Breaking News:

Salam

Menunda Mudik, Lebih Baik

Kepolisian Daerah (Polda) Aceh akan segera menutup perbatasan Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara di empat titik dalam wilayah Aceh

Kolase Serambinews.com (Kompas/Galih Pradipta//Serambinews.com/Muhammad Hadi)
Pemerintah larang mudik tahun ini yang berlaku mulai 6-17 Mei 2021 

Kepolisian Daerah (Polda) Aceh akan segera menutup perbatasan Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara di empat titik dalam wilayah Aceh, yaitu di Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Subulussalam, dan Aceh Singkil mulai 6 Mei hingga 17 Mei 2021. Penutupan kawasan perbatasan ini dalam rangka menindaklanjuti Peraturan Menteri (PM) Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Idulfitri 1442 H/Tahun 2021 dalam rangka Pencegahan Penyebaran virus Corona. Melalui PM itu, pemerintah resmi melarang warga untuk melakukan mudik Idul Fitri tahun ini guna memutus mata rantai Covid

Penutupan diberlakukan untuk mobil penumpang dan juga mobil pribadi, tidak untuk kendaraan yang membawa sembako, BBM, ambulans, dan jenis kendaraan lainnya yang terkait dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. "Mulai tanggal 6 sampai 17 Mei seluruh bus tidak boleh beroperasi, kalau ada akan kami suruh putar balik,” kata pejabat kepolisian.

Yang jelas larangan mudik atau bepergian itu berlaku untuk seluruh lapisan masyarakat dan pegawai pemerintah. Baik untuk ASN, TNI‑Polri, karyawan BUMN, karyawan swasta, pekerja mandiri, dan seluruh masyarakat. Keputusan larangan mudik diambil lantaran angka penularan dan kematian akibat Covid‑19 meningkat setelah beberapa kali libur panjang,

Merujuk dari Data Satgas Covid‑19, libur Idul Fitri tahun lalu telah mengakibatkan kenaikan rata‑rata jumlah kasus harian 68‑93% dengan penambahan kasus harian 413‑559 serta jumlah kasus mingguan berkisar 2.889‑3.917. Sedangkan, persentase kematian mingguan antara 28‑66% atau sebanyak 61‑143 kasus kematian.

Setiap kali liburan selalu ada peningkatan kasus antara 30‑50% baik dari kasus terkonfirmasi positif maupun kasus aktif Covid‑19. Bahkan dampak dari kenaikan kasus pada masa libur Natal dan tahun baru lalu, jumlah kasus aktif Covid‑19 masih terus meningkat. Disebutkan total kasus aktif Covid‑19 kini berjumlah 130 ribu dengan 80% di antaranya tidak ke rumah sakit (RS) sedangkan 20% ke RS, 5% masuk ruang ICU (Intensive Care Unit) dan sekitar 2% meninggal.

Belajar dari tingginya angka penularan dan kematian masyarakat maupun tenaga kesehatan akibat wabah Covid‑19 setelah beberapa kali libur panjang dari data Satgas Covid‑19 tersebut hendaknya dapat menggugah kesadaran dan pengertian kita bersama sebagai masyarakat untuk mematuhi kebijakan pemerintah dalam rangka mencegah penyebaran Covid‑19. Salah satu bentuk dukungan kita adalah mematuhi larangan mudik Lebaran yang dikeluarkan pemerintah pusat demi kebaikan bersama, sehingga upaya yang sudah kondusif dan melandai saat ini bisa terproteksi.

Mudik atau pulang kampung adalah kegiatan mobilitas perantau/migran untuk pulang ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Transportasi yang digunakan antara lain pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus, dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik atau melakukan mobilitas.

Namun, di tengah serangan virus Corona yang belakangan meningkat lagi, maka kita semua sebaiknya mematuhi larangan mudik itu. Namun, kita berharap pemerintah pemerintah menerapkan kebijakan transportasi yang sejalan dengan imbauan penundaan mudik lebaran. Sesungguhnya, kita masih berada dalam suasana musibah besar, maka mudik perlu menjadi pertimbangan untuk tidak dilakukan. Toh, dalam keadaan normal, pemerintah tak pernah melarang kita untuk mudik, bukan hanya saat lebaran tapi juga saat-saat libur panjang lainnya.  Makanya, larangan kali ini harus kita lihat sebagai penundaan mudik karena bencana virus Corona masih sangat menakutkan.

Larangan mudik ini juga harus kita lihat sebagai pembatasan pergerakan masyarakat dari satu tenpat ke tempat lain yang berpotensi menyebarkan virus Corona. Oleh karena itu, kegiatan slaturrahmi yang kita lakukan dalam sati wilayah pun selama Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah nanti juga harus mematuhi protokol kesehatan. Yakni, tetap memakai masker, menjaga jarak, sering-sering mencuci tangan menggunakan sabun.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved