Breaking News:

Opini

Komersialisasi Ramadhan

Ibadah puasa tidak terasa dimensi ritualismenya kalau hanya menjadi mekanisme menahan lapar, haus, dan seks

Komersialisasi Ramadhan
IST
Teuku Kemal Fasya,  Antropolog FISIP Universitas Malikussaleh.

Penulis juga yakin, apa yang dicari paling banyak di bulan puasa era pandemi kali ini adalah doa memulai puasa dan berbuka, bacaan salawat saat taraweh, dan ayat-ayat yang berhubungan dengan puasa bagi penceramah dadakan. Pertunjukan tausiyah di youtube lebih sering menampilkan penceramah yang suka berguyon.

Seperti juga tontonan tahsin Alquran dipelajari secara otodidak di media virtual paling populer sejagat itu. Proses belajar itu bercampur dengan hasrat leisure time kita mengintip konten-konten banal youtuber yang penuh sensasi sensoris dan perilaku libidinal video-video pendek.

Memang google, tiktok, instagram, dan youtube telah menampilkan puasa dalam versi yang tidak kita temukan 20 tahun lalu. Ibadah telah menjadi tontonan dibandingkan jalan menuju kemurnian makna hidup. Semua orang menjadi penyiar (broadcaster) bagi yang lain melalui unggah foto dan video diri di snap whatsapp yang menampilkan keremeh-temehan. Hal itu karena hidup tidak lagi dihayati, tapi berjalan tanpa sadar sebagai subjek yang menggelinjang pada objek konsumtif dan materialistik.

Apakah kira-kira kita akan menggenapkan akhir puasa ini dengan kesempurnaan peribadatan dan memuliakan nama Allah di malam-malam penuh teka-teki lailatul qadar ini seperti pesan dari QS Al Baqarah ayat 185?

Penulis malah yakin, akan semakin banyak orang menyempurnakan bulan puasa ini dengan memburu pakaian dan sendal baru, mencari pembuat nastar dan putri salju yang paten, memilih kenderaan, dan membesarkan peluang kredit sebagai persediaan finansial selama seminggu di masa mudik. Ramadhan komersil!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved