Breaking News:

Puasa Membentuk Akhlakul Karimah

Orientasi setiap ibadah di dalam Islam adalah pembentukan akhlak atau karakter. Saat ibadah puasa Ramadhan, Nabi Muhammad SAW

SERAMBINEWS.COM/SYAMSUL AZMAN
Ustadz Masrul Aidi 

BANDA ACEH - Orientasi setiap ibadah di dalam Islam adalah pembentukan akhlak atau karakter. Saat ibadah puasa Ramadhan, Nabi Muhammad SAW menegaskan “Barang siapa yang puasanya tidak mencegah ia dari berucap yang buruk-buruk dan mengamalkannya, maka Allah SWT tidak memerlukan ia menahan lapar dan dahaga”

“Jadi benar-benar semua praktik ibadah itu berorientasi untuk pembinaan dan pembentukan serta peningkatan kapasitas akhlakul karimah,” kata Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keu’eung, Ustaz Masrul Aidi, dalam program Serambi Spiritual, Senin (19/4/2021).

Program Serambi Spiritual diselenggarakan atas kerja sama Serambi FM dengan Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) Aceh. Program Serambi Spiritual  berlangsung setiap Senin hingga Jumat mulai pukul 10.00-11.00 WIB selama Ramadhan, dipancarkan langsung melalui saluran 90,2 Serambi FM, dan live streaming di Fanspage Facebook Serambinews.com, serta Instagram Serambi FM.

Dulu, kata ustaz Masrul, para sahabat Nabi disifatkan sebagai “orang yang beriman itu tidak pernah merasa kenyang dari kebaikan-kebaikan sampai berakhir masuk ke dalam surga”.

Salah seorang sahabat Nabi, Abu Musa al-Asyari, pernah bertanya kepada Rasul tentang apa yang paling banyak menjadi penyebab orang-orang masuk ke dalam syurga. Apa kata Nabi? Bahwa perkara yang paling banyak mendorong manusia masuk ke dalam syurga adalah, yang pertama taqwa kepada Allah dan yang kedua adalah akhlak yang baik.

Maka dari itu, momentum puasa Ramadhan benar-benar sebagai sekolah untuk menjadi pembentukan akhlak. Ada banyak faktor jika seseorang belum mencapai akhlakul karimah, yang paling utama itu terlihat bahwa kita tidak menjaga standar skala prioritas di dalam menjalankan ibadah.

Sebagai contoh, kata ustaz Masrul, pemerintah telah menyerukan untuk pemilik tempat usaha atau kegiatan bisnis sejak berkumandang azan Isya sampai selesai shalat Tarawih. “Saya melihat ini bukan penekananya pada shalat Isya, tapi lebih kepada Tarawihnya,” ungkapnya.

Jika ini bukan karena shalat Tarawih, maka tidak ada seruan khusus dari Forkopimda terkait dengan shalat Isya di bulan-bulan yang lain. “Jadi kita melihat, skala prioritas itu (seperti shalat wajib) terlewatkan,” kata ustaz Masrul

Maka dalam hal ini, kita seperti baru membangun infrastruktu dan aksitekur belum menjadi sebuah kultur syariah. “Jadi harus ada paksaan dulu dari eksternal diri kita baru ada kemauan tersebut,” imbuhnya.

Maka dalam bulan Ramadhan seperti ini, sepatutnya kehidupan itu tetap berjalan normal. Tidak ada yang membedakan Ramadhan dengan bulan lainnya dari sisi praktik kehidupan.

Padahal, kata ustaz Masrul, yang diinginkan adalah mereka yang terpanggil hatinya untuk datang shalat bukan terpaksa datang shalat. Bagaimana jika kita mengetahui sudah mencapai akhlakul karimah? Pada prinsipnya, tambah Pimpinan Dayah babul Maghfirah Cot Keu’eung itu adalah merasa setiap aktivitas kita itu dalam pengawasan Allah SWT.

Ustaz Masrul menerangkan, di dalam kitab al-Fawaid, Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi memberikan gambaran bahwa akhlak itu sebenarnya berada ditengah-tengah diantara dua hal berlebihan, tidak kurang dan tidak terlalu lebih. Kita itu harus berada ditengahnya.

Perlu kita ingat wejangan dari para ulama ‘janganlah Lailatul Qadar itu kalian cari hanya diantara tiang-tiang masjid saja, ada akhlak kita terhadap lingkungan’. “Ibadah yang dirahasikan adalah bagian dari akhlak, dan akhlak yang dipublikasikan adalah bagian dari ibadah,” pungkas Ustaz Masrul Aidi.(ar)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved