Breaking News:

Opini

Tindakan Blasphemy Joseph Paul Zhang

Joseph Paul Zhang yang telah melakukan satu tindakan blasphemy dengan menistakan Islam dan menghina Nabi Muhammad Saw

Editor: bakri
Tindakan Blasphemy Joseph Paul Zhang
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Lukman Hakim A.Wahab, M.Ag,  Dosen Teologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Oleh Dr. Lukman Hakim A.Wahab, M.Ag,  Dosen Teologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Kenyamanan umat Islam menjalankan ibadah Ramadhan terusik oleh sebuah berita yang viral di media sosial. Penyebabnya adalah Joseph Paul Zhang yang telah melakukan satu tindakan blasphemy dengan menistakan Islam dan menghina Nabi Muhammad Saw.

Dalam Filsafat Agama, istilah blasphemy dimaknai sebagai sebuah kejahatan menghina, menistakan menujukkkan pelecehan atau kurang menghargai Tuhan, agama, kitab suci dan simbol-simbol keagamaan lainnya.

Dalam sejarahnya perilaku blasphemy ini, memang bukan fenomena baru. Di tingkat dunia perilaku blasphemy pernah terjadi seperti kasus Tatiana Soskin yang mengambar Nabi Muhammad Saw dalam bentuk (maaf) hewan pada tahun 1997, Salman Rushdie dengan novel The Satanic Verses pada tahun 1989 dan lain-lain.

Di tingkat nasional Indonesia, tentu masih segar dari memori kita penistaan yang dilakukan oleh Basuki Tjahya Purnama atau Ahok pada akhir tahun 2016. Dampak dari blasphemy Ahok saat itu memunculkan respon umat Islam hingga harus melakukan dua aksi masa kolosal, aksi bela Islam II pada 4 November 2016 dan aksi bela Islam III pada 2 Desember 2016. Tentunta kita berharap di negara hukum ini, penegakan hukum untuk kasus blasphemy Josep Paul Zhang ini tidak perlu lagi harus menunggu aksi bela Islam IV dan V.

Keberanian yang aneh

Nah, kali ini perilaku blasphemi kembali terjadi oleh bergajul Joseph Paul Zhang yang menistakan Islam dan menghina Nabi Muhammad Saw. Jika kita mencermati perilaku ini dari kacamata sosial keagamaan agak aneh. Bagaimana seorang yang beragama minoritas berani secara blak-blakan menghina Islam penganut mayoritas di Indonesia.

Fenomena berbanding terbalik, karena hampir di semua belahan dunia manapun lazimnya kalangan minoritas lebih memilih diam dan menjaga diri agar tetap survival di tengah komunitas agama yang mayoritas.

Kenyataan unik dan miris ini malah terjadi di Indonesia, sebuah negara yang selalu mendengungkan toleransi dan mengumandangkan harmoni antaragama.

Kejadian demi kejadian yang terus terjadi di Indonesia ini, kadang mengesankan bahwa Islam sebagai agama besar selalu menjadi objek. Islam hanya menjadi subjek ketika kebijakan negara tentang ihkwal kebhinekaan, tentang anti radikalisme, tentang moderasi beragama dan lain sebagainya. Maka dapat diterima logika sederhana ketika sebagian orang menduga bahwa ada fenomena ini dilakukan secara terencana oleh pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana dan merusak harmonis.

Jika demikian asumsi kita maka umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia ini mungkin tidak perlu terpancing emosinya dan tetap berfikiran secara jernih. Karena kalau umat Islam melakukan aksi-aksi protes secara berlebihan maka akan semakin jelas tujuan mereka yang ingin menunjukkan Islam adalah agama yang radikal.

Bagaimana bersikap

Lantas apa yang semestinya dilakukan oleh umat Islam? Pertama, merespon dan mengkonter isu ini secara akademik dan sehat. Tidak perlu terpancing hingga masuk dalam suasana emosional merugikan diri sendiri. Disadari memang keimanan kita kepada Islam, kecintaan kita kepada Rasullullah akan membuat merasa terpanggil untuk membela dan menunjukan bukti cinta kepadanya.

Di lain pihak kita juga diajarkan secara filosofis bahwa kehinaan itu bukan diindakasikan oleh penghinaan. Kadangkala usaha penginaan justru akan mengukuhkan kehebatan dan kemuliaan. Dan kita akan selalu menyenandungkan shalawat kepada Rasullah Sallahu'alaihi Wasallam!

Kedua, mendorong semua lembaga dan organisasi kemasyarakatan untuk memprotes perilaku blasphemi ini. Lembaga-lembaga yang selama ini telah dibentuk untuk menciptakan harmoni agama, meminimalisir radikalisme dan terorisme untuk menjalankan fungsinya secara

adil dan baik. Adil dalam makna selain menganjurkan umat Islam mayoritas untuk memahami kebhinekaan dan toleransi juga mengajarkan sikap kepada mayoritas untuk tidak melalukan tindakan yang potensial memunculkan konflik dan disharmoni.

Sehingga tidak memuncukan kesan bahwa umat Islam selalu didoktrin tentang makna persatuan, toleransi, keragamaan, harmoni tetapi di pihak kenyamanan dan keberimanan kita selalu ditantang oleh oknum semacam Joseph Paul Zhang ini.

Ketiga, mempecayakan penyelesaian kepada penegak hukum. Umat Islam harus mendorong dan memberi mandat penuh kepada penegak hukum untuk menyelesaikan kasus blasphemy Joseph Paul Zhang ini. Terkait ini, Menteri Agama Yaqut Cholil Al-Bisri juga pernah mengatakan; "Saya berharap ada penegakan hukum segera atas intoleransi yang sudah mengarah kepada penistaan ini".

Sejatinya pernyataan "sudah mengarah" juga tidak benar karena tindakan Joseph Paul Zhang memang jelas sebuah penistaan, tapi memang bahasa politik dan leadership memang harus sengaja dibuat lebih santun dan lunak.

Menanti penegakan hukum

Perilaku blasphemi yang dilakukan oleh Joseph Paul Zhang ini sebenarnya memang tidak hanya menistakan Islam dan menghina Nabi Muhammad Saw, tetapi lebih jauh dari itu dia telah menantang penegakan hukum di Indonesia ini. Dia membuat sayembara, menantang warga untuk melapornya ke polisi dengan alasan penistaan agama dan mengaku sebagai nabi ke-26.

Dalam video itu Joseph Paul Zhang terang-terangan menantang warga "gua kasi lo 1 juta rupiah, maksimum lima laporan, supaya jangan bilang gua ngibul lagi". Nah kini kasus ini telah dilaporkan ke Bareskrim Polri seperti yang dilakukan Husin Shahab dengan no.LP/B/025/IV/2021 tertanggal 17 April 2021.

Karena kasus ini sedang diselesaikan oleh pihak penegak hukum maka perlu kita menunggu dan menghormati proses hukum tentunya dengan berharap pelakunya segera tertangkap. Pihak kepolisian juga perlu bergerak cepat dan professional, secepat mengendus, menindak dan menangkap pihak-pihak yang diduga teroris selama ini.

Namun, pemberitaan terkini sebagaimana disebutkan Kapolri Listyo Sigit Purnomo mengatakan bahwa Joseph Paul Zhang kini sudah tidak berada di Indonesia, berdasarkan data Kantor Imigrasi Kelas I Soekarno-Hatta dan sudah menuju ke Hongkong merujuk kepada travel dokumen no. B6622531.

Bagaimanapun kita berharap dengan kerja professional kepolisian kita Joseph Paul Zhang segera terciduk dan mempertanggungjawabkan blaspheminya di depan hukum.

Khulasah akhir, hikmah dan edukasi yang mungkin dapat umat Islam ambil dari kasus blasphemy Joseph Paul Zhang ini adalah bahwa cabaran dan tantangan terahadap aqidah umat Islam akan selalu berulang. Makanya umat Islam harus mempersiakan sumber daya insani yang tangguh. Tidak mungkin agama Islam ini dapat dibela oleh generasi lemah dan ngantuk akibat kecanduan permainan game chip online.

Jangan-jangan Joseph Paul Zhang sedang menguji sejauhmana umat Islam sudah tertidur oleh game yang dibuat oleh negaranya. Wallahu'alam bishawaf.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved