Breaking News:

Jurnalisme Warga

Wisata Tsunami  di Kelas Mentoring Jurnalistik

Hari terlihat cerah sejak pagi. Hari ini matahari melaksanakan tugasnya di bumi seperti menemani hati saya yang sangat gembira

Wisata Tsunami  di Kelas Mentoring Jurnalistik
FOR SERAMBINEWS.COM
ISWAR HAMDI, Murid Madrasah Aliyah Baitul Arqam, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH ISWAR HAMDI, Murid Madrasah Aliyah Baitul Arqam, melaporkan dari Banda Aceh

Hari terlihat cerah sejak pagi. Hari ini matahari melaksanakan tugasnya di bumi seperti menemani hati saya yang sangat gembira, karena pada hari Minggu ini saya masih bisa bersekolah seperti biasa. Hari Minggu tetap sekolah? Ya, benar, di Baitul Arqam kami hanya libur pada hari Jumat dan hari-hari besar Islam. Jadi, pada hari Minggu kami tetap belajar seperti biasa, tapi ada yang menyenangkan pada  Minggu kali ini, yakni kami akan mengadakan praktik reportase di kelas Mentoring Jurnalistik.

Saat itu adalah waktunya istirahat sekolah pukul 11.30 WIB, Minggu, (28/3/2021), saya bersama teman-teman dijemput menggunakan bus untuk melakukan reportase ke beberapa tempat wisata Banda Aceh, khususnya tempat wisata yang berkaitan dengan sejarah tsunami.

Kelas mentoring ini di bawah bimbingan Bunda Aini dan semester ini ada guru tamu yang istimewa, beliau adalah jurnalis dan juga penulis, seorang pegiat literasi yang aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe) di bawah binaan Pak Yarmen Dinamika, kami memanggilnya dengan Kak Ihan. Lengkahnya, Ihan Nurdin.

Minibus yang kami tumpangi melaju dengan perlahan. Sopir bus membawa kami menuju ke tempat yang sudah kami rencanakan, yaitu destinasi wisata tsunami di seputaran Banda Aceh. Pemandangan kanan kiri yang indah membuat kami melupakan sejenak tugas-tugas yang menumpuk di sekolah. Maklum saja, anak pesantren memang jarang sekali keluar berjalan-jalan. Sebagai bentuk syukur dan pengabdian kami kepada Allah atas segala nikmat-Nya, kami pun tak lupa berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat Zuhur di Masjid Taqwa Muhammadiyah, Banda Aceh. Saat itu lima menit lagi azan Zuhur akan berkumandang.

Masjid Taqwa yang terletak di jalan protokol itu baru saja dipugar. Saya berhenti sejenak untuk sekadar mengagumi keindahan ukiran-ukiran di dinding depan masjid, desain arsitektur yang unik di masjid-masjid sekitar Banda Aceh memang membuat kita terkesima, ini juga menjadi salah satu nilai tambah ketika mengunjungi provinsi yang dijuluki Serambi Mekah ini.  Masjid Taqwa dibangun dengan tiga lantai. Lantai yang biasa digunakan untuk salat ada di adalah lantai kedua.

Setelah melaksanakan shalat Zuhur, kami pun makan siang dan istirahat sejenak di Lapangan Blang Padang. Lapangan itu sangat luas, rumputnya hijau dan rapi. Terdapat tembok kecil yang mengelilinginya. Lapangan tersebut terbagi menjadi empat oleh jalan yang berbetuk letter T. Di pinggiran jalan tersebut, banyak para pedagang  yang menjual bermacam-macam barang dan makanan, seperti bakso, es krim, jus, kentang goreng. Ada pula lapak untuk kegiatan melukis anak, mainan anak anak, dan masih banyak lagi.

Usai istirahat dan makan siang, tujuan wisata kami yang pertama ialah Museum Tsunami. Karena dari lapangan Blang Padang, gedung itu bisa kami tempuh berjalan kaki. Siapa yang tidak tahu Museum Tsunami? Saya yakin, semua masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya pasti pernah berkunjung ke tempat wisata tersebut, kalau tidak masuk, paling tidak akan selalu melihat bangunannya dari pinggir jalan raya. Warga Aceh yang sedang berkunjung ke ibu kota provinsi, pasti juga mengunjungi Museum Tsunami. Museum ini juga menjadi destinasi wisata bagi orang luar Aceh ketika berkunjung ke Banda Aceh.

Bangunan museum itu unik dan kabarnya mengandung filosofis tertentu. Arsiteknya berasal dari Bandung, Ridwan Kamil yang kini Gubernur Jawa Barat sejak tahun 2018. Gedung ini berbentuk melingkar dengan dinding yang bermotif ukiran menyerupai anyaman, dicat abu-abu menjadikan gedung itu terlihat unik dan modern. Gedung memiliki struktur empat lantai dengan luas 2.500 meter persegi.  Di dalamnya terdapat banyak informai mengenai kejadian tsunami tahun 2004 dan edukasi-edukasi mengenai kebencanaan.

Selain perannya sebagai tugu peringatan, gedung ini juga berfungsi sebagai tempat perlindungan dari bencana tsunami di masa depan, yaitu berfungsi sebagai “bukit pengungsian”. Di dalamnya terdapat foto-foto kejadian tsunami, nama-nama korban tsunami, letak-letak kuburan massal, dan masih banyak lagi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved