Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Menahan Diri Sebuah Esensi

Ibadah puasa yang kita laksanakan telah digariskan oleh Allah Swt bertujuan agar kamu bertaqwa kepada Allah Swt

Editor: hasyim
For serambinews.com
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin Ak MA, membuka rapat kerja pimpinan di Hotel Ayani, Banda Aceh, Kamis (4/3/2019) malam. FotoFOTO/HUMAS UIN AR-RANIRY 

Prof. Dr. H. Warul Walidin, AK, MA

Ibadah puasa yang kita laksanakan telah digariskan oleh Allah Swt bertujuan agar kamu bertaqwa kepada Allah Swt. Dalam bahasa Arab istilah puasa, disebut shaum berarti menahan diri.

Dalam fiqih, puasa adalah menahan diri dari makan, minum serta perbuatan-perbuatan lain yang bersifat badani sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, serta secara rohani menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dan pahalanya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda yang artinya; lima hal yang akan menghapus pahala puasa, yaitu: bohong, menggunjing, adu domba, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.

Puasa dengan menjaga segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, atau membatalkan pahalanya, maka Allah Swt akan menganugerahkan pahala dan balasan yang luar biasa serta manfaat yang cukup signifikan untuk shaim (orang yang berpuasa).

Salah satu yang digembleng dalam Universitas Ramadhan adalah menahan diri dari sifat bohong, dusta, hoaks, dengki, memaki, dan ujaran kebencian.

Pada akhir tahun 2016 Kemenkominfo, sebagaimana dikutip oleh Faris Khoirul Anam dalam ‘Fikih Media Sosial (2019)’ menyebut terdapat 800 situs yang diduga produsen virus hoaks, berita palsu, dan ujaran kebencian tersebar secara massif, hingga ke group-group whatsapp.

Virus itu lebih dahsyat dari virus corona, langsung menyerang otak, mengoyak nalar, yang berakibat pada tumpulnya kepekaan sosial, lunturnya nurani, hilangnya keluhuran budi, padamnya pancaran kearifan, sirnanya barometer moral, memudarnya norma-norma kebenaran dalam bersikap dan bertindak.

Harapan setiap orang agar mampu menahan diri dari menjadi korban hoaks dan konten-konten negatif lainnya. Sejatinya kita menjadi pemedsos yang arif, bijak, dan mampu memilih dan memilah, serta mampu bertumpu pada tataran nilai-nilai kebenaran dan kepatutan.

Jadilah pengguna yang tangguh akhlaqul karimah dalam menggeluti dunia informasi. Puasa mendidik kita mencegah kebohongan, ghibah, adu domba, dan caci maki. Perlu kesadaran kolektif untuk ini semua.

Rasulullah Saw bersabda: "Keselematan manusia pada memelihara lidahnya". Shahabat Uqbah bin Amir, bertanya kepada Rasulullahn Saw, "Ya Rasullah, apakah kemenangan/kesuksesan itu?" Rasulullah Saw menjawab: "Jagalah lidahmu."

Salah satu sifat manusia, yang perlu dilatihkan oleh diklat akbar Ramadhan adalah menahan diri dari sifat multy effect ini, yaitu marah. Menurut Neurosains, pakar ilmu tentang sel-sel saraf, manusia memiliki sekitar 100 miliar sel dan 900 miliar cadangan. Jadi manusia memiliki 1 triliun sel otak, termasuk 100 miliar sel saraf aktif atau neuron dan 900 miliar sel lain yang merekatkan, memelihara, dan menyelubungi sel aktif.

Setiap kali melakukan perbuatan positif, seperti belajar, memperkuat cabang sel sampai 200.000, sehingga pencerahan atau peningkatan kecerdasan. Sebaliknya setiap perbuatan negatif, seperti marah dapat mengakibatkan rusaknya sel saraf otak.

Lise Eliot, PhD, seorang pakar Biologi dan Anatomi sel di Medica School, AS, dalam bukunya ‘What is Going on In There’, menceritakan: Bahwa ada seorang ibu meneliti perkembengan otak bayinya sendiri dengan sebuah alat khusus yang dipasang di kepala sang bayi. Kemudian alat itu dihubungkan dengan kabel-kabel komputer, sehingga ia bisa melihat pertumbuhan sel saraf anaknya melalui layar monitor.

Ketika bayinya bangun, ibu tersebut memberinya ASI, saat sang ibu menyusui itulah ia melihat gambar-gambar sel saraf membentuk rangkaian yang indah. Ketika asyik menyusui, si bayi yang berusia 9 minggu itu menendang salah satu kabel komputer.

Si ibu kaget dan berkata "No". Teriakan si ibu membuat si bayi kaget saat itu. Si ibu melihat gambar sel saraf tadi menggelembung seperti balon, membesar, dan pecah. Kemudian terjadi perubahan warna yang menandakan kerusakan sel.

Puasa dapat menggembleng manusia untuk mampu memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, di samping kecerdasan spiritual yang kuat dan kecerdasan intelektual hebat dan kecerdasan emosional yang tepat. Rasulullah Saw bersabda, yang artinya "orang yang perkasa ialah orang yang orang mampu mengendalikan diri ketika marah. Dalam hadis yang lain beliau bersabda "ash-shaumu nishfus shabri", artinya puasa itu setengah sabar.

* Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

Email: warul.walidin@ar-raniry.ac.id

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved