Breaking News:

Puasa Meningkatkan Kepedulian Antarsesama

Setiap orang berpuasa akan merasakan lapar. Tidak mengonsumsi makan dan minum apapun mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari

Editor: bakri
Puasa Meningkatkan Kepedulian Antarsesama
FOR SERAMBINEWS.COM
ZULHELMI, Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Arab FAH UIN Ar-Raniry

BANDA ACEH - Setiap orang berpuasa akan merasakan lapar. Tidak mengonsumsi makan dan minum apapun mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Rasa lapar itu hendaknya bisa mengingatkan kita untuk lebih peduli terhadap sesama. Begitulah yang diajarkan Islam dibalik ibadah puasa Ramadhan yang dikerjakan selama sebulan penuh.

Keterkaitan antara rasa lapar puasa dan kepedulian terhadap sesama ini disampaikan oleh Dr Tgk Zulhelmi MHSc dalam program Serambi Spiritual, Jumat (23/4/2021). Tausyiah Ramadhan 1442 H merupakan kerja sama antara Serambi FM dengan Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI). "Serambi Spiritual Dialog Interaktif Ramadhan 1442 H" dipancarkan melalui Radion Serambi FM 90,2 Mhz, dan live streaming di Fanspage Serambinews.com, serta Instagram Serambi FM.

Dijelaskan Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini, berbagi terhadap sesama sebenarnya tidak membutuhkan momen atau waktu tertentu untuk dilakukan. Sebab, bentuk kepedulian terhadap sesama ini juga menjadi salah satu ajaran dalam Islam.

Yaitu dengan mengeluarkan sedikit hartanya untuk dibagikan pada saudara yang membutuhkan, baik dalam bentuk sedekah maupun zakat. Akan tetapi, bulan Ramadhan bisa menjadi momen yang tepat untuk mendidik dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama ini. "Sebenarnya memang tidak perlu momen untuk memberikan sebagian harta yang kita miliki untuk orang yang lebih membutuhkan. Tapi kadang karena dengan momen itulah yang jadi lebih terasa, lebih semangat. Dan orang yang menerima pun jadi lebih terasa," ujar Tgk Zulhelmi.

Seperti pada bulan Ramadhan ini. Waktu berbuka dan sahur merupakan momen yang pas untuk saling berbagi. Sebab di waktu-waktu itu, orang-orang membutuhkan makanan untuk berbuka dan makan sahur. Momen lainnya, yaitu pada waktu pagi Hari Raya dan juga waktu meugang yang jadi tradisi Masyarakat Aceh.

Jika berbagi apa yang dibutuhkan oleh mereka yang kesulitan pada momen-momen ini, kata Tgk Zulhelmi, maka akan lebih terasa manfaatnya bagi si penerima. "Itulah pentingnya momen, sehingga memang ketika kita memberikan memang lebih pas di momen-momen itu. Walaupun sebenarnya tuntutan agama tidak harus di waktu itu," katanya.

Sementara itu, ibadah puasa di bulan Ramadhan seharusnya bisa membuat kita umat muslim jadi lebih peka dan peduli terhadap sesama. Sebab, ibadah puasa bisa mendidik kita untuk menumbuhkan rasa kepedulian itu, salah satunya melalui rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa. "Cara menumbuhkannya, ketika kita merasakan lapar, kita harus mengingat, ternyata begini rasanya lapar," terang Tgk Zulhelmi.

"Kita masih beruntung ada stok makanan, nanti azan magrib kita bisa makan sepuasnya, walaupun ketika berbuka tidak boleh berlebihan atau balas dendam. Itu juga tidak dibenarkan," sambungnya.

Ketika merasa lapar saat berpuasa, lanjut Tgk Zulhelmi, saat itu harusnya umat muslim menyadari bahwa mereka baru merasakannya dalam waktu singkat. Sementara bagi saudara-saudara yang kesulitan dalam hal ekonomi atau sebagainya, mereka bisa sampai tidak makan dan minum selama berhari-hari. "Jadi dari situlah kita harus memupuk, bahwa ini adalah sebuah cobaan dan ujian, supaya kita bisa menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama," kata Tgk Zulhelmi.

"Dan itu memang ajaran Islam. Kalau tidak ada kewajiban berpuasa, maka orang-orang kaya tidak akan bisa merasakan bagaimana lapar, bagaimana haus, bagaimana lemah karena tidak makan," lanjutnya.

Tapi karena puasa di bulan Ramadhan, mereka yang memiliki kemampuan lebih jadi bisa merasakan kondisi demikian itu. Ditambahkan, jika puasa masih saja tidak membuat seseorang jadi lebih peka untuk peduli terhadap sesama, mungkin ada yang perlu diubah dari polanya ketika menjalani ibadah puasa.

Seperti misalnya perilaku gemar berbelanja atau membeli makanan yang banyak ketika berbuka puasa. Padahal, saat berbuka nanti tidak semua makanan itu habis dikonsumsi. Selain mubazir dan tidak membuat kita menumbuhkan rasa kepedulian, pola gemar berbelanja makanan saat berbuka itu juga tidak sehat. "Kata Nabi, 'shumu tashihhu', berpuasalah kalian, niscaya kalian akan menjadi sehat. bagaimana mau sehat kalau pola puasanya salah," pungkasnya.(yh)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved