Breaking News:

Opini

Sosiologi Penyimpangan Para Muda

Pelaku ABS itu masih berusia 18 tahun, dan temannya BWY berusia 17 tahun. Korban adalah nenek ABS, masih sedarah

Sosiologi Penyimpangan Para Muda
Saifuddin Bantasyam,  Dosen Pengajar Sosiologi Fakultas Hukum dan Sosiologi Hukum FISIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Oleh Saifuddin Bantasyam,  Dosen Pengajar Sosiologi Fakultas Hukum dan Sosiologi Hukum FISIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

"Cucu Ajak Teman Bunuh Neneknya." Lalu ada subtitle "Rampok Sejumlah Harta Korban." Itulah Headline Harian Serambi Indonesia, Kamis (15/4). Ada rasa sesak dalam dada. Pelaku ABS itu masih berusia 18 tahun, dan temannya BWY berusia 17 tahun. Korban adalah nenek ABS, masih sedarah, dan polisi pun mendapat kesan bahwa pembunuhan itu sudah direncanakan. Tak cukup dengan membunuh, harta sang nenek pun dirampok oleh mereka.

Saat orang-orang muda memilih jalan yang salah, masalahnya bukan lagi sebatas masalah keluarga dan masyarakat melainkan juga masalah bangsa. Para muda adalah pemilik masa depan. Karena itu perlu perhatian serius. Pelakunya nanti bisa anggota keluarga kita, orang-orang lain yang kita kenal, dan kita sebagai korbannya. Atau bahkan, karena gelap mata, kita pula yang menjadi pelaku berbagai penyimpangan, mulai dari yang kecil sampai kepada perampokan dan pembunuhan.

Faktor penyebab teramat sangat banyak. Kehilangan pegangan hidup karena jauh dari ajaran agama, keluarga yang berantakan, salah asuh, salah pergaulan, keadaan ekonomi yang sulit, adalah beberapa di antara kemungkinan penyebab. Lalu, yang tak kalah mengerikan adalah teknologi informasi dengan internet dan handphone: cukup dengan memencet handphone, seseorang (termasuk remaja tanggung) bisa mengakses berbagai berita kriminal dan film tak senonoh yang lalu memberi inspirasi kepada pelaku untuk melakukan beragam bentuk penyimpangan.

Kajian sosiologis

Sumbangan sosiologi sangat signifikan dalam memetakan berbagai bentuk penyimpangan termasuk reaksi-reaksi masyarakat terhadap penyimpangan itu. Kajian ini dilakukan oleh sosiolog karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural yang sudah ditegakkan oleh masyarakat, termasuk pelanggaran terhadap norma-norma hukum. Selain sosiologi, perilaku menyimpang juga dipelajari dalam disiplin psikologi, antropologi, ilmu, dan krimonologi dengan pendekatan dan tekanan yang berbeda namun juga ada kemiripan dalam beberapa hal.

Pertanyaan penting dalam sosiologi adalah "mengapa menyimpang?"

Dengan tetap menganut asas praduga tak bersalah, mengapa ABS membunuh neneknya, apakah semata-mata karena ingin menguasai harta atau ada penyebab lainnya? Demikian juga dalam kasus-kasus lain di Aceh yang kerap diberitakan oleh berbagai media: penyelundupan narkoba, suami bunuh istri, isti bunuh suami, anak bunuh orangtua, orangtua menyiksa anak, anak terlibat sebagai pelaku kejahatan berat, dan sebagainya.

Apa faktor pemicu para pelaku sehingga terlibat dalam kejahatan tersebut? Saya tertarik kepada kepada pandangan Edwin Lemert tentang penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder. Penyimpangan primer dilakukan oleh seseorang saat orang ini belum memiliki konsep sebagai penyimpang atau tidak menyadari bahwa perilakunya menyimpang.

Sedangkan penyimpangan sekunder adalah adalah penyimpangan yang lebih berat. Di sini, tindakan penyimpangan berkembang sedemikian rupa karena ada penguatan melalui keterlibatannya dengan orang atau kelompok yang juga menyimpang.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved