Breaking News:

Masjid Gudang Buloh Nagan Raya, Dibangun di Masa Penjajahan dan Jadi Tempat Melepas Nazar

MASJID Jamik Syaikhuna atau yang dikenal dengan sebutan Masjid Gudang Buloh, berada di Desa Ujong Pasi, Kecamatan Kuala, Nagan Raya.

SERAMBI/RIZWAN
Masjid Jamik Syaikhuna Gudang Buloh, Desa Ujong Pasi, Kecamatan Kuala, Nagan Raya, tampak berdiri kokoh. 

MASJID Jamik Syaikhuna atau yang dikenal dengan sebutan Masjid Gudang Buloh, berada di Desa Ujong Pasi, Kecamatan Kuala, Nagan Raya. Masjid ini merupakan tempat ibadah bagi warga desa setempat.

Setiap hari, masjid yang sangat indah dan berlantai dua itu ramai dikunjungi  warga dari berbagai daerah untuk melepas nazar (hajatan). Keberadaan Masjid Gudang Buloh berawal pembangunan jalan Kuala Tuha-Jeuram atau sekarang disebut jalan nasional Simpang Peut-Beutong. Saat itu, seorang ulama bernama S Abdurani S alias Tgk Putik, sekitar tahun 1888 dipercayakan Belanda membangunan jalan tersebut.

Seperti diutarakan Tgk Jamin, khadam masjid dan Tgk Lut Abas, tokoh masyarakat setempat kepada Serambi, Kamis (15/4/2021), semua peralatan kerja pembangunan jalan diletakan di gudang terbuat dari buloh (bambu).

Gudang pembangunan jalan itu tepatnya berada di masjid Syaikhuna saat ini. Lalu saat itu ditancapkan sebuah tiang di lokasi tersebut. Setelah jalan selesai tahun 1892, lalu gudang yang sebelumnya tempat peralatan kerja dijadikan masjid oleh pihak desa setempat.

Secara bertahap masjid tersebut terus dibangun dari semula dinding buloh sehingga semakin indah dan besar sebagai tempat ibadah. Masjid tersebut berlantai II dengan halaman yang luas. Masjid tersebut memiliki lima kubah dengan rincian empat kubah kecil dan satu  kubah besar serta sebuah menara.

Sebuah prasasti peresmian turut berada dan ditanda tangani bupati setempat. Sejak abab 18, masjid tersebut baru diberi nama yaitu Masjid Jamik Syaikhuna Gudang Buloh Ujong Pasi pada tahun 1978 oleh Tgk Abdul Wahab Waly.

Dalam catatan sebuah buku di masjid tersebut menjelaskan, masjid sudah beberapa kali direhab. Rehab  pertama oleh Habib Muda Seunagan sekitar tahun 1940, kemudian tahun 1958 oleh Keuchik Lhot, ketiga dilakukan waktu itu imam masjid Tgk Abdurrahman Abas, keempat pada tahun 1978 dipimpin Abdul Wahab Wali, dan kelima berlanjut pada tahun 1998.

Namun saat gempa dan tsunami melanda Aceh tahun 2004, menyebabkan kubah dari semen runtuh dan kembali dibangun di masjid tersebut. Pembangunan masjid gudang terus berkembang sehingga tahun 2015 dibangun sebuah menara besar setinggi 54,60 meter yang peletakan batu pertama dihadiri keluarga besar Habib Muda Seunagan yaitu Abu Kudrat.

Tempat melepas nazar

Masjid gudang merupakan salah satu wisata religi yang dianggap keramat. Pasalnya, banyak warga Nagan Raya hingga luar kabupaten datang ke masjid tersebut guna melepas nazar.

Menurut Tgk Lut Abas, warga datang melepas nazar dari berbagai daerah. Bahkan warga ikut memberikan sumbangan seikhlasnya kepada masjid sehingga kas masjid sudah terkumpul hingga mencapai Rp 2 miliar lebih.

Diakuinya, ketika masjid gudang baru dijadikan tempat ibadah abad 18 silam mempunyai sebuah kisah ketika seorang abang menazarkan adiknya supaya pulang di masjid karena sudah sehari lebih hilang. Namun atas kehendak Allah, adiknya itu pulang sehingga itu menjadi awal banyak orang-orang datang melepas nazar di masjid tersebut.

Di masjid ini, kata Tgk Jamin terdapat sebuah sumur yang air tidak  pernah kering dan sering digunakan warga untuk melepas nazar. Selain itu juga sebuah tiang di dalam masjid yang merupakan tiang awal ditancap ketika gudang dijadikan masjid. “Di masjid banyak warga yang membawa makanan. Lalu dimakan oleh warga yang datang berkunjung ke masjid,” ujar Tgk Jamin.(rizwan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved