Breaking News:

Seniman Musik ISI Yogya, Hardiansyah Ay, Mengaku Baru Tahu Gayo Punya Instrumen Musik Dawai "Rebeb"

Seniman musik asal Gayo Aceh Tengah alumni  program pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Hardiansyah Ay mengaku baru...

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Hardiansyah Ay. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Seniman musik asal Gayo Aceh Tengah alumni  program pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Hardiansyah Ay mengaku baru mengetahui bahwa Gayo juga memiliki instrumen musik dawai, seperti ditulis penulis barat, J Kreemer dalam buku "ATJEH ALGEMEEN SAMENVATTEND OVERZICHT VAN LAND EN VOLK VAN ATJEH EN ONDERHOORIGHEDEN,” (1922, halaman 396).

Alat musik dawai tersebut bernama “Rebeb” atau “Harebeb” yakni alat musik menggunakan senar,  mirip “lebiola” atau “bilhola.”

“Ini merupakan informasi baru bahwa Gayo memiliki instrumen musik dawai, sebab jika ditelusuri sejauh ini belum ditemukan adanya keterkaitan bentuk-bentuk kesenian musikal tradisional di Gayo yang komposisi musiknya berisikan instrumen berdawai,” ujar Hardiansyah, yang lahir di Takengon 11 November 1991.

Ia menjelaskan, yang umum diketahui saat ini, kesenian musikal tradisional Gayo tumbuh tanpa instrumen musik yang ada di luar tubuh manusia, seperti didong dan saman yang menggunakan perkusi tubuh dan vokal sebagai pengiring atau pepongoten yang juga menggunakan vokal.

Hardiansyah menyebutkan, apabila memang Gayoi pernah memiliki alat musik dawai, maka ada dua kemungkinan. Pertama instrumen musik ini merupakan hasil akulturasi dari budaya musik lain di luar Gayo.

“Artinya instrumen musik ini tidak benar-benar lahir dari kebudayaan orang Gayo. Namun diadopsi dari budaya luar, mengingat Cina dan Timur Tengah jauh sebelum itu sudah melakukan hubungan dagang dengan orang Gayo dan kebudayaan mereka memiliki instrumen dawai yang mungkin mirip dengan Rebeb ini,” ujar Hardiansyah.

Baca juga: Gayo Punya Alat Musik “Rebeb” Mirip Biola yang Sudah Punah

Kemungkinan kedua, sambung Hardiansyah,  bahwa instrumen tersebut merupakan hasil warisan dari nenek moyang  orang Gayo, sebab orang Gayo memiliki kesenian tradisional yang dilakukan dengan vokal (pepongoten/sebuku), yang pola melodinya digunakan ke dalam berbagai bentuk kesenian musikal tradisional Gayo yang lain.

“Dalam kajian ethnomusicology banyak ditemukan pada budaya lain yang pengadopsian bentuk-bentuk vokalisasi tersebut ke dalam instrumen musik yang bersifat melodi sebagai ekspresi dari budayanya. Contoh salah satunya seperti budaya karo Sumatera Utara dengan instrumen petik yang disebut kulcapi yang mengadopsi pola melodi dan idiom bunyi dari tangis-tangis,” sambung Hardiansyah.

“Namun bisa jadi instrumen tersebut tetap diadopsi dari budaya luar namun teknologinya sudah mampu menginterpretasi idiom yang ada pada pepengoten. Dalam Kasus ini contoh seperti Biola dalam budaya musik melayu yang diadopsi dari instumen musik barat (eropa) namun digunakan untuk menginterpretasi nyanyian senandung dalam kesenian musikal Melayu pesisir,” demikian Hardiansyah.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved