Bahasa Aceh Perlu Dilestarikan
Penggunaan bahasa Aceh kini mulai jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh generasi saat ini
BANDA ACEH - Penggunaan bahasa Aceh kini mulai jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh generasi saat ini. Padahal bahasa Aceh merupakan bahasa indatu sekaligus identitas anak bangsa yang perlu dilestarikan sampai kapan pun.
Pernyataan itu mengemuka dalam kegiatan bedah buku paket bahasa Aceh berjudul "Peulajaran Basa Aceh" karya Azwardi di Aula Kanwil Kemenag setempat, Selasa (20/4/2021).
Kegiatan yang bekerja sama dengan Penerbit Bina Karya Akademika itu dibuka Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Aceh, Dr Iqbal SAg MAg yang diwakili oleh Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad), Drs H Mukhlis MPd.
Acara itu diikuti oleh kepala madrasah ibtidaiyah (MI) se-Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar tersebut dihadiri pakar linguistik Aceh, Dr Abdul Gani Asyik MA sebagai pembedah..
"Bahasa Aceh merupakan bahasa indatu yang harus dijaga dan dilestarikan, terutama kepada anak didik di lingkungan madrasah secara khusus dan masyarakat secara umum," kata Mukhlis.
"Yang kita lakukan hari ini (bedah buku) adalah satu gerakan mulia untuk mengembangkan dan melestarikan bahasa Aceh. Harapannya buku bahasa ini dapat digunakan di seluruh madrasah se-Aceh," tambahnya.
Sementara penulis buku, Azwardi mengatakan bahwa bahasa adalah identitas anak bangsa. Tapi, saat ini penggunaan bahasa Aceh mulai jarang digunakan oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.
"Tercetusnya buku ini, karena kita menyadari bahwa bahasa itu identitas, termasuk bahasa Aceh. Kalau ditanya apa identitas orang Aceh yaitu beragama Islam dan berbahasa Aceh. Kalau dia tidak bisa berbahasa Aceh, berarti ia tidak memiliki identitas sebagai orang Aceh," kata Azwardi.
Menurutnya, selama ini pemerintah seperti tidak menyadari betapa pentingnya bahasa untuk diselamatkan. "Kalau kita lihat sekarang ini pemakaian bahasa Aceh baik tulisan maupun ucapan mengalami problematika," ujar Azwardi.
Azwardi menyatakan, banyak bahasa Aceh ditulis tidak sesuai dengan kaedahnya, padahal standar suatu bahasa dilihat dari tulisan. Solusi untuk menstandarkan bahasa tidak ada cara lain kecuali dengan mengajarkan kepada anak sekolah/madrasah tingkat dasar.
"Makanya saya berpikir kalau bukan kita siapa lagi yang peduli tehadap bahasa Aceh. Apalagi masih ada guru kita yang mengetahui secara mendetail bahasa Aceh yaitu Bapak Dr Abdul Gani Asyik. Beliau pakar linguistik dan praktisi bahasa di Aceh," sebutnya.
Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala (USK) ini menambahkan bahwa bahasa Aceh unik. Ia berharap bisa bangkit sehingga identitas anak bangsa tidak hilang.
Pakar Linguistik Aceh, Abdul Gani Asyik juga sependapat dengan Azwardi. Ia mengapresiasi penulis atas penerbitan buku paket bahasa Aceh di era globalisasi seperti saat ini.
Abdul Gani menyimpulkan bahwa buku tersebut, baik secara isi maupun tampilan sudah bagus dan sesuai dengan standar buku pelajaran muatan lokal di sekolah/madrasah.(mas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/paket-bahasa-ac.jpg)