sebuah rumah Allah di Gampong Lamseupeung.

Meski keinginan membangun masjid mendapat dukungan penuh dari istri dan putranya, namun ada empat syarat yang harus dipenuhi, yaitu masjid yang dibangun harus sebagus mungkin, biaya pembangunan masjid murni dari keluarga alias tidak menerima bantuan sampai masjid selesai, nama masjid ditabalkan nama Haji Keuchik Leumiek (ayahanda Haji Harun), serta jangan memberitahu kepada siapapun mengenai biaya pembangunan masjid.

Setelah keempat syarat dipenuhi dan mendapat persetujuan keluarga, pada 19 Juli 2016 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Haji Keuchik Leumiek. Peletakan batu pertama pembangunan masjid saat itu dilakukan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Prof Dr H Azman Ismail, perangkat Gampong Lamseupeung dan keluarga Haji Harun.

Setelah pembangunanya selesai, pada tanggal 28 Januari 2019, Masjid Haji Keuchik Leumiek diresmikan oleh Plt Gubernur Aceh saat itu, Nova Iriansyah (sekarang Gubernur Aceh). Pengerjaan pembangunan masjid yang tergolong cepat, dengan melibatkan para pekerja dari Aceh, Sumatera Utara, dan Pulau Jawa, memakan waktu 2,4 tahun atau sekitar 29 bulan.

Sedangkan soal desain masjid, kata Zawir, murni hasil diskusi Haji Harun dengan putranya M Kamaruzzaman.

Setelah difungsikan, berbagai kegiatan keagamaan dilaksanakan di Masjid Hajir Keuchik Leumiek, mulai dari shalat lima waktu secara berjamaah, pengajian rutin yang dilaksanakan setiap Kamis dan Sabtu malam. Pengajiannya sendiri diisi dua ulama Aceh, yakni Ustaz Masrul Aidi dan Teungku Asnawi Ulee Titi.

Selain pengajian, Masjid HKL juga menggelar zikir bersama setiap Jumat malam pada awal bulan. “Peserta pengajian rutin dan zikir diikuti warga yang berasal dari Banda Aceh-Aceh Besar, dan sekitarnya, bahkan ada juga warga dari luar daerah,” kata Ustaz Jumaris.

Dikatakan, karena hampir seluruh bangunan Masjid Haji Keuchik Leumiek berwarna kuning keemasan, tak jarang masjid ini juga dijuluki sebagai Masjid Emas Aceh.

“Alhamdulillah pada akhir pekan,  Masjid HKL sering kedatangan tamu dari luar Aceh. Mereka sengaja datang untuk melihat keindahan masjid dan ada yang datang untuk melepaskan nazar shalat sunnah,” tutup Ustaz Jumaris.(syamsul azman)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved