Breaking News:

Opini

Komersialisasi Ramadhan

Ibadah puasa tidak terasa dimensi ritualismenya kalau hanya menjadi mekanisme menahan lapar, haus, dan seks

Komersialisasi Ramadhan
IST
Teuku Kemal Fasya,  Antropolog FISIP Universitas Malikussaleh.

Padahal jika kita melihat bagaimana tradisi meugang di masa lalu, seperti terekam dalam tulisan etnografis Snouck Hurgronje, tradisi menyambut Ramadhan itu dikelola oleh uleebalang dan didistribusi terutama kepada keluarga miskin di bawah tanggung jawab keuchiek. Sehingga jika dilihat dari model meugang masa lalu, tidak terjadi hiper inflasi harga daging, dan tidak ada komunitas perantara (brokery community) yang mengatasnamakan orang lain untuk mengambil untung.

Televisi dan media sosial pun demikian, termasuk e-commerse. Di era sekarang mungkin tak ada ibu-ibu yang tidak memelototi Shopee, Bukalapak, Lazada, atau Tokopedia untuk mencari pakaian, kue, dan asesoris untuk menyambut lebaran. Bahkan aplikasi belanja itu bukan hanya bisa digunakan untuk melakukan kegiatan belanja secara digital, tapi juga secara virtual, karena adanya format live untuk menambah seduksi personal kepada pembeli.

Budaya konsumerisme

Apa yang terlihat dalam fenomena Ramadhan ini bukan khas tahun ini, tapi terjadi seumur hayat banyak dari kita. Bulan penuh makna ini telah lama melakukan perkawinan silang antara momentum peribadatan dengan budaya konsumerisme.

Merujuk karya klasik dari Daniel Bell, The Cultural Contradiction of Capitalism, bahwa di era modern sekarang kebudayaan tidak lagi dipahami sebagai instrumen yang menghidupkan dimensi kemanusiaan, malah sebaliknya. Nilai-nilai kemanusiaan yang harusnya hidup akhirnya jatuh telungkup menjadi pribadi selfish kepada objek-objek yang dihasrati (objects of desire).

Ekonomi yang awalnya berhubungan dengan kepentingan survavilitas akhirnya menjadi laissez-fraire ketika objek ekonomi dan moda produksi dikuasai segelintir orang, yang dalam istilah Marx disebut kaum borjuis.

Memang tidak persis sama seperti diimajinasikan Karl Marx 170 tahun lalu, tapi budaya kapitalisme secara pelan menghanguskan esensi humanisme. Tradisi berbuka puasa yang berkembang di kota-kota kosmopolitan menjadi pertunjukan kuliner berbiaya eksklusif, yang bahkan bisa dimanfaatkan oleh satu keluarga pengojek Maxim selama sebulan.

Sebuah keluarga bisa menyediakan aneka menu melebihi hari-hari biasa, tapi hanya selemparan batu ada keluarga yang tidak memiliki apa-apa untuk berbuka puasa kecuali teh hangat, sayur labu, dan ikan ciriek goreng.

Perubahan beragama pun terjadi di dalam masyarakat di era google ini-meminjam istilah Denny JA. Masyarakat menjadi religius saat ini tidak lagi mengambil sumber pengetahuan agama melalui guru-guru otoritatif atau pengetahuan yang dikaji secara pelan-pelan melalui kitab-kitab, tapi melalui mesin siber.

Fakta menunjukkan bahwa apa yang dicari pengguna internet di era pandemi adalah kumpulan doa-doa, termasuk doa penguburan. Orang mencari makna metafisika melalui mbah google.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved