Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kisah Alumni ‘Banat’ MUDI tentang Keikhlasan

Kata ‘banat’ yang berarti anak perempuan sengaja digunakan oleh ahlul bait (keluarga besar) Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk menambah keakraban

Kisah Alumni ‘Banat’ MUDI tentang Keikhlasan
IST
MIRNANI MUNIRUDDIN ACHMAD, M.A., Guru MIN 13 Pidie Jaya, Anggota FAMe Chapter Pidie Jaya, dan alumnus Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, melaporkan dari Samalanga, Bireuen

OLEH MIRNANI MUNIRUDDIN ACHMAD, M.A., Guru MIN 13 Pidie Jaya, Anggota FAMe Chapter Pidie Jaya, dan alumnus Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, melaporkan dari Samalanga, Bireuen

Kata ‘banat’ yang berarti anak perempuan sengaja digunakan oleh ahlul bait (keluarga besar) Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk menambah keakraban di antara kami sesama alumni putri yang pernah mondok di dayah ini.

Hari Rabu terakhir di bulan Februari lalu merupakan pertemuan pertama alumni banat  yang dilaksanakan tepatnya di dalam Musala Kompleks Putri Dayah MUDI. Ide pertama munculnya keinginan untuk mengadakan pengajian bagi alumni putri adalah agar bisa kembali berjumpa dengan guree-guree (guru mengaji), bisa merasakan kembali kehangatan bertemu dengan orang tua rohani kami, yakni Al-Mukarram Abu Hasanoel Bashry beserta seluruh keluarga besar Abon yang masih diberikan umur panjang oleh Allah.

Tidak hanya itu, agenda ini tentu saja membuat kami para alumni sangat antusias untuk mengikuti pengajian. Terbukti, di saat pengajian pertama kali dilaksanakan jumlah banat  yang hadir mencapai 700 alumni yang berasal dari berbagai kabupaten di Aceh, termasuk Medan, Sumatera Utara. Sungguh merupakan bukti kerinduan alumni yang mungkin telah dipendam selama bertahun-tahun untuk dapat bertemu dengan wajah-wajah hamba Allah yang telah menuntun mereka agar lebih mengenal Allah.

Ada banyak energi positif yang bisa kami petik sebagai alumni di momen langka pengajian ini. Saya salah satunya sebagai alumni yang dipercaya menjadi Wakil Ketua Banat Perwakilan Kabupaten Pidie Jaya. Sempat tidak merasa percaya diri menerima “jabatan” yang saya rasa tidak pantas diberikan kepada saya karena terlalu banyak alumni di atas saya yang memiliki kemampuan dan kapasitas jauh dibanding dengan saya.

Namun, di satu sisi, saya menganggap ini merupakan kesempatan emas agar bisa lebih dekat dengan ahlul bait yang mungkin tidak bisa didapatkan di waktu lain. Berharap kelak bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sehari menjelang pengajian pertama, diadakan rapat dengan ahlul bait dan perwakilan alumni per kabupaten di rumah Ummi Masyithah (salah satu anak dari Allahyarham Abon Abdul Aziz Samalanga).

Dengan wajah dipenuhi senyuman yang selalu terpancar dari wajahnya, Ummi Masyithah menyambut kami, tamunya. Beliau yang terkenal ramah kepada siapa pun tak pernah sekalipun di wajahnya tersirat muka masam saat menerima tamu. Sungguh ia merupakan salah satu perempuan anak seorang ulama besar Aceh yang membuat saya kagum dengan segala kerendahan hati yang beliau miliki. Benar-benar perempuan yang bisa membuat hati menjadi lega saat menatapnya.

Tidak hanya beliau, jika bertamu ke Dayah MUDI kita pasti akan disuguhi dengan sifat pemalu dan juga wajah penuh keramahan dari Ummi Shalihah binti Abdul Aziz yang juga istri dari pimpinan dayah saat ini, Al-Mukarram Abu Mudi. Sifat pemalu yang sejatinya harus dimiliki oleh setiap perempuan muslimah layaknya yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad saw.

Walaupun sulit kita temukan sekarang, di zaman yang akhlak perempuan harus bersaing ketat dengan aplikasi Tik-Tok yang jelas merendahkan martabat perempuan itu sendiri. Sikap tawaduk juga dengan mudah kita dapatkan dari cucu-cucu Abon Abdul Aziz yang dengan senang hati menjamu kami para tamu alumni yang telah hadir. Tak ada sedikit pun kami dapatkan sikap yang tidak berkenan di hati saat berjumpa dengan ahlul Bait. Masyaallah.

Tidak hanya perilaku dari ahlul bait yang menyejukkan hati, tetapi juga dari alumni yang jauh dari kami yangg sungguh memperlihatkan sikap mengayomi kami adik-adiknya di dayah bahkan pantas disebut anak-anak didiknya yang jauh ilmu kami di bawah mereka, mengingat alumni yang hadir merupakan alumni yang pernah mondok di dayah, bahkan saat Abon Abdul Aziz masih hidup kala itu. Ummi Cut Jumala Ya’qob dari Padang Tiji misalnya, beliau merupakan alumni satu-satunya yang masih Allah berikan umur panjang dan merupakan salah satu murid Dayah MUDI yang pernah berkesempatan menimba ilmu langsung dari Abon. Saya sendiri sudah lama pernah mendengar nama beliau dan mengaguminya. Namun, baru sekarang Allah izinkan bertemu dengan beliau yang saya anggap sebagai pertemuan yang eksklusif. Bagaimana tidak, di pertemuan alumni ‘banat’ MUDI ini kami mengadakan musyawarah untuk kelancaran pengajian ‘banat’ selanjutnya dengan beberapa alumni yang benar-benar terkenal dengan kesungguhan mereka dalam melanjutkan  “beut-seumeubeut” seperti yang Abon sarankan.

Kisah nyata

Dalam rapat kali ini saya bisa lansung mendengar sedikit siraman rohani yang disampaikan oleh Ummi Cut Jumala yang sudah kami anggap sebagai orang tua sekaligus penasihat kami. Saat itu, beliau sempat menceritakan kisah nyata tentang keikhlasan yang dialami oleh satu satu alumnus. Cerita dimulai saat seorang alumnus dayah yang sudah lama tak pernah berjumpa dengan gurunya karena kondisi keuangan yang sulit sehingga tak ada biaya untuk mengunjungi gurunya. Namun suatu hari, suaminya berinisiatif menjual sedikit ubi yang mereka panen untuk ongkos perjalanan sang istri dan sekarung ubi dibungkus sebagai oleh-oleh untuk gurunya nanti. Singkat cerita, ia berangkat menuju rumah gurunya. Saat sampai ia lepaskan rasa rindunya kepada sang guru yang sungguh sudah membuncah di dalam dada. Ia duduk dan berbincang-bincang dengan gurunya hingga sampai waktunya ia pulang. Sebagai oleh-oleh, gurunya menyerahkan seekor anak kambing sebagai “buah tangan” dari beliau.

Di tengah perjalanan pulang, ia berjumpa dengan kawannya yang juga pernah menimba ilmu di dayah dan dengan guru yang sama. Si kawan melihat anak kambing yang dibawa olehnya. Setelah ditelusuri ternyata berasal dari guru mereka. Timbul niat si kawan untuk mengunjungi gurunya tentu saja dengan membawa oleh-oleh yang lebih “berkelas” dibanding dengan sekarung ubi tadi. Berharap agar nanti gurunya akan memberikan “buah tangan” yang lebih hebat dari sekadar anak kambing. Esoknya, berangkatlah si kawan bertamu dengan membawa sekarung beras, gula, dan makanan ringan lainnya. Seperti halnya muridnya terdahulu, muridnya kali ini juga dijamu dengan baik dan saat pulang pun diberikan buah tangan oleh sang guru. Namun, kali ini sang guru tidak punya apa-apa untuk diberikan. Yang ia punya hanyalah setengah karung lagi ubi yang diberikan murid sebelumnya tempo hari. Jadilah ubi tersebut menjadi buah tangan yang diberikan kepada sang murid. Ia pun pulang  dengan muka penuh kekecewaan karena ekspektasi yang ia harapkan tidak sesuai dengan realita yang ia dapatkan.

Cerita ini diakhiri dengan gelak tawa dari kami yang membayangkan berada di posisi murid tersebut. Kisah ini mengajarkan kepada kami agar memiliki sifat keikhlasan dalam melakukan sesuatu. Ikhlas mengaji dan mengikuti pengajian alumni ‘banat’ ini karena mengharap rida dari Allah, rida dari sang guru tanpa ada niat  “sampingan” yang mungkin bisa menghanguskan pahala menuntut ilmu yang kami ikuti. Wallahua’lam bisshawab. <19910815nani@gmail.com>

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved