Breaking News:

Salam

Batasi Perjalanan!

Kepolisian bersama semua stakeholder, sejak kemarin (26/4/2021) memperketat pintu-pintu masuk dan keluar Aceh

dok Mulyadi
Petugas mengecek suhu tubuh pengendara di posko penyekatan/check poin perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara (Sumut) di depan Polsek Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil, Sabtu (24/4/2031). 

Kepolisian bersama semua stakeholder, sejak kemarin (26/4/2021) memperketat pintu-pintu masuk dan keluar Aceh. Setiap orang yang keluar atau masuk Aceh wajib menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19. Ini dilakukan sehubungan meningkatnya kembali kasus-kasus baru infeksi virus Corona di Aceh dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Data dua hari, ada 940 pasien postif Corona yang sedang dalam perawatan di rumah-rumah sakit maupun isolasi mandiri di tempat masing-masing.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid‑19 Aceh, Saifullah Abdulgani, merincikan, penderita dengan gejala sedang dan berat dirawat di rumah sakit, yakni 150 orang. Dari jumlah itu, 17 orang di ruang perawatan intesive care unit (ICU) dan 133 orang di ruang perawatan isolasi rumah sakit di seluruh Aceh. Kasus aktif paling banyak dirawat di rumah sakit rujukan utama di Aceh, RSUDZA Banda Aceh, mencapai 40 orang.

Data akumulatif kasus Covid‑19 di Aceh, per tanggal 25 April 2021, tercatat kasus Covid‑19 di Aceh mencapai 10.677 kasus/orang. Para penyintas yang sudah sembuh sebanyak 9.319 orang. Pasien dirawat sebanyak 940 orang, dan kasus meninggal dunia sebanyak 427 orang.

Dalam dua pekan terakhir, sebetulnya sejumlah daerah, bukan hanya, Aceh kasus infeksi Corona memang  meningkat. Di Aceh, pada Sabtu dan Minggu kemarin (24 jam) tercatat ada penambahan 24 kasus baru, sedangkan yang sembuh mencapai 111 orang. Kasus‑kasus positif baru meliputi warga Aceh Tamiang sebanyak 10 orang, dan warga Pidie lima orang. Selanjutnya warga Pidie Jaya, Aceh Besar, dan warga Banda Aceh, masing-masing dua orang. Selebihnya, satu warga Bireuen, dan dua lainnya warga dari luar Aceh.

Dengan kondisi semacam itu, selain berharap masyarakat dapat meningkatkan kepatuhan terhadapa protokol kesehatan serta melaksanakan vaksinasi Covid-19, kita juga sangat mendukung pengetatan penjagaan empat pintu masuk dan keluar Aceh. Dengan langkah ini, harapannya adalah penularan infeksi virus Corona di Aceh bisa ditekan dan kasus-kasus bawaan baru dari luar Aceh juga bisa tercegah.

Pengalaman selama ini, para pasien baru yang terjangkit Covid-19 umumnya memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah atau ke zona lain. Misalnya, dua pejabat Aceh Timur yang terinfeksi virus Corona baru-baru ini diketahui mereka baru melakukan perjalanan ke Banda Aceh. Demikian pula pasien-pasien baru kasus Corona di Abdya, juga memiliki riwayat perjalanan ke Banda Aceh yang kini dinyatakan sebagai salah satu Zona Oranye yang mendekati merah.

Sejumlah pakar kesehatan menyarankan pemerintah mempertimbangkan kemungkinan pembatasan wilayah yang lebih ketat, demi mengantisipasi pertambahan jumlah kasus. Namun demikian, mereka juga mengimbau jika tren penyebaran itu cukup pesat pada suatu wilayah, sehingga tidak lagi memungkinkan untuk menelusuri kasus, maka lockdown atau penutupan wilayah memang patut menjadi pilihan.

Setiap negara atau daerah, sebetulnya, sedang berhadapan dengan bom waktu jika gagal mengatasi penyebaran virus Corona yang sudah merenggut hampir 500 orang warga Aceh. Kegagalan mencegah berarti virus akan menyebar secara meluas, termasuk ke kawasan-kawasan terpencil.

Kita mestinya mengambil pelajaran berharga dari bencana Corona di India yang hari-hari ini beratus-ratus ribu orang meninggal tanpa mendapat perawatan karena rumah-rumah sakit sesak. Ledakan Covid-19 di India ini dinilai sebagai akibat sikap abai masyarakatnya terhadap protokol kesehatan. Makanya, sejak pekan lalu, Indonesia sudah menutup pintu bagi pendatang dari India.

Bila tahun lalu pemerintah masih ragu-ragu bertindak menutup wilayah karena takut  konsekuensi ekonomi, kini Pusat dan Daerah sudah berani mengambil langkah tepat dan cerdas. Demikian juga otoritas kampus yang kini berani menghentikan kuliah tatap muka dan mengaktifkan kembali kuliah secara daring atau online.

Demikian juga otoritas kabupaten dan kota harus berani menerapkan pembatasan pergerakan masyarakat secara mikro pada saat-saat yang tepat sesuai petunjuk dan perkembangan kasus Covid-19 di wilayahnya. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved