Breaking News:

Opini

Momentum Spritualitas Ramadhan

Tamu agung yang ditunggu telah datang kembali dan saat ini kita sedang bersama dia. Mu'alla Bin al Fadhl

Momentum Spritualitas Ramadhan
IST
DR. MUNAWAR A. DJALIL, MA Pegiat Dakwah, Tinggal di Blang Beringin Gampong Cot Masjid, Banda Aceh

Dr. Munawar A. Djalil, MA

Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Cot Mesjid, Banda Aceh

Tamu agung yang ditunggu telah datang kembali dan saat ini kita sedang bersama dia. Mu'alla Bin al Fadhl menyebutkan bahwa orang orang saleh zaman dulu menunggunya selama enam bulan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Mereka menunggunya seraya berharap kepada Allah Swt agar mereka dapat berjumpa dengan Ramadhan. Sebab mereka sangat meyakini kehadiran bulan yang penuh berkah dan ampunan itu bakal menyempurnakan segala amal kebaikan sepanjang tahun.

Karenanya seorang Muslim yang beriman akan mempersilakan kepada Ramadhan untuk berbuat apa saja sebagai momentum spiritualitas yaitu ramadhan dapat memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (menyadari kesalahan dan dosa), interpersonal (memunculkan kepekaan sosial), dan transpersonal (keyakinan kepada Allah). Oleh karena itu, kemantapan spritual seseorang berbanding lurus dengan kualitas keimannnya.

Semakin menipis keimanan dalam jiwanya, maka semakin sering hatinya tergoncang. Apabila keimanan dalam jiwanya begitu dalam (kuat), maka hatinya akan lebih stabil dan akan tabah dalam menghadapi berbagai kondisi yang dialaminya. Ketika seseorang mengalami kesedihan akibat dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat, maka bisa jadi orang yang beriman akan menangis karenanya.

Bagi sebagian orang, menangis adalah hal hina yang menandakan kelemahan jiwa. Orang Yahudi selalu menyebut "cengeng" manakala mendapati anak-anak mereka menangis, dan dikatakan tidak akan mampu menghadapi musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis dalam pandangan mereka adalah hal yang hanya dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Berbagai anggapan di atas, tentunya tidak sepenuhnya benar. Bagi seorang Muslim yang mukmin, menangis merupakan kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap peristiwa yang menimpa diri maupun umatnya. Rasulllullah Saw meneteskan air mata ketika

ditinggal mati oleh anaknya yang bernama Ibrahim. Beliau mengatakan betapa sedih hatinya di tinggal anak itu. Padahal, kita semua tahu bahwa Rasullullah adalah sosok pribadi yang paling tegar dalam menghadapi cobaan hidup, baik fisik maupun mental.

Sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA digelari oleh anaknya Aisyah RA sebagai "Rajulun Bakiy" (orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya kerap bergolak manakala shalat di belakang Rasullullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah Bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada seseorang yang sedang membaca Alquran.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved