Breaking News:

Opini

Komersialisasi Ramadhan

Ibadah puasa tidak terasa dimensi ritualismenya kalau hanya menjadi mekanisme menahan lapar, haus, dan seks

Editor: bakri
Komersialisasi Ramadhan
IST
Teuku Kemal Fasya,  Antropolog FISIP Universitas Malikussaleh.

Oleh Teuku Kemal Fasya,  Antropolog FISIP Universitas Malikussaleh.

Seperti kita ketahui bahwa puasa adalah salah satu ibadah yang bersifat sirri: rahasia dan mempribadi. Artinya ibadah puasa sangat jauh dari dimensi exposure dan pamer. Ibadah puasa tidak terasa dimensi ritualismenya kalau hanya menjadi mekanisme menahan lapar, haus, dan seks. Puasa akan paripurna ketika menjadi pengendalian tubuh, pikiran, dan jiwa secara bersamaan dengan memaksimalkan nilai-nilai ilahiyah di dalamnya.

Dalam sebuah hadist yang disampaikan Abu Hurairah, "Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat oleh Allah taála kecuali amalan puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, sebab dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi-Ku" (Shahih Bukhari dan Muslim).

Das sein puasa

Namun itu adalah wacana normatif (das Sollen). Secara kenyataan (das Sein) realitas sosio-kultural tidak demikian. Das Sein tidak sejalan dengan das sollen. Apa yang dijadikan aturan, norma, dan nilai-nilai ideal, akhirnya terjun bebas ketika bertemu dengan kenyataan.

Puasa secara das Sein akhirnya menjadi fiesta dalam arti sebenarnya. Ia begitu meriahnya pada aspek perayaan dan konsumerisme. Awalnya ia mengimbangi kemeriahan ritual

Ramadhan, tapi akhirnya menaklukkannya. Kita melihat 15 hari pertama Ramadhan, konsumerisme penuh dilakukan oleh orang berpuasa seperti juga saf-saf taraweh. Namun pada 15 hari terakhir atau pada fase ketika terbebas dari api neraka (itqun minan-naar) masjid-masjid semakin sepi dan pusat perbelanjaan semakin ramai.

Bukan hanya itu. Seluruh kanal informasi dan komunikasi dalam wujud pemberitaan, iklan, dan dialog publik dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan materialisme dan konsumerisme di saat puasa.

Di Aceh, orang menyambut puasa dengan tradisi mak meugang yang harus membeli daging sapi atau kerbau. Ini memang tradisi yang harus dilestarikan. Namun semakin lama nilai tradisi semakin hilang, sementara nilai materialistiknya menjulang. Itu terlihat pada harga jual daging yang melonjak tinggi pada tingkat pedagang dengan alasan tuntutan pada daging bertambah.

Akhirnya banyak orang merasa berat menyambut bulan puasa dengan keharusan membeli daging. Sehingga muncul budaya cari uang meugang (mita peng meugang) ke instansi pemerintah dan perusahaan, yang akhirnya menimbulkan ketegangan sosial tersendiri. Tak heran di hari meugang banyak bupati, kepada dinas, dan pemilik bisnis menghilang untuk menghindari penadah uang meugang.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved