Breaking News:

Polemik Kualitas Vaksin, Siapa Yang Jadi Korban?

Pekan ini, Indonesia dan beberapa negara lainnya sedang berpolemik hebat mengenai kualitas vaksin untuk memagari serangan Covid-19

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO
Tenaga kesehatan menunjukkan vaksin Sinovac Covid-19 saat pelaksanaan vaksin untuk tenaga medis di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta 

Pekan ini, Indonesia dan beberapa negara lainnya sedang berpolemik hebat mengenai kualitas vaksin untuk memagari serangan Covid-19. Di Indonesia, vaksin Sinovac produksi China yang yang dipakai dalam program vaksinasi sejak lebih sebulan terakhir, dipersoalkan kualitasnya karena belum bersertifikat dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Bahkan, karena status Sinovac seperti itu, Pemerintah Arab Saudi melarang masuk calon jamaah yang disuntik dengan vaksin tersebut. Otoritas Kerajaan Saudi Arabia hanya membolehkan masuk jamaah yang disuntik dengan vaksin bersertifikat WHO.  

Selain vaksin Sinovac, di Indonesia, keberadaan vaksin Nusantara produk dalam negeri juga sedang dipersoalkan kalangan dokter. Ketua Satuan Tugas Ccovid‑19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban meminta tim peneliti untuk menjelaskan ke publik secara lengkap soal Vaksin Nusantara.

Zubairi mengatakan proses pembuatan vaksin gagasan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto itu harus dijelaskan secara saintifik, karena Badan Pengawas Obat dan Makanan menyatakan vaksin ini belum bisa lanjut ke uji klinis fase II. IDI mengingatkan, proses pengembangan vaksin atau obat yang benar secara saintifik atau evidence based medicine (EBM) wajib dilakukan alias tidak bisa ditawar. "Tanpa bermaksud tendensius, saya ingin pihak Vaksin Nusantara menjelaskan kepada publik, kenapa tetap ingin melaksanakan uji klinis fase dua. Padahal BPOM belum keluarkan izin untuk itu."

Yang bikin IDI geram karena vaksin itu dianggap mendapat dukungan dari kalangan DPR-RI. Karena, para anggota DPR malah disuntik dengan Vaksin Nusantara. “Relawannya pun DPR. Ini benar‑benar ganjil. Saya pribadi kesulitan meyakinkan diri atau percaya terhadap Vaksin Nusantara. Pasalnya uji klinis satunya juga belum meyakinkan," ucapnya.

Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) serta  Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) setempat pada Selasa 13 April 2021 merekomendasikan penghentian penggunaan vaksin Covid‑19 dari Johnson & Johnson. Itu merupakan langkah kehati‑hatian menyusul laporan kasus penggumpalan darah yang langka pada enam orang penerima vaksin tersebut.

Penggunaan vaksin memang acap memunculkan pro dan kontra di banyak negara. Di Indonesia, walau  Presiden menjadi contoh program vaksinasi Covid‑19, tetap memunculkan sentimen negatif  masyarakat. Ini artinya, untuk meyakinkan masyarakat tentang manfaat vaksinasi Covid‑19 harus ditunjang pula dengan bukti efektivitas dan keamanan yang jelas dan diinformasikan secara lengkap.

Untuk Indonesia, pemerintah sudah menjelaskan bahwa pada aspek keamanan, vaksin yang saat ini sudah hadir di Indonesia yaitu Sinovac terbukti aman pada pengujian klinis fase 1 selain itu juga secara konsep vaksin Sinovac dibuat melalui inactivated virus vaccine atau vaksin yang telah dimatikan. MUI juga sudah melakukan audit terkait dengan kehalalan dan kesucian dari vaksin Sinovac.

Hasil kemanjuran menunjukkan pada hasil uji klinis di Indonesia yaitu 65%. Nilai tersebut menunjukkan kemanjuran dari vaksin walaupun ada 35% kemungkinan masyarakat yang sudah menerima vaksin memiliki risiko terinfeksi walaupun sudah diberikan vaksinasi.

Bukti yang lain yang menguatkan program vaksinasi pada pandemi ini adalah adanya risiko yang minimal seseorang yang telah diberikan vaksin mendapatkan infeksi bergejala berat. Sehingga ketika gejala berat dapat diminimalisir maka kemungkinan jumlah virus dalam tubuh pasien yang dapat ditularkan kepada orang lain juga menjadi lebih kecil. Dan, pemberian vaksin dua tahap bermanfaat untuk memberikan respons imunitas yang maksimal dengan terbentuknya antibodi yang lebih optimal setelah proses penyuntikan vaksinasi dua tahapan.

Terkait dengan sertifikat WHO, ini tentu urusan pihak produsen. Dan, kita berharap pihak produsen Sinovac bisa meyakinkan WHO untuk mendapatkan sertifikat sehingga masyarakat muslim Indonesia yang sudah disuntik vaksin itu bisa mendapat kesempatan berumrah dan berhaji kelak. Insya Allah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved